Agra menatap Anggara yang mendiaminya, air mata mulai menetes, Agra pun menangis. Apakah Anggara menenangkan Agra? Oh tentu, tidak.
Anggara hanya membiarkan, mengingat Agra baru saja memukul Gelang hingga mimisan. Anggara cukup terkejut sebenarnya, jika ini Aksara mungkin ia tidak akan terkejut dengan kekuatannya.
Tetapi Agra? Agra sekali memukul saja tangannya langsung lemas, ini Gelang hingga mimisan dibuatnya.
Dan sekarang Agra sedang berada dalam hukuman, "tetap menatap dinding, Arbeid Agra Diasa." Agra kembali mengubah pandangannya.
Suara kertas dibelakangnya terdengar, Agra terus bertanya berapa lama lagi. Hingga akhirnya tubuhnya diangkat dari ujung ruangan.
"Angga?"
Tangan besar yang hangatnya ia kenali itu membuatnya kembali mengeluarkan Isak tangis. "Huhuhu, hic Angga~ mau nen~" rengeknya.
Anggara menghela nafas, ia dalam diam membuka bajunya hingga Agra bisa menyusu disana. Tangannya menepuk bokong Agra dengan berirama, menenangkan anaknya.
Agra tak lama tertidur, Anggara kembali fokus pada pekerjaannya. Gelang sedang diobati oleh salah satu mantan keluarga Anggara.
Terpaksa.
Jadi Anggara diam di ruangan kerjanya agar menghindari saudaranya itu. "Anggara." Anggara melirik siapa yang datang, mantan pamannya.
"Apa."
"Kenapa kau tidak menyambutku?"
"Untuk apa? Kita bukan keluarga lagi."
"Setidaknya sambutlah aku" Anggara mendelik, "yang ngusir aku waktu itu inget nggak siapa? Kalo nggak inget coba inget inget, jadi dokter bikin depresi orang aja bisanya" memang paman Anggara Areksa ini dulunya adalah seorang psikolog, sebelum mengubahnya menjadi dokter anak.
"Itukan sudah berlalu, Anggara." Anggara berdecak, "diam atau mulutmu yang ku tembak karena mengganggu waktu tidur anakku." Pamannya tetap memasuki ruangannya.
Mendekati meja Anggara, melirik Agra yang sedang menyusu. "Anakmu? Dari jalang keberapa?" Anggara menutup telinga Agra, lalu peluru pun melayang menembus pundak
Teriakan langsung mengisi ruangan sunyi itu, "sudah ku bilang. Jangan. Dekati. Kami. Masih untung bukan jantungmu yang ku tembak." Alfaro yang mendengar suara peluru langsung membuka pintu.
"Sudah kubilang jangan, Vincent." Vincent meringis. "Kau itu pengkhianat, Alfaro. Mulut sampahmu seharusnya tidak berisik." Alfaro menatap Vincent menyedihkan.
"Aku lebih kasian dengan dirimu, hanya bisa menggosip hal yang tidak-tidak, dan banyak bacot" Vincent terdiam.
"Masih untung bukan jantungmu yang di tembak."
"Pinjam revolvernya, Angga." Anggara menutup telinga Agra dengan kedua tangannya, membiarkan Alfaro menembaki tubuh Vincent namun menghindari bagian vital.
"Fuhh Tinggal kita buang dia kembali ke keluarga Areksa" Alfaro melepas marga Areksa miliknya dan sekarang ikut merubahnya menjadi marga Arbeid Diasa milik Anggara.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
Sekarang keluarga Arbeid nambah member lagi gess
KK
Arbeid Alfaro Diasa (Kepala Keluarga)
Arbeid Anggara Diasa (Ayah)
Arbeid Arson Diasa (Anak Sulung)
Arbeid Gelang Diasa (Anak Tengah)
Arbeid Agra Diasa (Anak Bungsu)
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
AcakBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
