Arson membuka mata, ia terkejut melihat alarm disampingnya berbunyi. Anak itu bangkit, ia dengan kasar menyibak selimut.
Menatap tubuhnya yang kembali mengecil, sialan. Ia kembali ke masa dimana ia masih berada di keluarga bangsat itu.
Arson mengecek jam yang ada di kamarnya, pukul 7:00. Arson berlari ke arah pintu membuka pintu kamarnya lalu menerjang orang yang ada di hadapannya.
"Mati... Mati... KAU HARUS MATI AREKSA!" Arson dengan membabi buta memukuli kepala keluarga itu.
Anak itu mencekik si kepala keluarga, sebelum kembali memukulinya. "MATI! KAU MEMBUAT ANGGARA SENGSARA! KAU HARUS MATI!" Tangannya semakin brutal memukuli wajah yang sudah tidak berbentuk.
Arson menatap orang yang berdiri di sampingnya, menatapnya dengan tatapan penuh benci dan rasa jijik yang semakin terasa naik hingga sampai ke tenggorokannya.
"KAU! ADALAH ORANG YANG MELAHIRKAN ANGGARA! DAN KAU JUGA YANG MEMBUANGNYA! KENAPA?!" Arson tidak memberikan waktu untuknya menjawab.
Terus memukulkan kepala itu ke lantai, sebelum merasakan jika ada moncong pistol menempel di tengkuk lehernya.
"Hm?" Ia berbalik, mata kosong dan matinya itu melirik ke arah pistol. "Apa ini? Kau ingin menggertak ku? Hey, aku tidak takut dengan pistol tak berisi seperti itu, sini aku isikan. Kau menyedihkan" Arson mengambil pistol itu lalu mengisinya dengan peluru yang ia bawa.
Ia mengecek pistolnya dan mulai menembak asal ke lantai untuk mengetesnya sebelum menaruh moncongnya di leher.
"Nih, tembak."
Orang itu dengan tangan bergetar mengambilnya, ia tidak bisa melawan perintah Arson. Dan peluru pun ditembakkan.
Gelang terbangun akibat guncangan dari sebelahnya, ia membuka mata menatap sekitarnya. Tempat ia meregang nyawa.
Ia memiliki misi untuk menembak seseorang yang penting. Namun karena kegagalannya ia yang dibuang. Gelang mengisi senapannya lalu menembaki bodyguard yang berjaga.
Sebelum ia membuang pelurunya dan secara sengaja membuat suara. Suara pistol yang menembak membuat Gelang membeku sebelum tubuhnya yang kaku terjatuh dari lantai 30 dan mimpi berakhir disana.
Agra membuka mata. Melihat jelas jika pandangannya sangat tinggi. Ia melihat Anggara ada disana. Tubuhnya tanpa bisa ia kontrol berlari ke arah Anggara, memeluknya erat.
Namun tubuhnya tiba tiba berpindah tempat. Pintu rumah. Ia berada di rumah Aksara. Pintu terbuka menampilkan seseorang yang dipanggil 'Ayah' oleh Aksara.
"Tumben sekali Ayah sepertimu menyambutku" tak lama Agra merasakan jika lehernya patah akibat ayunan kapak ke arahnya. Dan pandangan gelap.
Mimpi berhenti disana.
Perjalanan kali ini selesai dan saatnya beristirahat
Wkwkwk flashback dikit lah
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
De TodoBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
