Happy reading
.
.
.
.
.
_________
Ayla menuruni anak tangga dengan santai, tak lupa dengan seragam sekolah yang sudah rapi ditubuhnya.
Ia berjalan menuju ruang Makan untuk sarapan. Perutnya keroncongan minta di isi karena dari kemarin dirinya belum makan.
Di ruang makan Ayla melihat sudah ada ayah, bunda, Zakara, Darel dan Dea disana. Sedikit kaget namun kembali memasang wajah datarnya, hingga akhirnya Ayla memilih duduk disebelah Zakara.
"Pagi sayang" sapa Jesika, tak lupa Jesika mengoleskan selai coklat di roti, lalu ia berikan kepada Ayla.
"Makasih bunda" jawab Ayla riang, dia merasa modnya untuk hari ini sedikit bagus.
"Pagi-pagi udah ngapel aja Lo disini" sindir Ayla sembari melahap roti miliknya yang sudah di sediakan Jesika tadi, dia tak menatap Darel sedikitpun.
"Lah siapa yang ngapel?" Tanya zakara bingung.
"Tu" tunjuk Ayla kepada darel menggunakan dagunya.
"Loh darel kan semalem nginap disini ay" jawab zakara.
"Lah? Ngapain? Mau jagain cicak dirumah gua?"
Darel yang di hujani dengan banyak pertanyaan menatap kesal ke arah Ayla. Bisa-bisanya gadis itu tidak ingat setelah membuat tubuhnya pegal semalaman akibat gadis itu tak kunjung melepaskan genggaman di tangannya. Sehingga dirinya harus menyuruh Dea mengantarkan seragam miliknya.
"Gu-"
"Semalam siapa sih yang nahan-nahan biar darel gak pergi, terus bilang 'jangan tinggalin aku" baru saja darel ingin menjawab pertanyaan Ayla, Jesika lebih dulu memotong dan meledek Ayla, darel menarik nafas pelan, ingin marah tapi dirinya takut nanti Jesika tidak merestuinya bersama Ayla.
Ayla menautkan kedua alisnya bingung sembari mengingat-ingat kejadian semalam.
Ayla mengetuk-ngetuk dahinya dengan jari telunjuk seperti tengah berfikir.
'lah? Kapan gua ngomong begono ya, perasaan gua adem ayem ngorok semalem, atau eh-' batin Ayla.
Sekarang Ayla ingat! Semalam dia ketiduran di pelukan darel. Tapi sungguh Ayla tidak mengingat kapan dirinya berkata seperti itu. Atau jangan-jangan dia mengigau? Dan Darel sudah tau siapa dirinya?.
"Lama banget mikir Lo" dengus Zakara jengah, sudah lima menit gadis di sampingnya itu bengong.
"CK, gak ingat gua! Udah ah, ngobrol dulu! Nanti aja makannya" titah Ayla.
Zakara melotot mendengar penuturan adiknya yang satu ini, tidak sia-sia dirinya memberi julukan bocah dodol, bisa-bisanya gadis itu membolak balikan kata-kata. Kalau saja guru bahasa Indo yang mendengar sudah di beri nilai E pasti.
"Apa Lo! Tuh mata minta di colok?" Ayla menyodorkan sendok garpunya ke arah Zakara.
Andreas yang sedari tadi hanya diam, menggeleng-geleng melihat tingkah anak-anaknya. Padahal sudah sama-sama besar tapi sifatnya melebihi anak TK.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUKA LIKU AYLA
Teen Fiction‼️ NO PLAGIAT ‼️ ⚠️ JANGAN LATAH!! JANGAN MEMBAWA-BAWA CERITA LAIN KEDALAM CERITA INI. MOHON JANGAN SAMAKAN CERITA INI DENGAN CERITA ORANG LAIN. CERITA INI MURNI DARI HASIL IMAJINASI SAYA SENDIRI ⚠️ HARGAI KARYA PENULIS, JANGAN LUPA VOTE & KOMENNYA...
