24

1.5K 133 50
                                        

Suasana pun hening, kedua pasang manusia tersebut hanya diam. Seonghwa yang tak menyukai kecanggungan ini pun akhirnya membuka suara dan bertanya pada Mingi tentang satu dua hal.

"Mingi, apa kau akan menetap di Korea? Atau kau akan kembali ke Swiss?" Mingi pun mengalihkan pandangannya dari Yunho yang sedang memegang kameranya.

"Tidak, aku hanya akam berada di Korea selama 2 pekan. Karena ku sudah hampir sepekan berada di Korea, jadi aku hanya memiliki waktu sepekan lagi sebelum aku kembali ke Swiss." Mingi menjelaskan pada Seonghwa yang kini terlihat bingung.

"Jadi kau akan kembali ke Swiss? Lalu bagaimana dengan Yunho? Apa kau akan meninggalkannya lagi?" Seonghwa memborbardir Mingi dengan banyak pertanyaan.

"Sayang.. Tenanglah dulu. Biarkan Mingi menjelaskannya satu per satu." Hongjoong meminta Seonghwa untuk tenang.

"Maaf." Seonghwa meminta maaf sebab ia sadar kalau dirinya terlalu banyak bertanya.

"Aku tidak bisa lama-lama berada di Korea sebab aku masih bekerja di Swiss, di tempat ku bekerja mereka hanya memberiku waktu 2 pekan untuk kembali ke Korea sebelum aku harus kembali ke Swiss untuk bekerja. Aku masih terikat kontrak kerja selama 2 tahun. Dan tentang Yunho mungkin Yunho akan menjelaskannya sendiri pada kalian." Mingi menatap Yunho yang kini menatap Seonghwa dan Hongjoong.

"Tentang itu.. Aku sudah memikirkannya beberapa hari ini, jadi aku akan ikut dengan Mingi ke Swiss, aku juga ingin mencari suasana baru untuk foto-foto ku. Pertengahan tahun depan akan diadakan lagi pameran, jadi aku akan membawa hasil jepretanku untuk dipajang pada pameran tahun depan di Seoul." Yunho menjelaskan pada Hongjoong dan Seonghwa yang kini terlihat sedih.

"Jadi.. Kau akan ikut ke Swiss? Berapa lama? Lalu aku dan Wooyoung bagaimana? Wooyoung bahkan belum tahu tentang kedatangan Mingi juga kabarmu yang akan ikut dengan Mingi ke Swiss. Jika kau pergi bersama Mingi berarti kau   hanya punya waktu sepekan untuk menjelaskannya ke Wooyoung." Yunho terdiam sesaat sebelum ia menjawab Seonghwa.

"Kalian berapa lama di Gwangju? Jika boleh, bolehkah aku dan Mingi ikut dengan kalian ke Seoul? Aku akan menjelaskan sendiri pada Wooyoung." Hongjoong dan Seonghwa saling bertatapan.

"Mungkin hanya sampai besok. Ikut lah kalian dengan kami. Aku akan mengantar kalian untuk bertemu dengan Wooyoung juga San. Dan... Mingi, apa kau ingin bertemu dengan Jongho dan Yeosang?" Hongjoong menatap Mingi. Mingi terlihat berpikir sebentar sebelum ia menganggukkan kepalanya.

"Aku akan menemui mereka. Aku ingin meminta maaf kepada mereka kedua kali nya. Jujur saja aku masih merasa bersalah pada Yeosang dan Jongho." Hongjoong mengangguk.

"Baiklah, aku akan menjemput kalian pukul 3 sore. Jika begitu aku dan Seonghwa pamit dulu, kami harus segera Check-In di Hotel yang sudah kami booking semalam. Kalian beristirahatlah. Mingi, terima kasih telah kembali dengan dirimu yang kini jauh lebih baik. Ku titip Yunho padamu." Hongjoong menepuk pundak Mingi. Mingi mengangguk.

"Terima kasih Hongjoong, Seonghwa sudah datang dan terima kasih juga karena kalian mau menerima ku kembali dan memaafkan semua kesalahan ku pada kalian." Mingi tersenyum.

"Aku sejujurnya masih kesal padamu, Mingi. Tapi mendengar usaha mu untuk sembuh, aku rasa kau memang bersungguh-sungguh untuk sembuh dan berubah menjadi dirimu yang lebih baik. Oleh karena itu jangan kecewakan aku dan Yunho lagi. Jika kau menyakiti Yunho aku akan patahkan kaki, tanganmu." Seonghwa sedikit mengancam dengan wajah sedikit kesal. Mingi hanya tersenyum dan mengangguk.

"Aku akan jaga kepercayaan kalian. Aku janji." Ucap Mingi, Seonghwa menghela napas lega.

"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu, jaga diri kalian oke?" Seonghwa menepuk pundak sahabatnya, Yunho mengangguk mengerti.

"Hati-hati kalian." Yunho memeluk Seonghwa sekilas.

"Jangan matikan ponsel mu, mengerti?" Ujar Seonghwa sebelum ia melambaikan tangan pada Yunho dan Mingi lalu menghilang dari balik pintu apartement.

Mingi menghela napas lega. Jujur saja ia pikir Hongjoong dan Seonghwa akan menghajarnya ketika mereka melihat dirinya berada di apartement Yunho. Yunho menatap Mingi.

"Kau lega sekarang?" Yunho bertanya pada Mingi. Mingi mengangguk.

"Tentu saja. Aku bahkan mengira mereka akan menghajar ku tapi ternyata tidak." Yunho tertawa kecil, Mingi menatap Yunho yang terlihat menggemaskan ketika tersenyum atau tertawa.

"Jika kau tertawa seperti itu, kau terlihat sangat manis dan menggemaskan." Yunho pun menghentikan tawanya dan menatap Mingi, namun tak lama semburat merah menghiasi kedua pipinya yang berisi.

"K-kau ini bicara apa. A-aku akan membersihkan lensaku dulu." Yunho yang salah tingkah pun berdiri dan langsung berjalan ke meja dimana ia menyimpan kameranya untuk ia bersihkan.

Mingi yang melihat tingkah Yunho pun terkekeh pelan. Siapa sangka orang sedingin Jeong Yunho ternyata memiliki sisi yang amat menggemaskan. Tak ingin banyak mengganggunya, Mingi hanya berdiri dan berjalan menuju dapur untuk membuatkan sesuatu yang hangat untuk mereka berdua.

Disisi lain Hongjoong dan Seonghwa yang kini telah sampai di hotel. Mereka pun segera membersihkan diri dan beristirahat sambil berbincang di atas ranjang mereka.

"Aku tak menyangka Song Mingi masih hidup dan ia kini telah berubah sangat drastis. Aku tidak tahu harus senang atau terkejut." Seonghwa menatap suaminya yang kini sedang memainkan rambut panjang miliknya.

"Aku pun tak menyangka sayang. Ini seperti keajaiban. Seseorang yang dulu dikenal brengsek, sekarang benar-benar berubah menjadi laki-laki yang baik. Kau lihat sendirikan cara ia berbicara dan bersikap pun sangat berbeda." Seonghwa mengangguk. Ia memainkan jari-jari Hongjoong yang terselip cincin pernikahan mereka.

"Aku sempat berpikir bahwa Song Mingi menabrak batu besar sehingga ia lupa ingatan dan menjadi orang baik." Ucapan Seonghwa membuat Hongjoong tertawa.

"Kau ini, ada-ada saja."

"Tapi aku benar-benar sempat berpikir begitu. Sebab ia benar-benar berubah sangat drastis. Walaupun penampilannya tak jauh berbeda tapi setidaknya ia tidak menggunakan aksesoris berlebihan seperti dulu. Dulu saat melihatnya aku seperti melihat toko perhiasan berjalan."

Seonghwa semakin membuat Hongjoong tertawa geli. Tapi benar apa yang dikatakan Seonghwa. Dulu Song Mingi dan aksesoris berlebihannya tak dapat dipisahkan. Sekarang Mingi terlihat lebih manusiawi dalam artian memakai aksesoris, tak seperti dulu yang jarinya dipenuhi cincin, juga gelang serta jam tangan mahal selalu menghiasi penampilan Mingi, juga kalung-kalung salib yang ia pakai. Untung saja Mingi tak suka memakai anting atau melakukan tindik.

"Tapi jujur saja, aku menyukai penampilannya yang sekarang. Ia terlihat lebih dewasa juga ia terlihat lebih hangat." Ujar Seonghwa, Hongjoong setuju akan itu.

"Kau benar sayang."

"Sayang?"

"Ya?"

"Apakah setelah Mingi selesai dengan pekerjaannya di Swiss kau masih ingin menjadikannya model untuk brand mu lagi?" Hongjoong terdiam sesaat.

"Jujur saja saat melihatnya aku ingin ia kembali, tetapi aku tak bisa memutuskannya sekarang. Dan semua tergantung pada Mingi. Tapi jika bisa aku ingin ia kembali menjadi model ku." Jujur saja hanya Song Mingi yang benar-benar memenuhi kriterianya.



Tbc
Hai happy reading ya
Jangan lupa vote dan comment
(*´︶'*)♡Thanks!
-voyez

TbcHai happy reading yaJangan lupa vote dan comment(*´︶'*)♡Thanks!-voyez

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aduh aduh cakep banget

MonocromaticTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang