Happy reading
.
.
.
.
.
_____________
Virlin berjalan menyusuri beberapa tempat di sekolahnya, berharap menemukan keberadaan Farhan yang kata sahabat-sahabatnya, Farhan cemburu akibat dirinya membalas pesan cogan-cogan di ponsel miliknya.
Padahal apasalahnya kan? Virlin hanya membalas pesan bukan membalas perasaan. Lagi pula Farhan tak pernah mengungkapkan perasaannya pada virlin, lalu dimana salah virlin?
Virlin mulai lelah karena dirinya tak henti-hentinya berjalan, ia sudah menyusuri semua koridor, taman belakang, lapangan basket bahkan virlin sudah mencari ke ruang OSIS, berharap Farhan ada disana. Namun nihil, virlin malah tak menemukan sosok yang ia cari.
"Farhan asu! Gua harus cari kemana lagi sih.?" Ringis virlin, dirinya sangat-sangat lelah tertera dari keringat yang bercucuran dari pelipis gadis itu.
"Kalau begini mah, gua gak usah ngejar jing. Palingan nanti tu anak datang sendiri kekelas."
Walaupun dengan humpatan, virlin tetap menyusuri koridor, berharap menemukan sosok Farhan dari ribuan siswa/i yang berlalu lalang.
Hingga pada akhirnya virlin menyerah, dia berhenti di depan ruang musik. Virlin sempat berfikir apa Farhan ada didalam? Tapi buru-buru virlin menggeleng.
'gak mungkin lah, Farhan kan gak suka musik.' batinya.
Baru saja virlin hendak melangkah, namun samar-samar ia mendengar gosip adik kelasnya yang baru keluar dari ruang musik.
"Tumben yang kak Farhan masuk kesini?" Tanya adik kelas 1.
"Gak tau sih, tapi kayaknya dia lagi sedih gak sih? Keliatan dari wajahnya tadi."
"Kasian banget ya"
"Iyah, padahal tadi aku pengen nemenin kak Farhan. Eh buru-buru di usir."
"Lo kan tau! Kak Farhan itu gak mungkin suka sama Lo. Jelas banget lah tipe kak Farhan tu yang kayak kak Ayla dan gengnya!"
"Ah lu mah! Bukan di semangatin malah di buat insecure duluan."
Virlin mendengar obrolan kedua adik kelasnya yang baru bisa ia lihat wajahnya. Virlin menatap kedua gadis itu sinis, bisa-bisanya salah satu dari mereka menyukai Farhan. Virlin tidak akan rela! Ah tapi? Kenapa dirinya merasa cemburu saat mendengar adik kelasnya itu terang-terangan mengutarakan perasaannya. Virlin buru-buru menggeleng, lalu kembali menatap adik kelasnya itu dengan intens.
Kedua gadis itu yang tengah di tatap virlin dengan tatapan mautnya, mereka sungguh gelagapan. Mereka takut jika harus berurusan dengan kakak kelasnya itu, siapa yang tak mengenal virlin? Virlin yang terkenal dengan gelar crazy girl? Mana berani orang-orang mencari perkara dengan most wanted yang satu ini.
"A-ada apa ya kak?" Gugup gadis 1.
"Ka-k? A-ada yang bisa di bantu?" Gadis 2 juga menimpali, mereka sama-sama ketakutan dengan keberadaan virlin, jujur saja mereka lebih bersyukur jika tidak bertemu dengan keempat kakak kelasnya yang terkenal seanterio sekolahan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUKA LIKU AYLA
Jugendliteratur‼️ NO PLAGIAT ‼️ ⚠️ JANGAN LATAH!! JANGAN MEMBAWA-BAWA CERITA LAIN KEDALAM CERITA INI. MOHON JANGAN SAMAKAN CERITA INI DENGAN CERITA ORANG LAIN. CERITA INI MURNI DARI HASIL IMAJINASI SAYA SENDIRI ⚠️ HARGAI KARYA PENULIS, JANGAN LUPA VOTE & KOMENNYA...
