"mau nenen~!"
Agra rewel sekali hari ini, merengek, mengamuk, dan tidak bisa didekati. Anggara tentunya mendiami saja hingga Agra tenang sendiri.
Namun Agra tetap tidak tenang setelah 3 jam meraung raung, ia ingin nenen tetapi tidak mau disentuh.
Ia tidak mau menggunakan botol dot, dan tidak mau dari puting Anggara. Anggara yang kebingungan akhirnya membiarkan saja anaknya meraung di ruangan kerjanya ini.
"Huhuhu, Angga jahat sama adek-huks, Angga jahat... Uhuk!" Anggara ingin tertawa sebenarnya, Agra lucu sekali.
Namun berhasil ia tahan. "Adek, sini." Agra kembali meraung kencang. Anggara menghela nafas lelah.
Ia bangkit dari kursinya, menggendong Agra yang malah mengamuk dan mulai memukuli Anggara.
"Udah sayang, udah ya? Hmm? Kenapa sih, aduh sayangnya Angga lagi rewel, kenapa hm?" Anggara menepuk nepuk pelan punggung Agra yang basah akan keringat.
"Kenapa sayang? Gerah ya? Buka bajunya ya? Pake daleman aja" Agra tak menjawab namun tangannya menarik narik ujung pakaiannya.
"Iya sayang, bentar ya. Dibuka dulu" Anggara membuka pakaian Agra hingga menyisakan singlet yang basah dengan keringat.
"Ngantuk ya?"
Agra mengangguk masih dengan sesenggukan, Anggara menghela nafas lega. Setidaknya ia tau alasan Agra mengamuk.
"Iya, tidur ya sayang. Nggak enak ya badannya" Agra memeluk leher Anggara, menyamankan dirinya.
Anggara mengelus punggung Agra yang terasa hangat. Ketika Agra terlelap, Anggara kembali duduk di kursinya.
Mengambil kompres penurun panas dari dalam laci meja kerjanya, lalu memasangkannya ke Agra.
Ketika Agra bergerak dengan tidak nyaman, Anggara kembali menepuk punggung dan bokong Agra.
Anggara akhirnya kembali bekerja dalam diam. Ketika sudah jamnya untuk meeting Anggara tidak bisa meninggalkan Agra di ruangannya.
Jadi ia menggendong Agra menggunakan kain sling di pinggangnya.
Anggara tentu mencoba untuk membuat Agra tidak rewel selama rapat. Walau ia adalah CEO di sini, tetapi ia tetap tidak enak jika Agra tantrum lagi.
"Shh kenapa sayang? Hum? Mau num num?" Agra diam, menatap Anggara dengan mata sayu.
"Mpeng..."
Anggara menarik mpeng Agra yang tergantung di lehernya lalu memasukkannya ke mulut Agra.
"Udah ya sayang? Shh shh shh hush, my child, gentle now, go to sleep, in your dreams you'll run and play in paradise" Agra tak lama kembali tertidur.
Rapat pun berjalan dengan tenang. "Baik, mungkin untuk rapat kali ini cukup. Terimakasih atas perhatiannya."
Semua orang pun keluar dari ruangan rapat, kecuali Anggara. "Anda tidak keluar, Tuan Diasa?" Anggara menggeleng.
"Nanti saya keluar, tidak apa. Tinggalkan saja."
Orang terakhir itu pun keluar, Anggara menghela nafas lega. Ia lelah, tubuhnya mundur untuk bersandar di kursinya.
Pinggangnya sakit akibat duduk terlalu tegak. "Akhirnya selesai..." Lirihnya, Anggara menahan bokong Agra lalu bangkit dari kursinya.
"Astaga, pinggangku sakit sekali..." Lirihnya seraya mengelus pinggangnya. Ia pun melangkah kembali ke ruangannya untuk pulang.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
Maafkeun udah lama tidak update🙏🏻 sibuk pol akunya hehe
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
De TodoBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
