LXXI

732 21 8
                                        

"Anggara mengajarkan kami untuk tidak berbicara dengan bajingan, paman~ jadi pertanyaanmu tidak akan kami jawab~"

Tamparan kembali dilayangkan ke wajah Gelang. Pintu ruangan itu terbuka, Anggara masuk dengan wajah yang marah.

"Astaga, keluarga bajingan siapa ini? Menculik ketiga anak seorang single father hanya karena omong kosong."

"Anggara! Kau kembali!" Anggara mendelik, "apa kalian lupa? Aku adalah Anggara Arbeid Diasa, kalian siapa?"

Tentu pertanyaan itu hanyalah sarkas, Anggara masih mengingat siapa orang orang di hadapannya. Mantan keluarganya, mantan kakaknya ada di hadapannya.

"Tidak! Kau masih Anggara Areksa milik kami!" Anggara mengambil pisau lipat yang ia bawa "aku kan sudah melakukan sumpah darah, mengatakan dengan jelas aku memutus hubungan dengan kalian."

"Aku bukan Anggara Areksa yang hanya akan tunduk kepada kalian, aku bukan Anggara Areksa lagi, aku adalah Anggara Arbeid Diasa, dan aku adalah diriku sendiri. Jika tinta diatas pena tak menandakan perpisahan keluarga. Maka sumpah darah akan ku lakukan lagi dan lagi."

Crt

"Aku, Anggara Arbeid Diasa, sekali lagi menandatangi kertas ini dengan sumpah dan darahku, aku bersumpah bukan lagi Anggara Areksa, tubuh ini milikku sendiri dan bukan tubuh milik siapapun, dan dengan ini sumpah ku layangkan" ucap Anggara dalam sekali tarikan nafas sembari menulis di kertas putih menggunakan darahnya sendiri.

Anggara mengarahkan pistolnya ke arah keduanya, menembakkan peluru. "Kenapa kau melakukan ini, Anggara..." Anggara menatap wajah mereka tajam.

"Jika bukan karena kalian, pasti Aksara-ku masih hidup. Ia tidak akan pernah mati" ucap Anggara sembari melepas tali yang mengikat tubuh ketiga anaknya.

"Apa kalian pikir aku tidak tau? Kalian pikir aku tidak tau kalian yang membayar bedebah itu untuk membunuh Aksara? Kalian pikir aku bodoh?"

Anggara mengarahkan pistolnya lagi ke arah dahi mereka, menembak langsung tanpa menatap keduanya lagi.

"Memang ajaran seorang Areksa.." lirih mantan kakaknya itu, Anggara melemas. Pistol terlepas dari tangannya.

Agra langsung berlari untuk memeluk Anggara, Gelang dan Arson ikut memeluk Anggara.  Keempatnya saling memeluk, memberi kekuatan pada satu sama lain.

"Yuk pulang?" Ketiganya mengangguk, Anggara menggendong Agra. Dan menggandeng kedua anaknya yang lain.

Keempatnya berjalan keluar dari gubuk tua itu, Anggara berhenti, menoleh lalu mengambil sesuatu dari kantung celananya.

Korek api, Anggara menggesek korek kayu itu pada sepatu boots nya hingga menyala, sebelum melemparkan korek kayunya ke gubuk itu.

Membakar memori Anggara Areksa di sana.

Keempatnya sampai di rumah dengan selamat, Anggara membuka pintu dan membiarkan kedua anaknya masuk lebih dulu. Baru ia dan Agra yang masuk.

"Angga~ nenen" Anggara menghela nafas lelah, namun kakinya ia bawa ke dapur. Ia menuangkan susu miliknya yang baru ia pompa kedalam botol dot.

Membawa tiga botol dot berisi susu. "Ini buat Ge, buat Ar, sama buat Adek" ketiganya menerima tanpa banyak protes, sepertinya terlalu lelah hingga menerima saja.

Arson tiduran di sofa panjang di ruang tengah, sedangkan Gelang meringkuk di karpet bulu di lantai, Agra masih digendong Anggara, ditimang timang agar tidur.

Ketika Agra sudah tidur, Anggara menaruh Agra di kamarnya sendiri. Kemudian berganti menjadi menggendong Arson.

Arson menatap Anggara dengan mata sayunya, memeluk Anggara erat sebelum terlelap. Anggara menaruh Arson di kamarnya lalu kembali untuk menggendong Gelang.

"Ngh~ nggak, nggak mau bobo~" Anggara mencoba menggendong Gelang, namun tangannya justru ditepis oleh Gelang

"Ayo sayang, tidur yuk? Tuh, udah ngantuk matanya" Gelang menggeleng, bahkan malah merengek pada Anggara.

"Kenapa nggak mau sayang? Kan Ar udah bobo, Adek juga udah bobo, masa Ge nanti main sendiri?" Gelang terdiam, Anggara pun secara perlahan menggendong Gelang.

Menimangnya, "Ge nggak mau... Bobo" Anggara memangku Gelang, menepuk nepuk bokong Gelang sembari bergumam lagu.

Hingga akhirnya Gelang pun terlelap, Anggara menaruh Gelang di kamarnya. Sebelum kembali ke ruang tengah untuk meminum kopi.

Anggara menyeduh kopi hitam yang hanya perlu diberi air panas itu, membawa gelasnya ke ruang tengah.

Ia melanjutkan pekerjaannya, mencari sisa sisa keluarga Areksa yang tersebar, jika mereka tidak akan berhenti mengganggu keluarganya maka Anggara akan memusnahkan semuanya hingga habis.

Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat

Jadi inget, kan temenku yang suka Solace itu ngajakin (maksa) aku ikut event cafenya ya buat nemenin dia jadi yaudah wkwk, soalnya Pia gak bisa ikut jadi aku yang nemenin

Jadi inget, kan temenku yang suka Solace itu ngajakin (maksa) aku ikut event cafenya ya buat nemenin dia jadi yaudah wkwk, soalnya Pia gak bisa ikut jadi aku yang nemenin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dan Yap wkwk

AsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang