Anggara masih mendiami Agra setelah seharian ini, Anggara masih menyusui Agra, menyuapinya, dan bahkan memandikannya.
Namun dalam diam, Agra yang masih tidak paham hanya ikut diam dan sesekali mencoba mengobrol dengan Anggara yang hanya dibalas kesunyian.
"Angga~ adek ada salah?"
Pertanyaan itu kembali melayang di udara, namun jawaban yang dicari tetap tidak terdengar dari mulut Anggara.
Ia hanya diam. Menyuapi Agra, bahkan sudah hampir dua hari Anggara mendiaminya. "Angga~! Jangan diam aja~!" Agra menarik lengan baju Anggara dengan perlahan.
"Angga~! Jangan tinggalin adek~" ketika Anggara bangkit dari kursinya, Agra mencoba mengejar. Namun Anggara hilang seketika.
Agra sudah hampir menangis, tetapi air matanya ia hapus secara kasar. Ia kembali berlari, mencari Anggara yang masih hilang itu.
"Angga~! Abang? Abang Angga!!" Anggara tetap tak menjawabnya. Agra merasakan air matanya mengalir, bahkan tak bisa ia tahan lagi.
"Angga~! Jangan tinggalin Adek!!" Untuk pertama kalinya Agra merasakan ketakutan yang sangat, ketakutan akan dirinya yang ditinggalkan, ketakutan akan dirinya yang dibuang, dan ketakutan akan sang ayah yang kembali.
Agra kembali berlari, menyusuri lorong tanpa ujung hanya untuk menemukan salah satu keluarganya.
Agra semakin panik, melihat foto foto miliknya bersama Anggara terbakar hingga habis. Agra kembali berlari, tidak mau menoleh kebelakang.
Tubuhnya yang sudah basah dengan keringat tidak ia pedulikan, kakinya yang berdarah itu tetap ia paksa berlari.
Mencari ujung dari lorong yang tak jelas arahnya, lorong terus terusan berubah jalur. Dan di ujung hanya ada kegelapan.
"Angga!!!"
Suaranya menggema di lorong sunyi itu, tanpa adanya jawaban. Bahkan Aksara yang biasanya berisik itu tak terdengar sama sekali, hanya ada dirinya disini.
Aksara tidak ada.
Aksara itu siapa?
Aksara?
Siapa namanya?
Kenapa ia tidak bisa ingat?
Siapa orang yang daritadi ia panggil?
Itu siapa?
Siapa?
Siapa?
Siapa?
Dirinya siapa?
"Ia" memukul kepalanya sendiri, mencoba mengingat secara paksa. Namun tidak bisa, pikirannya penuh.
"Ia" meringkuk di lantai, memikirkan dengan keras siapa orang yang tadi ia panggil panggil itu.
"Ia" terdiam. Tubuhnya secara perlahan meluruh. Darah keluar dari mulutnya dan "ia" pingsan.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
Sesi Yapping
Buat yang bertanya tanya Anggara itu bot atau top, aku jawab disini ya
Anggara itu walau menyusui dia itu top ya, cuma emang submissive top, dia yang dimanja tapi dia yang nusuk. Kalo Aksara dia itu power bottom, dia yang manjain dia yang ditusuk begitu lah gampangnya.
Sebenarnya kata Power Bottom ini itu ku dapet dari fanfic bahasa Inggris yang jarang dipake di fanfic Indonesia, dan biasanya kata ini biasa ditemuin di buku bergenre Aboverse.
Dan dari awal itu sebenarnya mau bikin buku ini genrenya Aboverse karena Anggara bisa menyusui tapi nggak jadi, cuma aku tetep pake penyebutan power bottom ini.
Karena dulu Aksara disebutnya tuh bukan power bottom tapi Prime Omega, hehe.
Kalo ada yang mau ditanyain boleh di komen iyahh
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
De TodoBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
