Anggara yang telah sampai dirumah itu terlihat kebingungan, ia baru sadar jika kunci pintu rumahnya terbuka.
Ia ingat tadi ia sudah menguncinya, tidak mungkin ia lupa. Ia membuka pintu lebih lebar melihat jelas ada seseorang yang sedang berdiri membuat teh di dapur.
"Siapa disana?"
Orang itu mengangkat kedua tangannya, ia tentu mendengar suara pistol yang diisi dan sudah bersiap menembaknya.
"Parah sekali kau melupakan Kakek, Anggara."
Anggara yang mendengar suara bariton itu tentu berdecak kesal. "Astaga, ku kira kau sudah mati membusuk" Anggara menurunkan pistolnya.
Mendekati 'Kakeknya' lalu menodongkan pistol lagi hingga moncong pistol itu menempel di belakang kepalanya.
"Kau menyumpahi Kakekmu untuk mati? Kejam sekali cucu bungsu Kakek ini" Anggara berdecak. "Aku sudah memutus hubungan darah dengan keluarga, kau sudah bukan Kakek ku lagi" suara sendok kecil yang beradu dengan gelas kaca yang berisi teh itu menjadi jawaban dari pernyataan Anggara.
"Terserah, asal Anda tidak melakukan apa apa pada anak anakku" Alfaro Areksa. Kakek dari Anggara yang sudah berumur 47 tahun, masih memiliki wajah yang tampan, tak termakan usia bahkan kulit wajahnya masih terlihat kencang.
Senyuman yang terlihat palsu itu menghiasi wajahnya, Anggara semakin kesal. Ia memutar tubuhnya lalu pergi dari sana.
Alfaro tersenyum melihat kelakuan cucunya yang masih sama seperti dulu. "Lynx." Lynx yang mendengar namanya dipanggil langsung mendekat.
"Iya Tuan."
"Siapa nama anak anak Angga?"
"Bukannya Anda sudah tau dari Albert, Tuan?" Tanya Lynx secara hati hati, "yah, Saya sudah tahu dari Albert tetapi saya tetap ingin mengetahui nama anak anak Anggara dari mu" Lynx mengangguk.
"Gelang Arbeid Diasa, Anak sulung, diadopsi dari sebuah rumah tempat Tuan Anggara dibuang dulu. Arson Arbeid Diasa, Anak tengah, juga diadopsi dari sebuah rumah tempat Tuan Anggara dibuang. Agra Arbeid Diasa, diadopsi di tengah jalan oleh Tuan Anggara karena merasakan Tuan Kecil memiliki hubungan dengan Aksara, yaitu kekasih Tuan Anggara yang sekarang menjadi alter ego Tuan Kecil, Tuan."
Alfaro mengangguk, ia menaruh tehnya di meja. Mendudukkan dirinya lalu meminumnya dalam diam. Terlihat berpikir serius.
"Kenapa Anggara mengadopsi Gelang dan Arson?"
Lynx terdiam, ia membuka mulut sebelum menutupnya kembali dan itu terjadi beberapa kali. "Untuk itu... Saya juga tidak tau, Tuan," Alfaro mengangguk paham.
Diantara semua keluarga mereka, hanya Anggara Areksa lah yang paling Rebel diantara semuanya, ia akan melawan jika kebebasan yang ia mau tak ia dapat. Dan sudah ribuan kali orang di rumah memarahinya karena itu.
Dia tidak ingin disuruh suruh melakukan hal yang tidak ia mau, seperti ketika disuruh untuk mengurus salah satu perusahaan keluarganya, Anggara justru kabur dan menghilang selama beberapa tahun.
Ditemukan ketika ia sudah memutus hubungan dengan keluarganya. Bahkan rela melukai tangannya demi bersumpah ia tidak akan mau kembali ke rumah dan melepas marga yang tersemat padanya dari lahir.
Mungkin luka itu masih ada di lengan Anggara. Tercetak jelas garis panjang itu, bekas ia menekan pisau hingga darah mengucur.
Anggara melihat lengan bajunya tersingkap langsung menutupnya lagi.
"Jam berapa cucu cucuku pulang?" Lynx menatap jam tangannya, "30 menit lagi, Tuan" Alfaro menyesal tehnya. "Berapa lama waktu yang diperlukan untuk sampai kesana, Lynx?" "1 jam jika kita menggunakan kecepatan normal, dan 20 menit jika menggunakan kecepatan tinggi, Tuan" Alfaro menyesap tehnya hingga habis lalu mengambil jasnya yang ia taruh di sofa.
"Nama sekolahnya apa, Lynx?"
"Sekolah Keabadian Bangsa, Tuan"
Alfaro mengernyit mendengar nama sekolah itu yang unik, tapi ia diam saja. Ia memasuki mobilnya, lalu mulai mempercepat mobilnya ketika ia sudah ada di jalan utama.
Ketika ia sampai di depan sekolah, ia melihat ada cucunya yang paling bungsu. Ia langsung membuka pintu mobil lalu berlari mendekati Agra.
"AKHHH" Agra yang terkejut karena secara tiba tiba diangkat itu langsung memekik. Gelang dan Arson sudah mengeluarkan senjata, tentunya.
Pisau kecil milik Gelang sudah menempel di leher Alfaro. Dan moncong pistol Arson menempel di dada Alfaro. Ia tersenyum melihat keduanya, tebakannya benar.
Keduanya bukan remaja biasa.
"Opang~!"
"Ini diaaa cucu Opang yang paling imut!!"
Agra menyadari siapa yang menggendongnya, "Opang~!" Agra langsung memeluk Alfaro erat. "Abang. Opang jangan di tembak" Arson dan Gelang langsung menurunkan kewaspadaan mereka.
Gelang melipat kembali pisau itu lalu mengantungi nya, Arson juga melakukan hal yang sama, pistol miliknya sudah kembali ke dalam kantung khusus di jaketnya.
"Ayo pulang, Opang" Alfaro mengangguk, "ah saya ingat, yang mana Gelang yang mana Arson?" Keduanya terjengit kaget. "Darimana kau tau?" Gelang langsung pasang badan didepan Arson.
Alfaro yang melihatnya terkekeh "tentu saja dari Lynx, tapi aku tidak tau yang mana Arson yang mana Gelang" Gelang menatap Agra bingung.
"Opang, kenalin diri" Alfaro mengangguk paham. "Alfaro Areksa, Kakek dari Abangmu, atau mungkin Ayahmu" Alfaro mengulurkan tangan, berniat menjabat tangan Gelang.
Gelang memilih untuk mengambil uluran tangan Alfaro dan keduanya berjabatan tangan "Gelang." Arson yang masih bersembunyi juga ikut menjabat tangan Alfaro "...Arson" Alfaro tersenyum.
"Baik saya akan mengantar kalian ke rumah."
Keduanya mengikuti setelah mendapat pesan dari Anggara tentang Alfaro yang menjemput ketiganya.
Gelang melirik Agra yang sudah tertidur, mulutnya sedikit terbuka meninggalkan jejak basah di jas mahal milik Alfaro.
Alfaro juga menyadari jika air liur Agra membasahi bajunya, tapi ia tidak peduli. "Maaf, bisa kalian tidurkan Agra di kursi belakang?" Agra terlihat tak melepas cengkramannya di baju Alfaro.
Alfaro terkekeh, ia membiarkan Agra tertidur di pangkuannya lalu memundurkan kursi pengemudinya.
"Apa kalian terjepit jika saya memundurkan kursi saya?" Gelang menggeleng "tidak." Gelang mengelus dahi Arson yang mengernyit, tak lama dahinya kembali rileks.
"Siapa kalian?"
Pertanyaan itu membuat Gelang tercekat, "maksud anda?" Alfaro melirik spion "kau tidak mungkin bisa memakai pisau sekecil itu di dalam area sekolah, dan Arson juga sama, kalian ini siapa, kenapa bisa kalian memegang senjata?"
Gelang menghela nafas. "Arson cuma remaja yang gak sengaja di adopsi keluarga Areksa ketika kecil. Dan dibuang ketika sudah tak berguna. Sedangkan aku, aku adalah pembunuh bayaran. Kami berdua diadopsi Anggara untuk melindungi Agra, mengingat kami berdua memiliki skill yang cukup."
Alfaro mengangguk paham, "Gelang, kan? Apa kau ingin belajar Senapan lainnya?" Gelang mengangguk semangat.
"Aku ingin, di panti hanya ada shotgun" Alfaro terkejut. "Seberapa banyak orang orang berbahaya di panti itu?" Gelang menunjuk dirinya "hanya aku, sisanya adalah remaja biasa."
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
Masih dikejar...
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
OverigBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
