XXXIII

782 29 8
                                        

Agra membuka mata, melihat Arson dan Gelang yang mengapitnya. Ia bergerak gerak sebelum bisa berhasil lepas dari pelukan Gelang dan Arson.

Agra berjalan ke arah pintu dengan jaket tebal memeluk tubuhnya. Ia melihat Anggara sedang membaca berkas dari iPad miliknya.

"Angga?" Anggara menoleh ke arahnya "hm? Kok nggak tidur?" Agra berlari ke arah Anggara karena tangan Anggara yang membuka kearahnya.

"Kebangun..." Anggara mengangguk paham, ia menyampingkan iPad nya lalu menaruh Agra di pahanya.

"Anak Abang yang manis..." Anggara mengusak hidung Agra pada hidungnya, menghasilkan tawa dari Agra.

"Udah, tidur lagi. Masih malem, mau tidur sama Angga?" Agra mengangguk, Anggara mematikan iPad nya lalu menggendong Agra memasuki kamarnya dan Azam yang juga diisi oleh 2 remaja lainnya.

Anggara menidurkan Agra di kasur lantainya, mematikan lampu lalu kembali ke sisi Agra. Ia mengangkat Agra lalu membiarkan remaja itu tertidur di perutnya.

Agra mendongak, menatap Anggara yang juga menatapnya penuh sayang, "tidur, Sayang" Anggara mengelus kepala Agra sembari bergumam lalu dan sesekali menepuk bokong Agra.

Anggara merasakan jika popok Agra masih kering, ia kembali mengelus punggung Agra sembari bergumam lagu. Anggara merasakan pergerakan di sisi kirinya, ia waspada.

Tak lama terasa seseorang memeluk lengannya yang bebas, "Rayn?" Gumaman tak jelas dari remaja itu didapatkan Anggara, Anggara mengangguk, ia tau itu Rayn yang mengigau.

"Abang disini" Anggara mengusap dahi berkeringat dan mengernyit milik Rayn hingga kembali relaks.

Agra sudah tertidur di perutnya. Anggara membiarkan Agra dan Rayn memeluknya hingga pagi datang.

Anggara membuka mata, melirik sekitar, Azam sudah tidak ada di kasur, namun pelukan kedua remaja itu ditubuhnya masih merekat.

Anggara terkejut ia tidur selama itu, biasanya hanya 1 jam sebelum ia kembali terbangun karena mimpi buruk.

Anggara hanya diam berbaring di kasur, menunggu salah satunya bangun dan melepaskannya.

"Abang...?" Suara lirih Rayn terdengar di telinganya, Anggara menoleh "kenapaa?" Rayn tak menjawab, ia bergerak gerak dan Anggara merasakan tubuh yang lebih tinggi darinya itu semakin meringkuk sembari memeluk tangannya.

"Bangun, Rayn. Udah pagi" Anggara secara reflek mencium rambut Rayn, Rayn terdengar merengek sebelum ia kembali membuka mata lalu mulai duduk.

Ia menatap sekitar, memperhatikan jika hanya tinggal dirinya, Anggara, Agra disana. Ia bangkit lalu keluar dari kamar.

Anggara mencoba mendudukkan dirinya, ia memegang bokong Agra agak anaknya tidak merosot turun dari perutnya.

Ketika ia berhasil duduk, pintu terbuka menampilkan satu lagi pemuda dengan rambut berantakan. "Bang, Agra ada disitu nggak?!" Anggara bisa mendengar kepanikan dari suara Arson.

"Ada" Arson membuka pintu, melihat Agra yang masih tertidur dengan paci dan headphone di telinga anak itu. "Astaga..." Anggara terkekeh, ia tau Arson pasti panik ketika melihat Agra tidak ada di kasur.

"Bangun Bang, Mas Azam udah masak" Anggara mengangguk, ia bangkit sembari menggendong Agra yang masih tertidur pulas.

Arson berjalan lebih dulu dan Anggara mengikuti. Ariesta dan Rayn sudah duduk setelah membagikan porsi makanan untuk semuanya.

"Abang~!" Ariesta memanggil Anggara dan memintanya untuk duduk disampingnya, "nggak papa?" Ariesta mengangguk. Anggara mendudukkan dirinya lalu membenarkan posisi Agra di pahanya.

Agra terbangun tak lama kemudian, ia melirik Ariesta yang duduk di sampingnya. Menatap tajam pemuda yang 6 tahun lebih tua darinya, ia tau ada yang salah pada pemuda itu.

Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat

Biodata

Nama: Rayn
Umur: 20 Tahun
Tanggal Lahir: [Unknown]
Tanggal Adopsi: 13/12

Nama: Ariesta
Umur: 21 Tahun
Tanggal Lahir: [Unknown]
Tanggal Adopsi: 13/12

Makasih buat ichikokagura atas bantuan ngasih nama karakternya, hehe

AsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang