"Kau tidak berhak berbicara APAPUN tentang anakku."
Anggara menunjuk dua orang lain yang ada di hadapannya, menyembunyikan Agra yang tertidur. "Tapi Anggara, kamu itu Anggara Aresta, milik keluarga Aresta." Wanita itu mencoba mendekati Anggara.
"Aresta? Siapa Anggara Aresta? Aku Arbeid Anggara Diasa. Tidak ada yang memiliki ku atas hak tubuhku sendiri kecuali aku dan Tuhan. Kalian siapa? Aku tidak kenal dengan Anggara Aresta."
Anggara menutupi wajah Agra dengan selimut lalu menyerahkan Agra pada Lynx yang memegang senjata. Lynx menggendong Agra, memberikan senjatanya pada Anggara.
Anggara mengambil peluru di kantungnya, mengisi pistol kosong itu dengan dua peluru. "Jika kalian tidak ingin pergi, mari kita lakukan permainan Russian Roulette." Anggara menekan senapannya beberapa kali.
Dan kosong. "Berapa?" Dua orang itu bergetar. "T-tiga?" Anggara menarik senapannya sebanyak tiga kali dan tembakan pertama melayang.
Tubuh pria tua itu terjatuh dengan darah dan kepala yang berlubang. "Suamiku!! Kamu Anak Yang Durhaka Anggara!!" Anggara langsung melepaskan senapannya di kaki wanita itu.
"K-kami orang tuamu Anggara. Tega sekali dengan kami" wanita itu mengeluarkan air matanya sembari melirik Anggara.
Wajah Anggara menggelap. Ia masih baik hanya menembak kaki wanita itu, belum membunuhnya. "Padahal aku mengasihi mu, Ibu tapi sepertinya kau tidak ingin dikasihani" Anggara mengisi lagi pistolnya.
"Mari kita bermain lagi..."
"Berapa?"
"L-lima..."
Lima kali senapan itu berbunyi, Anggara tersenyum.
"Berapa?"
"D-dua"
Di tembakan pertama, wanita itu langsung tergeletak dengan kepala yang juga berakhir sama. Berlubang.
Anggara bersiul, ia menyentuh tubuh kaku Orang Tuanya menggunakan kaki, menggoyangkan paha wanita itu merasakan jika ia sudah mati.
Anggara menyeret wanita itu menggunakan tali, ia jijik jika harus menyentuhnya. Ia lakukan hal yang sama pada pria yang satunya.
Lynx pergi dari sana setelah Anggara mengajak Orang—ekhem Mantan Orang Tua Tuannya bermain Russian Roulette tadi.
Ia tidak ingin Tuan Kecilnya melihat hal se-traumatis itu.
Anggara kembali dengan pakaian baru dan wangi parfum menguar darinya, "ini Tuan Kecil" Anggara menerima Agra yang masih tertidur.
Membuka bajunya lalu membiarkan Agra terlelap dengan putingnya di mulut Agra.
Lynx sudah membalikkan badannya, takut Sang Tuan tidak nyaman menyusui Agra. Anggara mengetuk sepatu pantofelnya di lantai sebanyak tiga kali sebelum ia melempar pistol Lynx.
Lynx menangkapnya tanpa banyak kendala, ia tau arti dari kode itu.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
Yoi brow, akhirnya selesai nih chapter. Kagak tahan bjir Hiatus lama lama wkwkwk
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
RandomBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
