Ekhem asupan weekend nih silahkan dieksekusi kawan !!!!
Malam ini 1 chapter dulu ya, tadinya mau langsung aku rilis 4 chapter tapi ternyata aku kerepotan editing bentrok sama job real life aku. Aku bayar utangnya besok aja ya hehehehe luv u
jangan lupa vote dan komentar manisnya cintah, sayang kalian banyak-banyak
ost :
Dusk Till Dawn - Zayn & Sia
Happy Reading All !!!!!! 🔥
•
•
•
Istana Redwick
Keempat pelayan disana sibuk menyiapkan perlengkapan pesta yang akan digunakan penerus raja mereka. Masing-masing melakukan tugasnya dengan cekatan tanpa ragu sedikitpun.
Sebuah jas merah dengan bordiran emas serta kemeja sutra yang terdapat kancing-kancing dibagian dada sudah bertengger manis menyelimuti manekin. Jas tersebut mencapai lutut dengan berbagai lencana yang bertengger hasil dari pencapaian pemuda tersebut. Disebelah manekin itu juga terdapat manekin lainnya yang mengenakan jubah berbulu yang akan dikenakan juga.
Theo dengan celana hitamnya dan dalam keadaan Shirtless menghampiri manekin tersebut. Ia mengambil kemeja sutra itu dan mengancingkan kancing yang ada dibagian depannya sedikit asal.
Seorang pelayan kemudian membantunya memakaikan jas yang diterima pria itu tanpa penolakan. Ia juga membiarkan mereka memasangkan lencana kerajaan yang berhiaskan batu permata serta merapihkan helai rambut silvernya.
Setelahnya, Theo mengambil sarung tangan putih dengan bordir emas bermotif kepala naga khas Redwick. Ia meminta semua pelayan keluar karena pria itu akan melakukan sisahnya sendiri.
Sepergian mereka, Theo barulah memasangkan batu sihir yang berbentuk mata kancing tersebut di kedua kancing baju tangannya. Tak lupa pula ia memasukkan Hunter ke dalam sarung pedang yang sudah bertengger manis disisinya.
Theo memandangi sepupunya lagi syukur-syukur pria tersebut sudah terbangun. Ketika ia menyibak tirai kelambunya, Theo masih juga belum mendapati sepupunya itu terbangun. Wajah gelisah Niels begitu kentara penuh ketakutan dengan ingatan-ingatan yang mungkin sedang menghantui pria itu.
Theo pun menghela napas panjang perihatin, "Sayang sekali, padahal ini kesempatan bagus untuk membalasmu, tetapi kenapa aku merasa tidak tega ?" Ucapnya sambil memegangi ujung selimut yang tersibak karena pria itu tidur sambil sesekali bergerak gelish, Theo membuang selimut itu seakan tidak perduli padahal selimut tersebut malah menutupi tubuh sepupunya itu dengan hangat.
"Istirahatlah Cousin, bangunlah ketika kau merasa lebih baik," ucap Theo kepada pria yang bahkan tidak mungkin menanggapi perkataannya.
Ia pun beranjak dari sana. Sesampainya di depan kamarnya, ia tidak lupa memberi perintah seperti sebelumnya kepada para penjaga kamarnya.
"Jaga kamar ini, jika ada sesuatu yang mencurigakan laporkan padaku,"
"Siap Pangeran !" balas mereka serempak.
Beberapa jam telah berlalu, kini kamar itu hanya dipenuhi keheningan dalam gelap. Tak ada cahaya sedikitpun yang menerangi ruangan tersebut selain cahaya yang terpancar dari bulan purnama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Duke Carlov
Ficción históricaReina Stankof tidak pernah menyangka kalau dirinya kini masuk ke dalam tubuh seorang maid kepercayaan sang Tuan muda di mansion besar ini. Lebih parahnya lagi, dia masuk ke dalam tubuh maid yang cintanya pertepuk sebelah tangan dan harus mati tragis...
