35

1.7K 122 123
                                        

Yeosang menatap pria yang selama ini ia rindukan. Choi Jongho. Sejak kapan ia di Jepang? Dan kenapa dia berada disini. Banyak sekali pertanyaan dalam kepala Yeosang. Namun pertanyaan-pertanyaan itu tak dapat terucap sebab Jongho kini tengah berlutut di hadapannya yang sedang terduduk di sebuah bangku kayu kemudian menghapus air mata Yeosang dengan tissue yang ia pegang.

"Hai.. Sudah lama kita tidak bertemu. Aku telah menunggumu." Ucapan Jongho membuat Yeosang bingung.

"Menungguku?" Jongho mengangguk.

"Seonghwa hyung mengatakan padaku bahwa kau akan ke Jepang, jadi aku menjemputmu. Maaf aku tak memberimu kabar. Aku benar-benar sedang menenangkan pikiranku dan aku mencoba merefleksikan tindakanku. Seonghwa hyung sudah menceritakannya semua padaku. Maafkan aku Yeosang, selama ini aku tak mengerti perasaanmu. Aku malah memojokkanmu dan beranggapan kau masih menyimpan hati padanya, padahal kau sudah jelas-jelas tak ingin membahasnya. Maafkan aku. Aku salah, aku banyak menyakiti perasaanmu." Jongho menggenggam tangan Yeosang dan mengecupnya.

Jongho mengusap pipi Yeosang. Ia menatap netra kecoklatan milik Yeosang yang sangatlah indah dan juga wajah ini. Wajah orang yang selalu ia rindukan, wajah yang selalu mengisi isi kepalanya setiap harinya. Ia tak menyangka ia dapat bertemu kembali dengan Yeosang, setelah ia merasa Hongjoong dan Seonghwa mencoba memisahkan dirinya dengan Yeosang. Namun ia tahu, itu tidak benar. Mereka melakukan itu demi kebaikan dirinya dan juga Yeosang.

"Aku merindukanmu, Yeosang." Ketika ucapan itu keluar dari mulut Jongho, Yeosang tak kuasa menahan tangisnya, ia pun sungguh merindukan Jongho. Yeosang pun berhambur kepelukan Jongho dan memeluknya erat.

"Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf. Aku sangat mencintaimu Yeosang, sangat." Jongho pun memeluk Yeosang erat. Ia pun tak bisa menahan air matanya, ia sangat merindukan kekasih cantiknya ini. Hidup tanpa Yeosang bagai hidup tanpa arah.

"Jangan tinggalkan aku lagi hiks, jauh darimu membuat hatiku sakit. Merindukanmu yang menghilang begitu saja begitu menyakitkan. Aku tak ingin kehilanganmu Jongho hiks." Jongho mengusap punggung Yeosang. Jongho mengangguk.

"Aku janji tak akan meninggalkanmu, dan aku berjanji tak akan menyakitimu lagi Yeosang. Kau segalanya bagiku." Jongho mengecup pucuk kepala Yeosang.

Mereka pun memutuskan untuk pergi ke penginapan dimana Jongho tinggal. Yeosang tak menyangka Seonghwa merencanakan ini semua. Mungkin ia harus berterima kasih nanti pada Seonghwa. Sekarang ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan kekasihnya, Jongho.
-----------------------------------------------------------------
Pagi pun tiba dan kedua pria tinggi yang masih terlelap itu akhirnya membuka mata mereka perlahan. Yunho menutupi tubuh telanjangnya menggunakan selimut, wajahnya memerah mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Mingi menatap wajah Yunho yang kini pipinya memerah karena malu. Mingi hanya tersenyum mengingat bagaimana Yunho yang ia lihat semalam sangat berbeda dengan yang ia lihat sekarang.

"Kenapa hm? Apakah kau malu?" Mingi mengangkat dagu Yunho dengan jari besarnya.

"Tidak. Siapa bilang aku malu." Yunho mempertahankan harga dirinya.

"Hmm... Tapi sepertinya semalam kau sangat menikmatinya, bahkan kau berada diatasku dan menggoyangkan bokongmu dengan liar." Mingi sedikit menggoda Yunho dengan satu tangannya meremas bokong sintal milik Yunho dan itu membuat Yunho terkejut dan memukul dada Mingi karna malu.

"Kau menyebalkan!" Yunho tak tahu harus bersembunyi bagaimana lagi, sebab memang semalam ia begitu liar, entah apa yang merasukinya, ia sendiri tak menyangka bahwa ia akan bertindak seliar itu. Sama sekali tidak seperti Yunho.

"Hei... Tapi kau penuh kejutan Yunho. Aku tak menyangka orang setenang dan seintrovert dirimu ternyata memiliki sisi liarmu seperti semalam. Tapi.. Aku bersyukur karena aku adalah satu-satunya orang yang dapat melihatnya." Mingi menatap Yunho dengan intens dan membuat Yunho sedikit salah tingkah karnanya.

"Berhentilah menggodaku. Aku malu." Gumam Yunho lalu ia menutupi wajahnya dengan selimut.

"Sayang.. Tidak perlu malu, aku sudah melihat semuanya dan kau juga sudah melihat semuanya, jadi tak perlu malu hm?" Mingi menarik Yunho ke dekapannya dan membiarkan Yunho menenggelamkan wajahnya pada dada bidang miliknya yang sudah dipenuhi oleh tanda kepemilikan Yunho dan begitu pun sebaliknya.

10 menit mereka masih memeluk satu sama lain dan kemudian Mingi menggendong Yunho untuk membersihkan diri mereka sebab Yunho tak dapat berjalan, sekujur badannya terasa sakit dan kakinya terasa lemas. Keduanya berendam di dalam bathtub dan Yunho bersandar pada dada bidang Mingi.

"Apa masih sangat sakit?" Mingi mengusap kepala Yunho yang kini telah basah terkena air. Yunho mengangguk.

"Aku bahkan tak bisa merasakan kakiku. Dan pinggangku rasanya akan lepas." Mingi memijat pinggang Yunho agar terasa lebih baik.

"Kalau begitu kita di rumah saja hari ini." Mingi mengecup leher Yunho.

"Tapi aku ingi memotret keluar. Aku belum memfoto apapun selama disini." Ucapan Yunho membuat Mingi berpikir sejenak.

"Baiklah, besok akan ku temani kau memotret keluar. Tapi untuk hari ini kau istirahat saja di rumah, bagaimana?" Yunho menatap Mingi.

"Memangnya besok kau tidak pergi bekerja?" Mingi tersenyum dan menggeleng.

"Aku bisa izin sehari untuk menemanimu."

"Apa tidak apa-apa? Kalau mereka memotong gajimu bagaimana?" Yunho merasa tak enak hati jika Mingi harus izin dari pekerjaannya.

"Tidak apa sayang, mereka pasti memberikan izin. Lagi pula hanya sehari." Mingi mengecup bibir Yunho.

"Baiklah jika begitu." Yunho memainkan jari-jari besar milik Mingi. Ia memiliki jari-jari yang panjang. Tetapi Mingi selain memiliki jari-jari yang panjang, ia memiliki tangan yang sangat besar, berbeda dengan Yunho yang cenderung lentik.

"Kenapa hm?" Mingi melihat Yunho yang sedang mengukur jari tangannya di tangan Mingi.

"Selama ini aku tak pernah bertemu dengan seseorang yang memiliki jari-jari yang lebih besar dari ku. Tapi ternyata kau memiliki jari yang besar dan panjang."

"Tinggi badanku 192cm jika kau tahu. Kau bahkan melihat milikku semalam. Jadi seharusnya kau tak heran bukan dengan ukuran tanganku." Yunho memukul lengan Mingi.

"Tak ada hubungannya dengan itu, tuan Song Mingi." Mingi terkekeh.

"Kau ini kenapa menggemaskan sekali hm?" Mingi mengecupi pipi, leher serta pundak Yunho.

"Geli Mingi!" Leher Yunho merupakan salah satu titik sensitifnya.

"Tapi kau menikmatinya bukan?" Suara rendah Mingi pada telinga Yunho membuat bulu kuduk Yunho berdiri seketika. Suara itu seperti aliran listrik yang mengenai tubuhnya.

"K-kau ini. Berhentilah bercanda."

Mingi hanya tersenyum dan memeluk Yunho dari belakang sambil menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Yunho yang kini hanya bisa pasrah. Sebab mau sekuat apapun tubuhnya menolak tapi akan berakhir Yunho membiarkan Mingi memeluknya, karena perbandingan tenaga mereka yang tak sebanding.

Mingi selain memiliki tubuh yang atletis, dirinya memiliki tenaga yang cukup kuat untuk tak membiarkan Yunho lolos dari dekapannya. Yunho mengusap lembut rambut Mingi dan mengecup kening Mingi, membuat Mingi memberikan kecup-kecupan lembut pada leher Yunho yang kini penuh dengan tanda kepemilikan darinya.


Tbc
Hai happy reading ya
Jangan lupa vote dan comment
(*'︶'*)♡Thanks!
-voyez

TbcHai happy reading yaJangan lupa vote dan comment (*'︶'*)♡Thanks!-voyez

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yunho watermarknya segede gini. Pantes aja anteng dipangku, dipeluk, dicium juga betah-betah aja.

MonocromaticTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang