Note: maaf yaw kalo tiba-tiba Anggara jadi baik, galak, ngomong toxic wkwkw soalnya dia kelakuannya berdasarkan kelakuan bapakku
Anggara mengelus kepala Agra yang sedang menyusu, wajah anak itu tenang, tak terganggu dengan kebisingan yang dilakukan Alfaro dan Gelang.
Ketika Agra sudah tertidur, baru Anggara menaruh Agra di kasur. Ia keluar kamar, menarik Gelang pelan lalu mendudukkan dirinya di sofa lalu memangku Gelang.
"Gelang masih mau main!! Lepas.." ia menatap Anggara dengan tatapan melas. "Tidur ya sayang, udah siang. Nanti main lagi" Gelang menatap Alfaro yang juga tidak bisa membantu.
"Gelang mau main... nggak mau tidur" Gelang terus menggeleng, membuat Anggara takut kepalanya lepas.
"Iya sayang, mainnya dilanjut lagi nanti. Gelang tidur dulu."
Ketika puting Anggara sudah berada di mulut Gelang, Gelang mencoba melawan tapi akhirnya ia kalah melawan kantuknya.
Mata anak itu sayu, dan akhirnya menutup ketika Anggara mengelus dahinya. Anggara menaruh Gelang di kasur lalu keluar dari kamar Gelang.
Melihat Alfaro yang sedang membuat teh (lagi) "ingin satu gelas?" Anggara mengangguk. "Pake krimer nggak?" Anggara menggeleng.
Keduanya duduk di sofa single saling berhadapan. "Kenapa kakek masih ada di sisiku?" Pertanyaan itu sudah diperkirakan oleh Alfaro jadi ia menaruh gelasnya lalu menegakan tubuhnya.
"Karena saya juga pernah berada di posisimu Anggara, namun saya tidak berani dan tidak bisa melawan. Oleh karena itu, ketika saya melihat kamu yang melawan dan dengan yakin memutus hubungan darah pada keluarga besar, saya langsung yakin jika mempercayaimu adalah jawaban yang benar."
Anggara mengangguk paham, "lalu, kenapa kakek tidak memutus hubungan keluarga?" Alfaro menatap lantai dibawahnya.
"Bisa dibilang, saya waktu itu pernah jatuh cinta dengan seseorang. Namun keluarga besar tidak ada yang menerima dan mengancam akan membunuh orang itu di hadapan saya, membuat saya akhirnya menyerah dengan cinta saya dan pergi meninggalkan dia."
Alfaro menyesap tehnya lalu kembali berucap "beberapa tahun setelah kamu memutus hubungan keluarga, saya baru tau jika orang itu ternyata sudah meninggal. Saya cukup menyesal karena tak berani mengungkapkan perasaan saya hingga akhir hayatnya, dan akhirnya saya benar benar yakin jika memihakmu adalah pilihan yang benar."
"Abang~!!" Anggara menoleh, menatap pintu yang terbuka menampilkan Arson yang baru pulang les itu.
"Hai sayang, capek kah?" Arson mengangguk, ia menjatuhkan tubuhnya yang langsung ditangkap Anggara.
"Mau minum teh? Kakek baru aja bikin" Arson mengangguk, ia cukup kehausan sebenarnya. Ia melepas sepatunya lalu duduk di sofa.
Ketika tehnya sudah di tuang, ia menyesapnya secara perlahan. Merasakan teh hijau itu, menikmatinya.
"Mau menggunakan gula? Krimer?"
Arson menggeleng "tidak terimakasih.." Alfaro mengangguk. "Anggara, apakah boleh kedua anak ini aku ajarkan senapan lain?" Anggara menoleh.
" 'Anak ini' itu siapa? Anakku ada tiga" Alfaro terkekeh "Gelang dan Arson" Anggara menatap Arson "kau mau?" Arson mengangguk saja.
"Yasudah, jika keduanya setuju maka aku juga setuju" Anggara kembali mencuci piring yang menggunung itu.
Alfaro memasuki dapur sembari membawa teko dan cangkir yang tadi ia gunakan. Mencucinya sendiri lalu mengeringkannya.
Ketika Alfaro kembali ke ruang tengah, ia melihat jika Arson dan Anggara sedang berbincang ringan. Rasanya ia seperti melihat kembali Anggara Areksa dan cucu cucunya yang lain.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
AcakBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
