Agra kembali menangis kali ini, yang berbeda hanya orang yang membuatnya menangis, yaitu Ariesta.
Pemuda yang 6 tahun lebih tua darinya berhasil membuatnya menangis karena diledek akan mengambil Anggara dan Ariesta bawa jauh darinya.
Anggara menghela nafas lelah, "Ariesta! Jangan ganggu Adeknya!" Anggara sedang menjemur pakaian di luar, dan ia mendengar tangisan Agra yang memang menggelegar.
"Maaf Abang!" Ariesta masih tertawa. Tubuh Agra ditahan Rayn karena ia ingin memukuli Ariesta, "hiks lepasin... awas!" Justru kepalanya yang menjadi sasaran kepalan tangan Agra.
Tak lama Rayn menyerah menahan Agra, "rasain sendiri kelakuan lu, Ri" Rayn mengelus dagunya yang di pukul Agra.
Dan sekarang Ariesta sedang dipukuli tanpa bisa melawan.
"Bisa jelasin kejadiannya?" Mereka berdua duduk dengan pose yang sama seperti pose Arson sebelumnya.
Dengan Agra yang menangis dan Ariesta yang tersenyum lebar. Agra masih dengan sesenggukannya merangkak mendekati Anggara dan mulai bercerita tentang kejadiannya.
Anggara menghela nafas lelah, "Ariesta, adiknya kasian. Jangan begitu, nanti Abang tinggalin lho" Anggara tau Ariesta menyukainya.
Senyum Ariesta turun dan menjadi datar, "Abang kalo pulang, Ariesta bakal terus nyari Abang" ucapnya sembari mencengkram dagu Anggara.
"Hati-hati.." tak lama Ariesta terpukul mundur, "Hm, makin kuat aja si Agra" ucap Aksara yang baru saja melakukan peregangan setelah menonjok Ariesta.
"Mau bertarung denganku?" Seringai tampil di wajah Agra. Ariesta tersenyum, ia mengelus hidungnya yang mimisan dengan kasar lalu kembali berdiri, mengambil posisi kuda kuda.
"Gua ladenin."
Anggara duduk di ujung dengan popcorn dan kacamata 3d dengan Arson dan Rayn yang juga bersamanya menggunakan barang yang sama sembari memakan popcorn menonton kedua pemuda itu bertarung.
"Bang, menurut Abang siapa yang bakal menang?" Tanya Arson. Anggara terlihat berpikir sebelum menjawab, "Aksara" Arson terdiam "emang Bang Aksa sekuat apa?" Anggara menelan popcorn yang ada di mulutnya.
"Dia itu licik, bakal gunain cara apapun buat bikin musuhnya lengah dan mulai serangannya di detik itu."
Rayn dan Arson mengangguk paham. Sebelum mereka menyadari jika Ariesta sudah dalam keadaan tangan terlipat di belakang.
Aksara tersenyum puas, "ngancem Anggara? Lu lawan gua." Ariesta berdecak kesal. "Elah, lu siapanya Bang Angga sih," Aksara menyeringai.
"Gua pacarnya Anggara tentu aja" semua yang ada diruangan langsung terbatuk secara bersamaan, "eh?" Anggara langsung menepuk punggung Arson dan Rayn.
"Lah? Kok bengek lu pada?"
Aksara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. "Gimana kisah bisa pacaran anjir? Kan bapak anak?" Anggara terkekeh.
"Jelasin Sa" akhirnya Aksara pun menceritakan semuanya. Diakhir cerita semuanya sudah lelah mendengar omongan Aksara.
"Oke udah, aku mau muntah" Rayn bangkit lalu pergi ke dapur untuk memuntahkan isi perutnya. Anggara tentu mengikuti di belakang, ketika Rayn muntah ia memijat tengkuk remaja itu.
Aksara tertawa, ia menghentikan tawanya lalu menatap Ariesta. "Lo kalo kayak gitu lagi, gua gak segan segan nyari Lo terus gw hajar" Ariesta terkekeh.
"Yaelah Bang, kasih dikit apa Bang Angga buat kita" Aksara menggeleng "ni tangan melayang apa lu diem?" Ariesta terkekeh "iya dah iya, diem gw" Aksara mengusak rambut Ariesta hingga berantakan lalu berhenti ketika Ariesta mengamuk.
Aksara terkekeh, ia mendudukkan tubuhnya di lantai bersandar di dinding lalu menutup mata. Agra mengucek matanya, melihat sekitar.
Ada Anggara yang sedang memangkunya, Rayn yang sedang menyuap nasi dan Ariesta yang mengunyah. "Angga... Arson mana..." Anggara menunjuk Arson yang sedang mencuci piring.
Agra mengambil bonekanya lalu berjalan dengan pelan ke arah Arson, "Arson... main" Arson menoleh melihat Agra mengajaknya bermain "iya, nanti ya? Tunggu sebentar" tak lama piring terakhir pun ia sabuni.
Arson mencuci tangan lalu mengeringkannya menggunakan handuk, ia bangkit lalu meraih tangan Agra yang mengulur.
Dan mereka berjalan ke arah kamar yang ditempati Arson, Gelang, dan Harsya.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
Gila, rasanya capek banget anjir cuma buat ngetik padahal otak jalan melulu
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
عشوائيBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
