L

503 31 3
                                        

Anggara melirik Aksara yang masih memeluk pinggangnya itu. "Lepas, Asa." Aksara menggeleng tentunya.

"Kenapa?"

Aksara kembali menggeleng. "Lepasin, aku susah kerjanya" Aksara justru semakin mengencangkan pelukannya di pinggang Anggara.

Entah kenapa mood lelaki itu sedang buruk, membuat Anggara cukup berhati hati dalam berucap karena bisa saja siapapun terkena siram emosi Aksara.

"Huft" Anggara akhirnya diam, memilih untuk membiarkan Aksara memangku dan memeluk pinggangnya.

"Angga~! Laper!" Anggara bangkit, melupakan tangan Aksara di perutnya. "Aduh!" Gelang yang mendengar langsung masuk ke ruangan Anggara.

"Angga?" Gelang terkejut melihat Anggara yang di kabedon Aksara. "Ah- oke gak akan Gelang ganggu, Bai bai" Anggara berniat berteriak sebelum Aksara menutup mulutnya menggunakan tangan kiri lelaki itu.

"Injing, gw jingin dicipik wii!!" Anggara terkejut ketika melihat Aksara semakin mendekatkan wajahnya padanya.

"Lepasin goblok! Lu bukan Aksara lagi!"

"Gw masih pengen cium cium lu, Ngga. Gw kangen meluk meluk lu, ngokop bibir lu apa lagi. Tapi sekarang gw kagak bisa..." Anggara juga sebenarnya rindu dengan semua afeksi Aksara.

Tapi tidak mungkin Aksara menggunakan tubuh anaknya untuk melakukan hal seperti itu pada Anggara.

"Sori ya? Tau gitu gw datengnya lebih awal" Aksara membiarkan tangannya terlipat dan melemas, menimpa Anggara yang berada di bawah.

"Berat anjing!"

Aksara terkekeh, mulut Anggara masih sama toxicnya, ia pun berguling ke samping. Menutup mata.

Agra membuka matanya, kenapa ia ada di lantai? Pikir Agra. Namun melihat Anggara yang juga sama tiduran di lantai membuat Agra berpikir jika ini kelakuan Aksara.

Akhirnya keduanya tenggelam dalam kesunyian.

"Angga~! Gelang mau nenen ~"

Anggara bangkit dari acara tidurannya di lantai, mendekati Gelang. "Iya, Sayang" Anggara menggendong Agra lalu menggandeng Gelang.

Membawa keduanya ke kamar.

"Kalian mau sekolah?"

Pertanyaan itu tiba tiba mengudara, kondisi di ruang makan itu semakin sunyi. Sendok Gelang mengudara tertahan di dekat mulutnya.

Arson terbatuk sedikit sebelum akhirnya berhenti. "Maaf, Abang hanya bertanya, jika kalian tidak mau tidak apa" Arson menggeleng.

"Kami ingin sekolah, tapi usia kami kan sudah terlalu jauh, Abang." Anggara mengangguk paham, "kalau homeschooling gimana?" Gelang menggeleng.

"Nggak mau, takut dimarahi gurunya kalau Gelang salah" Anggara bisa menyimpulkan sedikit, "kalau sekolah publik bersama Agra? Mau? Nanti Angga bilang kepada kepala sekolah untuk tidak melakukan diskriminasi pada Gelang, bagaimana?" Gelang menatap Arson dan Arson mengangguk.

"Boleh, tapi bareng Agra atau Ar. Nggak mau pisah" Anggara mengangguk paham dan akhirnya makan malam itu kembali sunyi.

Gelang membuka pintu kamar Anggara dengan mulutnya yang diisi puting silikon dari dot yang ia bawa.

"Anggwa..?" Anggara mendongak, ia baru saja selesai menyusui Agra. "Kenapa Sayang?" Gelang mendekati Anggara.

"Angga udah bilang ke kepala sekolahnya?" Anggara mengangguk, ia menarik tangan Gelang hingga Gelang terjatuh diatas tubuh Anggara.

"Udah Sayang, makanya tidur ya? Biar besok tidak telat bangunnya" Gelang mengangguk. Ia menyamankan dirinya di pelukan Anggara.

