#TOLAKRUUTNI #TOLAKDWIFUNGSIABRI
Anggara menatap markas yang dibuat Aksara dulu, melirik sekitarnya yang masih terlihat bersih dan rapih itu.
"Siapa?"
"Arbeid Anggara Diasa." Ia merasakan ada moncong senjata yang menempel di tengkuknya. Anggara mengangkat tangan ketika merasakan moncong itu semakin menekan tengkuknya.
"Lepaskan dia, Jun."
June, pemuda yang menodongkan senjatanya akhirnya mundur begitu mendengar perintah. "Maafkan dia." Anggara masih berbalik badan dengan tangan yang masih terangkat.
Takut tertembak karena dikira bahaya. Anggara menurunkan tangannya ketika pundaknya ditepuk.
"Kau pacar Asa, kan?"
Anggara mengangguk. "Duduklah, maafkan Jun tadi." Anggara mengangguk. "Aku kesini karena Asa yang meminta" tubuh pemuda di hadapannya terjengit.
"Kenalkan, aku Andi."
"Anggara." Andi menegakkan tubuhnya lalu menatap Anggara "apa yang dikatakan Aksara sampai kau berani datang kesini dengan tangan kosong?" Anggara melirik Jun yang ada dibelakangnya.
"Asa masih sekolah, dan katanya jika ia sudah pulang sekolah ia akan kesini sendirian" Andi mengangguk.
Tak lama terdengar suara yang kencang membuat keduanya was was kecuali Anggara yang masih tenang.
Pintu ruangan ini terbuka menampilkan Agra(?) Yang berjalan mendekat, ketika sudah dekat dengan Jun, pemuda itu langsung meninju wajah Jun hingga anak itu tersungkur.
"Siapa yang nyuruh lo angkat senjata?"
Tangannya dipenuhi dua pemuda lain yang dipenuhi darah. "Asa–" Anggara kembali menutup mulutnya ketika Aksara menaruh jari telunjuknya di bibir.
Menunggu apa yang akan dilakukan Aksara.
"Gw tanya. Siapa. Yang. Nyuruh. Lo. Angkat. Senjata?"
Jun langsung menjatuhkan senjatanya. "Gw gak minta lu turunin senjata. Gw nanya, siapa yang nyuruh lo angkat senjata? Denger kagak sih? LO DENGER GAK APA YANG GW BILANG? BUDEK LO? HAH?"
Jun semakin menunduk. "Jawab." Jun tersentak "n-nggak ada kak" "udah tau gak ada yang nyuruh, lu kenapa masih angkat senjata? Hm? Jadi jagoan lu? Jagoan bukan pembunuh iya, tolol lu? Otak lu mana? Ini orang bukan teroris atau bahaya apapun, lu mau lu nembak malah nyasar dan orang lain kena? Hah? Lu yang gw tembak kalo berani" Andi menengahi keduanya.
"Udah Asa, tenang. Duduk dulu sama Angga."
Aksara berdecak, ia menjatuhkan kedua pemuda lain hingga tersungkur dan kemudian tasnya hingga terdengar suara gemerincing kecil, sebelum kemudian menidurkan dirinya di paha Anggara.
Anggara mengelus rambut Aksara sembari menatap Andi yang sedang meminum teh. "Ekhem, maafkan yang tadi." Anggara menggeleng "tidak apa apa" Aksara berdecak.
"Angga! Jangan maafin apa apa seenaknya dong!" Sentaknya. "Iya, tapi mau gimana Asa? Nggak mungkin nggak aku maafin lho" Aksara berdecak lagi.
Ia membalikkan badannya hingga perut Anggara ada di hadapannya, Aksara memeluk erat perut Anggara.
"Jadi apa yang ketua kita inginkan?"
"Kita demo lagi Andi."
Andi terkekeh, "oke, gue kasih tau bang Aka." (Aka disini ama Aka di buku Raychal beda Iyah) Aksara tak lama diam.
Sebelum kemudian pingsan, beberapa saat kemudian ia kembali sadar. "Angga... nenen" Anggara tersenyum lembut.
"Tunggu ya Sayang, kita masih diluar" Andi bangkit, memberi kode pada Jun untuk bangkit. "Kita tinggal gak papa? Nanti kalau perlu sesuatu bilang aja ya, maaf sama kejadian tidak enak tadi."
Keduanya meninggalkan Anggara dan Agra disana. "Ayo Anggaaa, nen" Anggara menghela nafas, ia mengangkat bajunya lalu membiarkan Agra nenen kepadanya.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
Abis debat Ama bapak yang korban 98, telinganya dipukul pentung panjang aparat dan tuli di telinga kirinya, sekarang dia mihak Ama PG, abis debat ges gw ama bokap awokawok, gw dibungkam bapak sendiri yang merupakan korban keagresifan aparat di tahun 98.
And I guess that's one reason kenapa bapak gw gak ngebiarin anak anaknya tau kejadian 98, tentang maraknya perempuan diperkosa, tidak peduli gadis, ibu, atau anak anak. Especially because I have a big sister, tapi justru karena itu gw jadi tau kalau Indonesia gelap dan gw gak akan bungkam
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa
CasualeBapak anak tapi panggilannya Abang Adek Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
