XXXII

766 35 2
                                        

Entah apa yang terjadi diantara Agra dan Arson, yang Anggara tau Agra sudah menangis dengan Arson yang mengejarnya di belakang dengan wajah panik.

Sekarang anak itu menenggelamkan wajahnya di perut Anggara masih dengan sesenggukan dan isak tangisnya.

Di ujung ruangan, ada Arson yang duduk dengan kaki terlipat dan kedua tangan di paha dengan kepala menunduk.

Ia tau ia salah.

Anggara mencoba memanggil Arson agar mendekat namun Agra mengamuk, ia menendang nendang Anggara pelan.

"Nggak boleh nendang nendang Abang, nakal kamu?"

Agra kembali meraung, ia mencengkram sweater Anggara hingga kusut. Anggara menghela nafas "sini Arson" Arson mendekat.

Ia masih dengan posisi yang sama, kaki terlipat, wajah menunduk, dan tangan di kedua paha. "Bisa jelasin, Arson?" Arson mengangguk.

"T-tadi ada tukang es krim, terus kan Agra mau nggak Arson bolehin, tapi dia marah katanya boleh sama Abang, makanya Arson tadi mau nanya Abang dulu, kata dia jangan terus begitu deh."

Anggara menghela nafas, "kamu kalau mau es krim bilang, Sayang. Angga bolehin kok" Agra memeluk Anggara erat, ia masih sesenggukan.

"Kamu kalau mau beli apa apa bilang, biar Angga kasih duitnya, kalau kamu nggak bilang gimana Angga tau, Sayang" Agra semakin erat memeluk Anggara.

"Hiks... maaf-uhuk! *Sniff-maaf..." Anggara tersenyum, "iya, Angga maafin. Gih beli es krim sama Arson, ajakin yang lain sama Lynx" Agra bangkit dari duduknya di paha Anggara lalu mendekati Arson.

"Arson... Maaf hiks" Arson tersenyum, "iya" Agra merengut, "TUHKAN... ARSON MASIH MARAH HUWEEEEE" Arson tertawa. Ia bangkit lalu memeluk Agra.

"HAHAHAHA-hah...HAHAHAHA" Anggara terkekeh. Ia melihat Arson seperti anaknya sendiri dan kakak bagi Agra.

Mungkin akan ia pikirkan dan dengan persetujuan Agra.

Arson mengambil uluran tangan Agra lalu berjalan bersamanya. Lynx memarkirkan mobil Anggara di supermarket terdekat.

Sebelum keluar untuk membuka pintu. Agra memegang tangan Arson dan Gelang, Gelang menggandeng Harsya di tangan kanannya Arson juga menggandeng Zefran di tangan kirinya.

Mereka berlima masuk diikuti Lynx. "Lynx, boleh beli es krim kan?" Lynx mengangguk "boleh Tuan Muda." Agra mengambil es krim yang ia mau dan menyarankan rasa yang enak pada yang lainnya.

Lynx juga ia belikan tentu. "Arson~ yang dirumah ada berapa orang?" Arson mencoba mengingat ingat "mungkin ada 250 orang, sisanya masih bayi" Agra mengangguk.

Mereka mengambil beberapa kotak ice cream disana dengan persetujuan Lynx tentunya. Lynx menekan pin Anggara untuk membayar semuanya.

Mereka kembali di mobil, Agra yang sedang memakan Kik* membagi miliknya. "Lynx mau?" Lynx menggeleng "tidak terimakasih, Tuan Muda" Gelang mengangkat tangan "aku mauuu" Agra membagi dua miliknya lalu memberinya pada Gelang.

"Arson mau?" Arson mengangguk, Agra mengulurkan tangannya mengambil es krim di kursi paling belakang.

Namun sebelum tangannya sampai kebelakang, es KIK* miliknya sudah di gigit Arson. "Arson~" Arson terkekeh "maaf" Agra merengut tapi tetap memakan esnya yang sisa separuh itu.

Harsya menyodorkan es krim coklat miliknya "... Agra mau?" Agra memajukan wajahnya, ia melahap es krim itu lalu mengecap rasanya.

'enak.'

"Makasih..."

Harsya mengangguk, ia kembali memakan es krimnya sembari bersandar pada Zefran. Mobil tidak lama kemudian sunyi. Lynx menengok ke belakang, melihat kelimanya tertidur.

Lynx menggeleng lalu kembali fokus pada jalanan.

Mereka sampai di rumah, Lynx membuka pintu secara perlahan lalu membuka bagasi, ia mengeluarkan beberapa kardus es krim lalu membawanya ke dalam.

Jam segini biasanya adalah jadwal untuk anak anak asuhan Azam tidur, jadi rumah sepi dan sunyi.

Lynx membuka pintu, melihat ada Anggara dan Azam sedang mengobrol. "Ini pesanan Tuan Kecil, Tuan." Anggara mengambil kotak berisi es krim lalu Azam memasukkan ke kulkas yang baru dibelikan Anggara kemarin.

"Masih ada, Lynx?" Lynx mengangguk "masih ada tiga kotak lagi, Tuan" Anggara memakai sendalnya lalu ikut mengangkat kardus berisi es krim itu.

3 kardus sudah diangkat dan sisa Agra dan yang lainnya. "Harsya, bangun" Harsya bergerak pelan sebelum membuka mata.

"Abang?" Anggara tersenyum, "bangun Harsya, udah sampe rumah" Harsya perlahan keluar dari mobil diikuti Zefran.

Disisi lain, ada Gelang dan Arson yang mengapit Agra. "Arson, bangun" Arson menatap tajam Anggara sebelum kembali merubah tatapannya menjadi datar ketika menyadari mereka tidak dalam bahaya.

"Maaf" Anggara tersenyum "nggak papa, bangunin Agra sama Gelang ya? Abang mau ke dalam dulu" Anggara meninggalkan mereka bertiga di sana melihat Harsya dan Zefran malah tertidur di sofa.

"Harsya, Zefran, bangun. Tidurnya di kamar" Zefran yang ditimpa Harsya perlahan membuka mata, melirik Anggara dengan mata sayunya.

"Pindah ke kamar, Zefran." Zefran bangkit sembari memeluk Harsya. Ia berdiri lalu membawa Harsya di gendongannya.

Arson masuk ke rumah dengan Gelang yang ia gandeng dan Agra yang digendongnya. "Masuk kamar ya Bang" Arson memasuki kamarnya dan Agra.

Ia memakaikan popok pada Agra karena tidak mungkin anak itu akan bangun untuk ke kamar mandi, ia membiarkan Agra tak memakai celana lagi, hanya kemeja miliknya yang tadi digunakan dengan celana yang sudah tanggal.

Gelang yang masih mengantuk akhirnya memilih untuk tidur di pojok dekat dinding, Arson menaruh Agra di tengah tengah lalu menidurkan tubuhnya di samping Agra.

Tubuh Agra kembali diapit keduanya, Arson menarik selimut lalu menyelimuti mereka bertiga. Untungnya kasur lumayan besar dan bisa memuat mereka bertiga.

Arson menatap Agra lalu memegang kedua tangan anak itu yang terasa dingin. "Tidur yang nyenyak."

Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat

Nama: Harsya
Umur: 19 Tahun
Tanggal Lahir: [Unknown]
Tanggal Adopsi: 13/11

Nama: Zefran
Umur: 19 Tahun
Tanggal Lahir: [Unknown]
Tanggal Adopsi: 13/11

AsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang