Gelang terbangun secara tiba tiba, ia menatap Alfaro yang baru membuka pintu kamarnya. "Opa... Angga mana?" Alfaro mendekati Gelang "Angga berada di kantor, dia akan kembali sebentar lagi" Gelang mengangguk.
Ia menatap Alfaro, "Opa... peluk" Alfaro terkekeh. Ia mendekati Gelang, melepas sepatunya lalu menaiki kasur untuk memeluk Gelang.
"Pangku.." Alfaro kembali tertawa, "manja sekali" Gelang mengerucutkan bibirnya. "Sekarang jam berapa, Opa?" Alfaro mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya "Jam 18:42" Gelang mengernyit.
"Itu jam berapa?"
"Jam 6:42, Gelang" Gelang mengangguk paham. Ia kembali menyandarkan dirinya di dada Alfaro, tanpa sadar memainkan jari jari Alfaro yang memang lebih besar dari tangannya.
Ia menekan nekannya, memencetnya, bahkan memijatnya tanpa sadar. Alfaro hanya menatap saja, melihat jelas wajah cucunya itu serius sekali dengan tangannya.
"Gelang tidak ingin makan?"
"Ada apa?"
"Ada bubur abalone, sama ayam pake kuah rempah gitu" Gelang mengangguk "mau" Alfaro menggendong Gelang lalu membawanya turun.
Ketika sudah sampai, ia berniat menghangatkan makanan Gelang. Sebelum Anggara kembali, "kau pulang tepat waktu, Anggara. Saya hampir saja meledakkan rumah ini" Anggara mendelik.
"Dah dibilangin jangan deket dapur! Udah tau gak bisa pake microwave, apalagi pake kompor, meledak satu kota"
Alfaro terkekeh, "jahat sekali kamu" Anggara semakin mencebik "kalo aku jahat, kakek udah aku tendang dari rumah ini!" Alfaro semakin tertawa.
"Gelang mau makan apa?"
"Bubur." Anggara mengangguk, ia memanaskan bubur yang sudah mendingin itu lalu menghangatkan sup ayam yang ia buat.
"Hati hati panas ya" Gelang dengan perlahan memakan makanannya. Alfaro merebus tehnya di teko menunggu hingga isinya meletup letup lalu menuang air panas itu ke dalam teko tea set nya.
Ia membawa teko dan cangkir antiknya ke ruang tengah, lalu meminumnya dengan perlahan, menikmati rasa tehnya yang kuat sembari membaca koran.
"Opang...."
Alfaro menoleh, menurunkan koran yang ia baca lalu mengulurkan tangan untuk menggendong Gelang.
"Kenapa, mi amor?" Gelang menggeleng. Ia bersandar di dada Alfaro yang terbalut kemeja dan jas rapih.
Meminum susunya sembari sesekali melirik koran yang dibaca Alfaro. "Opang, Ancala itu apa?" Alfaro mencari yang mana yang dimaksud ketika ia menemukannya ia mencoba untuk mencari kata kata yang pas.
"Ancala itu gunung." Gelang mengangguk paham "kenapa dipanggilnya Ancala?" "Karena itu kata kata yang jarang digunakan, walau sebenarnya artinya sama dengan Gunung" Gelang menggigit gigit silikon dotnya lalu mengangguk mengerti.
Ia meminum susunya lalu mengubah posisinya menjadi tiduran di paha Alfaro dan kepalanya juga di dada Alfaro.
Gelang kembali ikut membaca koran yang dipenuhi kata kata yang jarang ia tau, ia terus bertanya kepada Alfaro dan Alfaro juga terus menjawab pertanyaan Gelang.
35 menit berlalu, dan Gelang yang tadinya terus bertanya akhirnya tertidur lelap. Alfaro mengecup dahi Gelang lalu menyelimutinya menggunakan jas yang ia gunakan.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
Anjai
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
RawakBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
