XXX

805 33 0
                                        

Demam Azam dan Agra masih belum turun, dan Anggara yang memang sedang tak ada di rumah langsung kembali ke rumah untuk membawa Azam dan Agra.

Lynx yang membawa mobil kali ini, mengingat Tuannya selalu kesetanan jika menyetir membuatnya takut membiarkan Anggara menyetir dalam kondisi panik.

Anggara duduk di samping Lynx terus melirik Arson yang memangku Agra dan Azam yang tiduran di paha Arson. "Bentar ya Sayang" Arson mengangkat Agra lalu berlari mengikuti Lynx.

Anggara mengikuti di belakang dengan Azam di gendongannya. Mereka berdua sudah berbaring di ranjang pesakitan. Anggara menatap Agra sendu. Ia tidak mengira demam Agra akan tinggi lagi.

Kemarin sudah turun, namun ternyata naik lagi. Cukup lama diperiksa akhirnya diputuskan Agra akan disuntik dan Azam diinfus.

Agra bergerak gusar, merasakan dingin di tubuhnya. Anggara memeluk lengan Agra lalu melepaskannya, Anggara mengangguk dan dokter yang ada di hadapannya langsung menyuntikkan jarumnya.

"Eugh!"

Agra menangis lagi. Ia meraung bahkan memukul Anggara, Arson menatap Agra lalu meraih bonekanya.

"Mau?" Agra memelankan tangisannya, lalu meraih boneka dan paci miliknya. Arson menyodorkan paci itu ke mulut Agra dan Agra menerimanya.

Ia beberapa kali terbatuk, dan Anggara hanya mengelus punggung Agra sembari mendengarkan perkataan dokter tentang kondisi Agra.

Arson mengajak bermain Agra, membiarkan Anggara mendengarkan perintah dokter. "Halo. Namanya Agra ya?" Agra yang ditanya menatap Arson.

Arson mengambil tangan Agra lalu menulis di tangannya, 'k-a-m-u j-a-w-a-b' Agra mencebik.

"Hu'um.."

"Ini buat Agra dari dokter" dokter itu memberi boneka rajut kecil berbentuk bebek kepada Agra. Arson langsung merasakan Agra kembali masuk ke pelukannya.

Arson menyampaikan rasa terimakasihnya melalui bahasa isyarat. Dokter itu tersenyum lalu kembali ke kursinya.

Arson membawa Agra keluar dari ruangan dokter, membawanya untuk duduk di kursi tunggu. Ia memangku Agra dengan posisi seperti koala, mengelus punggung anak itu dengan gaya memutar dan terasa nafas hangat Agra di tengkuknya.

Anggara keluar dari ruangan dokter sembari membawa kertas resep obat, ia meminta Arson untuk lebih dulu masuk mobil. Arson menggendong Agra lalu kembali ke mobil.

Lynx menunggu di depan. Ia membukakan pintu untuk Arson sebelum menutupnya kembali, Arson menyelimuti tubuh Agra menggunakan jaketnya lalu kembali mengelus punggung Agra sembari Anggara kembali.

Anggara kembali tak lama kemudian, Anggara menyerahkan obat milik Agra pada Arson lalu kembali ke dalam untuk menemani Azam. Mobil pun kembali ke rumah.

Pintu mobil kembali dibukakan Lynx. Agra terbangun sebentar, melirik sekitar lalu kembali terlelap. Pintu terbuka, beberapa remaja yang memang menunggu kepulangan Arson langsung bangun dari duduknya.

Menghampiri Arson untuk menanyakan keadaan Azam "Bang Azam mau dirawat disana, ama Mas Angga juga" anggukan di dapat Arson.

Arson menatap teman sebayanya yang menepuk bantal dekat sofa usang tempat mereka duduk, "taro Agra disini, Son" Arson mengangguk, ia berjalan ke arah mereka lalu menidurkan Agra di bantal.

Tubuh Agra di selimuti sarung, dan beberapa remaja yang memang ada disana untuk menjaga anak anak yang lebih muda menatap Agra yang terlelap. Mereka gemas terhadapnya.

Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat

Biodata

Nama: ???
Umur: 18 Tahun
Tanggal Lahir: [Missing]
Tanggal Adopsi: 13/12

Nama: ???
Umur: 19 Tahun
Tanggal Lahir: [Unknown]
Tanggal Adopsi: 13/11

Nama: ???
Umur: 19 Tahun
Tanggal Lahir: [Unknown]
Tanggal Adopsi: 13/11

Nama: ???
Umur: 20 Tahun
Tanggal Lahir: [Unknown]
Tanggal Adopsi: 13/12

Nama: ???
Umur: 21 Tahun
Tanggal Lahir: [Unknown]
Tanggal Adopsi: 13/12

AsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang