Anggara, Arson, Gelang dan Agra akan melakukan check-up hari ini, dan juga imunisasi. Agra sedang tertidur dan digantikan oleh Aksara yang takut akan jarum.
Ia yang berada di dalam tubuh Agra tentu kekuatannya melemah. "Angga, plis... jangan~" mohon Aksara pada Anggara "hari ini aja Asa, kamu kan kemarin udah skip check-up beberapa Minggu lalu, jadi hari ini ya? Nanti boleh nenen sama Nggara deh." Tubuh Aksara semakin mundur hingga menabrak dinding di belakangnya.
"Cuma sebentar, oke? Iya pintar, jangan dilihat jarumnya" tubuh Aksara sudah dibasahi peluh, ia berkeringat dan nyaris menangis. "Hiks, dok plis jangan~" rengek Aksara, tak lama ia merasakan jika tubuhnya ditahan Arson dan Gelang.
"Kalian jahat sama Adek?"
Keduanya mengangguk mantap, jika itu menyangkut kesehatan adiknya maka akan mereka lakukan.
Aksara sudah terduduk lemas di pangkuan Anggara, ia hanya melamun namun tubuhnya sesekali terjengit karena cegukan.
Anggara mengelus punggung Aksara sembari mendengarkan dokter itu menjelaskan kondisi keempatnya.
Akhirnya Anggara bangkit untuk keluar, "baik dokter, terimakasih" dokter itu tersenyum, ia menanyakan bolehkah ia mengelus punggung Aksara menggunakan tatapan mata dan diangguki Anggara.
"Nak Asa, nanti istirahat ya."
Tubuh Aksara terjengit, ia kembali menangis tanpa sadar. Tangannya mencengkram erat baju Anggara.
Anggara tersenyum melihatnya, Aksara yang biasanya cocky ini menjadi cengeng, tapi tidak apa ia suka.
Anggara keluar dari ruangan itu diikuti Arson dan Gelang, "kalian kalau merasakan tidak enak badan besoknya, bilang ya? Biar Abang ijin buat tidak masuk" keduanya mengangguk.
Aksara sudah mulai terlelap di gendongan Anggara, ia kelelahan setelah menangis dan memberontak tadi.
Mereka keluar dari rumah sakit, melihat Lynx dengan kemeja yang lengannya sebelah terlipat. Tentu Lynx juga baru saja di suntik tadi.
Lynx membuka pintu mobil, membiarkan Arson, Gelang dan Aksara masuk kedalam. Arson memangku Aksara di mobil.
Anggara masuk ke kursi pengemudi lalu membiarkan Lynx tidur di kursi sampingnya. Anggara menyetir mobil di malam itu.
Cukup lama perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah, Anggara membangunkan Lynx lalu memintanya untuk membangunkan Arson dan Gelang.
Anggara menggendong Aksara yang masih tertidur lalu membawanya ke kamar. Pintu rumah dikunci Lynx, dan rumah itu kembali sunyi.
Anggara keluar dari kamar, ia duduk di sofa ruang tengah lalu menyalakan televisi. Ia menonton film apa saja yang terputar di saluran televisi.
Beberapa jam berlalu dan pintu kamarnya terdengar terbuka, "Abang?" Anggara bangkit. "Abang di bawah, kenapa?" Arson mengusap matanya yang masih terasa berat lalu menatap Anggara.
"Mau sama Abang" Anggara mengangguk, ia menuntun Arson lalu membawanya ke bawah. "Angga masih nonton, kamu mau disini atau kita ke kamar?" Dahi Arson mengernyit "mau disini aja" Anggara mengangguk.
Anggara menidurkan tubuhnya di sofa yang panjang, dan Arson tiduran diatasnya. Arson membungkus tubuh keduanya menggunakan selimut yang dibawanya lalu menatap televisi dengan mata yang menyipit karena mengantuk.
"Tidur lagi ya?" Arson mengangguk, ia menyamankan tubuhnya di atas Anggara. Menaruh kepalanya di leher Anggara lalu kembali menutup mata.
Anggara mengelus kepala Arson lalu kembali fokus ke televisi. Rasanya seperti Deja Vu melihat Arson tidur di dadanya dan mendusal kepadanya.
Anggara mematikan televisi lalu menutup mata. Pagi datang, Anggara bangun lebih dulu. Ia terkejut ponselnya bunyi dan Lynx yang membangunkannya.
"Anda tidak tidur di kamar, Tuan?"
Anggara bangkit, ia menyipitkan mata untuk melihat siapa yang bertanya "Lynx?" Lynx mengangguk "hadir Tuan" Anggara lalu menggeleng untuk menjawab pertanyaan Lynx tadi.
Tak lama suara tangisan terdengar dari dalam kamar Anggara. Anggara langsung bangkit masih dengan Arson di gendongannya. Lynx yang lebih dulu berlari langsung membuka pintu kamar Anggara.
"Tuan Agra?" Tidak, itu bukan Agra yang menangis. Melainkan Gelang. Anggara terkejut melihat Gelang menangis tapi ia langsung menenangkan pemuda itu. "Gelang? Kenapa nangis?" Gelang menatap wajah Anggara yang tidak terlihat di kegelapan itu lalu maju memeluk tubuh Anggara.
"Hiks- Abang kemana~" Anggara mengelus rambut Gelang sembari mencoba untuk tidak membangunkan Arson. "Abang kan disini, udah ya? Mau minum?" Gelang menggeleng.
"Yaudah lepasin dulu Abangnya, Sayang."
Gelang menggeleng "yaudah, sini senderan sama Abang" Anggara mengubah posisi mereka menjadi mereka bertiga tiduran di kasur Anggara dan Arson tertidur di atas tubuhnya dan Gelang dibagian kiri dan Agra di kanan.
Ketika ketiganya kembali tertidur, Anggara menaruh Arson ditengah lalu menyelimuti ketiganya. Anggara turun ke lantai bawah untuk memasak. Lynx berada di sana sudah lebih dulu memasak nasi.
"Lynx, kita ada sosis nggak?" Lynx mengangguk "baru kemarin saya beli Tuan, ada di kulkas" Anggara mengangguk, ia mengambil beberapa bungkus sosis yang ada di kulkas.
Cukup lama memasak akhirnya ia selesai. Anggara selesai memasak sosis tumis dengan sayur sop dan ayam goreng. Ia berjalan ke arah kamarnya untuk membangunkan ketiga anaknya.
Anggara membuka pintu, melihat Agra yang menangis kali ini. "Huks... Angga~! Gendong!" Anggara menggendong Agra lalu membangunkan Arson dan Gelang.
"Bangun Sayang, yuk sarapan."
Anggara menuntun Arson dan Gelang untuk berpegangan tangan pada satu sama lain lalu memegang tangan Gelang.
Kelimanya makan bersama. Sebelum akhirnya Anggara menyadari jika ketiganya langsung sakit disaat bersamaan. Anggara akhirnya menggelar kasur lagi di kamarnya, memasangkan kompres pereda demam di dahi ketiganya lalu menggendong Agra yang ingin susu.
Anggara membuka bajunya, membiarkan Agra menyusu. Ketika Agra sudah tertidur, giliran Arson yang terbangun.
Meminta dipangku dan di puk puk olehnya, setelah Arson giliran Gelang yang terbangun, Gelang meminta Anggara untuk tiduran bersamanya dan ia tidur diatas tubuh Anggara.
Anggara memilih untuk melepas pakaiannya dan melakukan teknik skin to skin pada Gelang. Setelah beberapa jam mencoba menidurkan ketiganya, Anggara akhirnya berhasil.
Ia menghela nafas lega, ia memakai sweaternya lagi lalu keluar dari kamar. Anggara melihat Lynx ada di dapur sedang membuat sesuatu.
"Tuan, ingin kopi?" Anggara mengangguk "tolong ya" Lynx mengangguk paham. Tak lama kopi yang dibuat Lynx tiba di hadapannya.
"Hati hati panas, Tuan." Anggara meneguk kopinya lalu menaruhnya lagi di piring kecil. Ia menghela nafas pelan lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
Agak maap gegara kepanjangan, wait let me yap
So like I don't know what the fuck is wrong with my brain but I want to see Aksara in a Skirt y'know the skirt that he could twirl while in it? Yeah that one, I imagine how pretty he would be tho, nyeah that's it baii baii
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
AcakBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
