Anggara tiduran di kasur dengan mata yang sudah menutup separuh, sebelum kemudian berdiri lalu berjalan ke arah kamar Gelang.
Ia membuka pintu lalu masuk, duduk di lantai menatap Agra dan Gelang yang sedang main PS. "Adek, nanti belikan ayam sapi di depan" Agra yang sudah biasa dengan hal ini hanya mengiyakan.
"Abang, nanti bawa pot terus masak ampe mateng, bilangin Arson juga buat bantu ikan diluar lahiran" Gelang yang diseret masuk ke pembicaraan asbun Anggara menatap bingung Agra.
"Gimana cara jawabnya?"
"Iyain aja, nanti kalo udah selesai, Abang bakal balik lagi ke kamar" Gelang mengangguk paham. "Iya bang, nanti Gelang kasih tau ke Arson" Anggara mengangguk.
Ia meninggalkan keduanya lalu keluar dari kamar Gelang. Ia membuka pintu kamar Arson, lalu masuk ke dalamnya.
"Arson, nanti beli nasi uduk Bu Andi, pake bakwan sama sayur nangka" Arson yang tiba tiba dimintai itu langsung menatap bingung.
"Abang kenapa?" Anggara menatap Arson dengan mata yang sudah menyipit karena mengantuk. "Abang ikan, jadi nanti beli angin terus dimasak ya, bumbuin pake sambel ama teh" Arson semakin menatap bingung tapi ia tetap mengiyakan.
Tak lama Anggara keluar dari kamar Arson, menuju kamar terakhir yaitu kamar Alfaro. Ia membuka pintu kamar itu, mengejutkan Alfaro yang sedang membaca koran ketika ditimpa tubuh Anggara.
"Astaga, mengagetkan saja. Kenapa?"
"Kakek, nanti belikan ayam ikan di kantor, terus kasih ke tetangga" Alfaro menatap Anggara bingung "ayam ikan itu apa, Angga?" Anggara menatap Alfaro dengan tatapan sayu juga bingungnya.
"Ayam ikan loh, kakek masa gak tau?"
Alfaro semakin bingung, ada apa dengan cucunya ini. "Iya, ayam ikan itu seperti apa?" Anggara tanpa sadar memainkan telinga Alfaro.
"Badan ayam kepala ikan, kakek nggak tau?"
Alfaro mengangguk saja, "iya nanti kita beli ya. Tidur gih di kasur, nanti kakek bangunin" Anggara melepas telinga Alfaro dari pilinan-nya lalu menjatuhkan diri ketika sudah berada di kasur Alfaro.
"Kakek tau nggak kenapa ikan itu bisa tenggelem?"
Alfaro menatap Anggara bingung.
"Kenapa?"
"Kakek tau nggak kenapa ikan itu bisa tenggelem?"
"Iya kenapa, Angga?"
"Kakek tau nggak?"
Alfaro melipat korannya lalu mendekati kasur, ia menutup mata dan mulut Anggara tetapi menghindari hidung cucunya.
Tak lama akhirnya Anggara tertidur dengan benar. Alfaro menggendong Anggara ke arah kamarnya, sebelum bertemu Agra di tangga.
"Agra, kenapa Anggara sangat random tadi?"
Agra terkekeh "itu Angga lagi ngantuk aja Opang, makanya begitu, tapi biar dia tidur biasanya dijagain Ama diiyain aja apapun omongannya, kalo nggak nanti ngamuk" Alfaro mengangguk paham.
Jika semakin berbahaya, maka akan Alfaro tangani. Semua permintaan Anggara ketika mengantuk tak ada yang dilakukan karena tidak mungkin ada. Jadi ayam ikan milik Anggara sampai sekarang belum sampai.
Untungnya Anggara sudah melupakan hal itu dan tidak menagihnya.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
AcakBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