"Gelang ingin nenen atau di botol saja?" Gelang membuka matanya yang sudah sayu. "Botol..." Anggara mengangguk.

Ia kembali menepuk nepuk bokong Gelang. Dan ikut tertidur setelah keduanya terlelap. Anggara bangun lebih dulu.

Melirik jam yang menunjukkan pukul 5:30, Anggara bangkit, ia berjalan dengan perlahan ke arah kamar mandi.

Mencuci muka dan menggosok giginya, ketika ia selesai Arson sudah duduk di kasurnya sembari menepuk nepuk bokong Gelang.

"Ar, kenapa sudah bangun?" Arson tersenyum, "emang biasanya bangun jam segini karena biasanya Ariesta udah ngeganggu anak anak bayi, jadi aku harus nenangin" Anggara mengangguk.

Ia mencoba membangunkan Agra, dan Agra tak lama kemudian terbangun. "Angga~ mau nenen" Anggara mengusak kepala Agra.

"Makan dulu ya Sayang? Nanti sakit perut kalo mimi susu pas perut kosong, nanti Angga kasih" Agra mengangguk.

"Ar, tolong bangunin Gelang ya?"

Arson mengangguk. Ia menepuk nepuk punggung Gelang, mencoba membangunkan Gelang. "Hik... huhuhu" Arson panik.

Ia terkejut, ia kembali menepuk nepuk bokong Gelang. Dan akhirnya anak itu kembali tertidur dengan wajah yang dipenuhi garisan air mata yang sudah kering.

"Abangnya sudah bangun, Kak?" Arson menggeleng. "Gelang malah nangis, Bang" Anggara menghela nafas.

Ia menyeka dahi Gelang lalu mengecup dahinya, "bangun Sayang, katanya mau sekolah" Gelang membuka matanya perlahan.

Sebelum kembali menangis, Anggara sudah menyumpal mulut Gelang dengan botol susu hangat.

"Huk..."

Anggara menyerahkan Agra kepada Arson, lalu menggendong Gelang yang rewel. "Shh... shh... shh" menimang Gelang sebelum akhirnya anak itu tenang.

Anggara mencoba menaruh Gelang dikasur, namun Gelang tidak ingin melepaskan cengkeramannya.

"Iya Sayang, nggak jadi" Anggara akhirnya memilih untuk menggendong Gelang menggunakan kain.

Dan sekarang Anggara sudah berada di dapur. Memasak sarapan pagi ini, bubur untuk Gelang dan makanan yang biasa untuk Agra dan Arson.

Anggara meminta Arson untuk memakaikan Agra seragamnya, sebelum melihat keduanya turun ke bawah dengan seragam yang sama.

"Kita duduk ya Sayang?" Gelang merengek, ia tidak mau. Anggara menghela nafas, ia mengambil mangkuk berisi bubur itu.

Lalu menyuapi Gelang yang masih ada di gendongannya yang sudah berganti menjadi gendongan koala. Ketika bubur Gelang habis, Anggara menyodorkan air dalam sippy cup lalu menjauhkannya ketika Gelang menggeleng.

"Abang makan dulu ya, Sayang?" Gelang mengangguk. Anggara memangku Gelang sembari makan.

"Gelang ingin sekolah?" Gelang mengangguk. Dan akhirnya tubuh Gelang hanya di lap menggunakan kain yang di basahi air hangat.

Anggara memasangkan seragam, dan rompi. Lalu memasangkan ikat pinggang. "Udah, nanti kalau ada tugas dan kamu nggak paham, tanya gurunya aja ya? Kalau nggak tanya Arson" Gelang mengangguk.

Dibandingkan Gelang yang hanya bisa baca tulis, tambah tambahan, perkalian dan pengurangan. Arson sudah berhasil melewati masa masa SMA nya sebelum akhirnya dibuang, jadi bisa dibilang ia sudah menguasainya.

Arson meraih tangan Gelang, menggandengnya erat. "Ayo, jangan ampe ketinggalan Agra" ucapnya dengan senyum lebar.

Tak lama keduanya sudah hilang memasuki mobil. Anggara memakai sepatu nya lalu ikut memasuki mobil untuk mengantar ketiga anaknya.

Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat

HORE GELANG SEKOLAH(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)

AsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang