Masa kecil Niels dan Olivia
Semilir angin sore menampar lembut wajah dua anak remaja disana. Mereka asik menikmati perubahan langit yang kian meredup. Helai daun dan kelopak bunga pun berterbangan melewati mereka, beberapa bahkan ada yang hinggap di salah satu surai indah disana.
Surai gingernya nampak semakin berkilau beradu dengan pantulan jingga yang menghiasi danau. Pahanya ia biarkan sebagai bantalan anak laki-laki yang tengah tertidur santai, sedangkan jemari lentiknya sibuk menyulam sesuatu.
Gadis itu melirik sosok dipangkuannya dengan senyuman tipis. Jemarinya sesekali menyusuri Surai lembut anak laki-laki disana.
"Apakah begitu nyaman ?" tanya Olivia saat tidak mendapati sosok itu terus terdiam.
"Sangat,"
Perhatiannya teralihkan pada sosok dibawah. Lengan laki-laki itu ia gunakan untuk menutup wajah serta Ruby indahnya. Olivia meletakkan sulamanya ke sisi gadis itu, dekat basket piknik mereka.
Ia tersenyum sembari mengelus surai hitam itu sayang, "Katakan Niels apa yang telah kamu lalui hari ini ?"
Olivia menatap wajah tampan dipangkuan gadis itu menanti Ruby yang selalu ia sukai terbuka. "Tidak banyak, Ayah hanya terus membuatku kuat"
Dia paham apa yang dimaksud pemilik Ruby yang kini sudah terlihat, miliknya menatap lurus emeraldnya dengan dalam. "Lalu bagaimana keseharianmu Olivia ?" tanyanya balik.
Olivia senang ketika ditanya, wajah cerianya seketika terbentuk, memukau sosok dipangkuan gadis itu.
Dia bahkan membiarkan Niels memilin Surai gingernya yang panjang seperti biasa. Memainkan rambutnya yang terurai indah. Seperti suatu kebiasaan ketika dia akan mendengar seluruh cerita kesehariannya.
"Banyak. Aku dan Cassandra berencana untuk mengunjungi kerabat ibuku dan kami membuat berbagai macam hadiah."
Niels mendengarkan. Wajah itu begitu indah dari bawah sini. "Seperti sulaman itu ?"
Olivia mengangguk semangat, "Bagaimana ? Apa cantik ?"
Dia membawa sulaman yang telah ia buat ke hadapan anak laki-laki yang kini sudah terbangun. Rubynya menilai sulaman yang tidak ia pahami apa artinya dan jenis bunga apa yang gadis itu jadikan referensi.
Dia juga ingin sapu tangan yang seperti itu. Batin Niels remaja.
"Cantik. Bunga apa itu ?"
Olivia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sebenarnya dia juga bingung bagaimana bisa dia membuat bunga yang tidak ia ketahui namanya. "Aku membuatnya dari imajinasiku, bagaimana ?"
Niels memperhatikannya dengan lekat, bentuknya seperti mawar hanya saja berwarna hitam, merah dan ungu yang semakin membuat Niels bingung.
Melihat kerutan pada dahi sahabatnya itu, Olivia langsung menimpali, "Apa aneh ? Aih aku tahu ini pasti tidak bagus. Aku memang tidak sepandai Clarien," salah satu lady sepantaran Olivia yang terkenal akan sulamannya.
Niels mengalihkan perhatiannya dan menggeleng, "Tidak, ini bagus dan unik. Kamu lebih baik dari siapa itu-"
"Clarien ?"
"Ya, dia. Aku yakin bibimu akan menyukainya,"
Olivia tersenyum senang, dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari basket pikniknya. Sebuah sapu tangan lain berwarna hitam dengan sulaman mawar merah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Duke Carlov
Ficción históricaReina Stankof tidak pernah menyangka kalau dirinya kini masuk ke dalam tubuh seorang maid kepercayaan sang Tuan muda di mansion besar ini. Lebih parahnya lagi, dia masuk ke dalam tubuh maid yang cintanya pertepuk sebelah tangan dan harus mati tragis...
