Chapter 52 : Cousin (2)

2.8K 125 14
                                        

Happy Reading All






Royalty - cover by INKI





















Kedua bocah berusia 4 dan 5 tahun itu berjalan menyusuri taman samping kastil. Niels membututi sosok silver di depan sana dalam diam. Entah mau dibawa kemana dirinya bersama bocah kecil itu.

"Aku tidak habis pikir denganmu, Cousin."

Rupa bak bayi yang dipaksa menjadi dewasa karena gelarnya itu tidak habis pikir dengan bocak laki-laki yang langkah kakinya masih ia dengar hingga saat ini. "Bisa-bisanya kau tidak menyambut keluarga kerajaan dan bahkan terlambat untuk makan malam seakan-akan kau tidak perduli pada kami. Hah, jika kita bukan keluarga aku yakin kau akan kena hukuman penggal !" racaunya mengomeli Niels yang hanya diam merasa tidak bersalah, sedangkan Theo, anak itu sesekali melihat kebelakang dengan tatapan sebal.

Alasan dia datang terlambat adalah karena dia ingin mengetes sepupunya. Ternyata dugaannya benar, anak itu terlalu congkak dan menyebalkan. Tidak sabaran pula. pikir Niels dalam hati setelah mengamati kelakuan sepupu ajaibnya itu sehingga akan mudah bagi Niels untuk menyuapi egonya agar tujuannya cepat tercapai.  "Maafkan aku, Pangeran. Aku siap menerima hukuman darimu," balas Niels saat mereka sampai di dekat bangku taman.

"Ya, sudah seharusnya kamu aku hukum. Tapi karena aku adalah sepupumu yang baik aku tidak akan memberikan hukuman yang menyulitkan,"

Niels was-was dengan raut wajah licik di depan sana. Kepala kecilnya sedang memikirkan hukuman apa yang pantas untuknya.

Dia duduk di bangku taman membiarkan Niels berdiri di hadapannya.

Niels tidak mengatakan apapun lagi, dia hanya sibuk melihat pemandangan di sekeliling mereka sedangkan sang putra mahkota sibuk dengan pikirannya.

"Kau tahu aku akan menggelar pesta ulang tahun bukan ?" tanya Theo, bocah itu berhasil mengambil seluruh perhatian Niels.

Ruby cerah itu memandang kristal yang sama dengan miliknya. "Aku akan memberikan undangan pesta padamu dengan satu syarat,"

Niels terus memperhatikan sedangkan Theo masih memasang wajah penuh muslihat. "Kenapa ? Kau tidak mau datang ke acara sepupumu sendiri, Your Grace kecil ?" ejek Theo karena tidak mendapati bocah Carlov itu membalas tawarannya.

Mustahil bukan dia tidak tergiur dengan undangan pestanya ? Bahkan anak-anak bangsawan saja sangat penasaran dengan pesta yang akan dia gelar nanti. Bisa dibilang ini adalah pesta ulang tahun yang dia adakan sendiri. Ibunya mengizinkan Theo mengurus segala keperluan pesta sesuai seleranya.

Pesta ini adalah balas dendamnya. Dia akan membuktikan pada anak bangsawan yang selalu meremehkan dirinya bahwa dia ada di atas mereka. Hidup di lingkungan yang penuh persaingan membuat Theo belajar untuk menaklukkan bocah-bocah itu dengan taktiknya.

Jika itu diselesaikan ayahnya, mereka mungkin hanya akan membelot, sedangkan Theo tidak ingin hal itu terjadi. Anak-anak itu harus berada di dalam genggamannya. Dia tidak bodoh, dia tahu betul seorang raja tidak bergerak sendiri. Dia butuh boneka yang bisa dia tumbalkan dan itu harus berasal dari anak-anak menyebalkan itu. Dia akan menggunakan mereka sebagai tameng dan bawahan yang bisa dia buang kapanpun. Theo harus menundukkan mereka.

Duke CarlovCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang