Gelang melirik Agra yang sedang menulis tugasnya, ia juga ingin sekolah tapi umurnya sudah terlalu jauh. Ia hanya bisa baca tulis dan menghitung perkalian, pertambahan, dan pengurangan. Melihat buku milik Agra yang dipenuhi akar dan ABC itu membuatnya bingung.
Ia akhirnya bangkit lalu meninggalkan Agra disana lalu pergi mencari Anggara. "Angga?" Tidak ada disini. "Angga?" Tidak disini juga. "Angga!" Masih tidak ada. "Angga!! Angga dimana!" Gelang sudah ingin menangis.
Entahlah, semenjak ia ada disini ia menjadi tidak bisa jauh jauh dari Anggara dan berubah menjadi cengeng. Anggara yang mendengar teriakan Gelang langsung menghampirinya di lantai 2.
"Kenapa, Sayang?" Gelang akhirnya tidak jadi menangis. "Angga kemanaa?" Anggara bingung ketika Gelang memeluknya dengan erat.
"Angga lagi jemur, Sayang. Mau bantu?"
Gelang mengangguk. Akhirnya keduanya menjemur baju bersamaan.
"Anggaaaa mau nenen."
Anggara hanya tersenyum "nanti ya? Kan Gelang belum mam" Gelang berpikir sembari menekan nekan bibirnya.
"Oke! Gelang mau mam dulu" Anggara menghela nafas lega, biasanya Gelang akan mengamuk jika ia tidak mendapatkan susu di waktu yang ia mau, tapi tumben sekali ia menerimanya.
"Yaudah, Gelang mau mam apa?"
"Mau bubur sama ayam..." Anggara mengangguk. "Oke, sebentar ya. Angga buat dulu" Gelang mengangguk.
1 jam berlalu, akhirnya bubur dan ayam itu telah matang. Gelang membantu menaruh piring di meja lalu duduk setelah melakukannya.
"Gelang, tolong panggilin Agra sama Arson ya" Gelang mengangguk. Ia bangkit lalu berlari kecil ke arah kamar Agra dan Arson.
"Adek~ mam" Agra yang mendengarnya akhirnya bangkit lalu berhenti mengerjakan tugasnya untuk sementara waktu, "Arsonnnnn" Gelang membuka pintu kamar Arson tetapi tidak menemukan si pemilik kamar.
Gelang akhirnya duduk di lantai, menunggu Arson yang terdengar sedang mandi. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, dan Arson yang tidak menyadari tentu terkejut.
"Astaga! Gelang? Ngapain disitu?"
"Ayo Ar, mam" Gelang sudah menarik narik tangan Arson agar turun ke bawah, "tunggu, Ar belum pakai baju."
Gelang baru menyadari jika Arson hanya menggunakan boxer dan belum memakai kaus. "Oke" Gelang akhirnya kembali duduk di lantai, menunggu Arson selesai.
Tak lama akhirnya Arson selesai memakai baju, "ayo Ge" Gelang mengambil uluran tangan Arson lalu berjalan bersamaan.
Mereka sampai di ruang makan, dan akhirnya makan siang dimulai. Gelang beberapa kali menambah bubur dan ayamnya, karena ia suka.
Setelah selesai makan, Gelang menunggu Anggara yang sedang membereskan piring dibantu Arson.
Anggara yang sudah selesai dengan piring dan segala macamnya keluar dari dapur dan dikejutkan dengan Gelang.
"Angga! Mau nen" Anggara tersenyum, ia mengangkat Gelang lalu memangku tubuhnya. "Sini" Gelang mendekatkan kepalanya dan ia mulai menyesap puting Anggara.
Anggara mengelus kepala Gelang dengan perlahan, membiarkan Gelang kembali tertidur karena anak itu benar benar tidak bisa tidur tadi malam dan berakhir baru tertidur selama 20 menit.
Anggara mengelus pipi Gelang yang mulai berubah menjadi chubby Anggara gemas melihatnya.
Ia kembali mengangkat Gelang ketika merasakan jika anak itu sudah kembali terlelap. Membawanya ke kamar lalu mematikan lampu kamar Gelang.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
Sori ges abis sakit lagi
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
Ngẫu nhiênBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
