LIII

470 28 21
                                        

LUPA NGASIH BIODATA
Name: Alfaro Areksa
Age: 43-47 year old
Status: Anggara's family, Selling illegal weapon
Fact: He likes tea way too much that he always buy tea for souvenirs and give it to people, nah just kidding he literally buy tea so much just because he don't want to smoke in front or like near his grandson.

Alfaro secara tidak sadar telah mengelus kepala Gelang, "nanti kau akan ku ajari cara memakai senapan lain" Gelang mengangguk semangat.

Arson sudah tertidur lelap di paha Gelang, bahkan tak terganggu dengan pergerakan Gelang. "Gelang, apa kamu tau dimana botol susu Agra berada?" Gelang membuka tas Agra lalu memasukkan tangannya kedalam.

"Ini, Kek."

"Opa saja." Gelang mengangguk mengerti. "Kenapa Opa masih berada di sisi Angga?" Alfaro memilih jalan yang lebih jauh lalu menjawab pertanyaan Gelang.

"Saya juga pernah berada di masa yang sama dengan Anggara, tetapi saya tidak seberani itu untuk melawan. Ketika saya melihat Anggara dengan lantang memutus hubungan keluarga, saya langsung memilih untuk memihak Anggara."

Gelang mengangguk paham. "Emang Angga kenapa mutusin hubungan keluarganya?" Alfaro melirik Gelang menggunakan spion "lebih baik kamu tanyakan itu pada Anggara, agar dia yang jelaskan" Gelang mengangguk.

"Apa Arson perlu selimut?"

Gelang mengangguk, Alfaro mengangkat kursi penumpang disampingnya lalu mengambil selimut dari bawah kursi. "Jika kamu juga kedinginan, gunakan selimut ini pada Arson lalu kamu pangku dia" Gelang melepas tas Arson, memasangkan selimut itu lalu memangku Arson.

Begitu sampai dirumah, Agra sudah terbangun tetapi Arson tidak. Ia masih tertidur lelap di gendongan Gelang. "Kenapa lama sekali?" Alfaro tersenyum "macet" Anggara mendelik "makasih.." Alfaro mengangguk.

Keduanya masuk ke dalam mengikuti Anggara. Gelang menaruh Arson di kamarnya sedangkan Anggara menaruh Agra di kamarnya, Gelang lalu pergi ke arah ruang tengah.

"Anggaaaaaa."

Anggara yang mendengar tentu merentangkan tangan, dan Gelang langsung memeluknya. "Kenapa, Sayang?" "Elang mau nanya!" Anggara mengelus dahi Gelang yang entah kenapa berpeluh itu.

"Kenapa Angga mutus hubungan sama keluarga Angga?"

Anggara terlihat berpikir "hmm, soalnya waktu itu mereka nyakitin Agra, dan juga menjodohkan Angga dengan salah satu anak kolega mereka" Gelang mengangguk paham.

Tak lama ia bangkit dari acara tiduran di paha Anggara, menatap Alfaro yang duduk berhadapan dengannya.

"Kenapa, Gelang? Ingin coklat?"

Gelang mengangguk, ia mengulurkan tangan mengira mungkin ia akan diberi coklat payung dua ribuan itu, namun yang ada di tangannya kali ini bukan coklat murah itu, melainkan coklat seharga tiga juta.

Gelang terkejut melihat coklatnya, "hah?" Alfaro menatap bingung Gelang yang terlihat mengembalikan coklat itu ke tangannya.

"Kenapa? Apa kamu alergi coklat?"

Gelang menggeleng patah patah. "Dia terkejut dengan coklat semahal itu, Opa ku tersayang" Alfaro melirik Agra— bukan, melainkan Aksara yang turun.

"Astaga, sudah lama sekali sepertinya aku tidak melihatmu, Aksara. Bagaimana kabarmu?"

"Baik. Tapi berubah menjadi buruk ketika Anda datang, Tuan Alfaro Areksa yang terhormat" Alfaro dengan santai meniup tehnya yang masih panas itu "astaga. Kau masih saja tidak sopan kepadaku, Aksara." Aksara mendelik.

"Berkacalah, kau juga sama pada Anggaraku" Alfaro terkekeh, "aku sudah memihak kepada Anggaramu sekarang, Aksara." Anggara berdecak kasar.

"Bisakah kalian tidak bertengkar di hadapanku?"

Aksara memalingkan wajah, merajuk. Sedangkan Alfaro hanya santai meminum tehnya.  Anggara menghela nafas lelah, ia kembali mengelus elus kepala Gelang yang terlelap di pahanya setelah meminum susunya.

Aksara menutup mata dan tubuhnya terjatuh tak sadarkan diri. Alfaro yang memperhatikan sedari tadi tentu langsung bersiap menangkap Aksara.

Ketika tubuh itu hampir terkena lantai, Alfaro sudah siap menangkapnya. Agra membuka mata, mengedipkan mata beberapa kali lalu menangkap jika ia berada di gendongan Alfaro.

"Hm? Opang? Kenapa Aga ada di Opang?" Alfaro tersenyum saja. "Mi Amora" Agra tertawa geli ketika merasakan janggut kasar Alfaro menggelitik perutnya yang terbuka itu.

"Be careful with him puking there, sir. I just finish nursing him" ucap Anggara sarkas. "Yes, mi amor" Anggara memekik kaget mendengar panggilan itu menguar untuknya.

"Don't call me that!"

Alfaro terkekeh, ia menepuk nepuk punggung Agra ketika merasakan anak itu ingin tidur lagi. Alfaro melepas jasnya lalu menutupi tubuh Agra menggunakan jasnya.

Kembali bergumam lullaby yang sudah tak ia hapal lagi liriknya itu. akhirnya kedua bocah yang lainnya sudah tertidur lelap.

Agra dan Gelang sudah ditaruh di kamar. Meninggalkan keduanya dalam diam. Anggara sibuk dengan ponselnya, dan Alfaro sibuk dengan koran dan cerutunya.

Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat

Selama puasa mau hiatus dulu lah ya wkwkwk, sibuk pesantren kilat, ujian, ama nahan nafsu buat baca ginian wkwkw moga aing kuat anjir eh iya karena takut lupa jadi maaf maaf-an nya sekarang aje lah ya wkwkwk saya Nao selaku penulis cerita di akun ini memohon maaf sebesar-besarnya jika ada salah kata dan terlalu kasar kalau berucap bahasanya, semoga dimaafin ya hehe (⁠≧⁠▽⁠≦⁠)

AsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang