Bapak anak tapi panggilannya Abang Adek
Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe
DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
Agra dengan malas masuk ke kelasnya, duduk dikursi dan langsung tertidur. Ketika ia bangun, guru sedang mengabsen.
"Baik, hari ini tugas kalian adalah berkelompok dan mencari materi yang saya bagikan dan buat menjadi makalah" Agra yang mendengarnya berdecak kesal.
Ia paling malas bekerja kelompok seperti ini, karena jika ada yang sekelompok dengannya pasti mereka tidak akan mau bekerja karena tau dirinya bisa sendiri.
"Baik, kelompoknya sudah ibu bagikan ya" Agra membuka ponselnya, melihat jika namanya sendiri di kelompok 3.
Agra menyeringai, ia senang sekali. Agra berjalan dengan gontai keluar bangunan, baru sehari sudah 3 kerja kelompok saja.
Tapi untungnya dia sendiri.
Agra berlari kecil begitu melihat Anggara keluar dari mobil dan mencari carinya. "Angga!" Anggara yang tak menyadari terkejut ketika merasakan ada yang memeluk pinggangnya.
"Adek?" Agra mengangguk, "oke, yuk pulang" Anggara mengelus elus kepala Agra, lalu menggendongnya.
"Angga, adek mau beli es krim~" Anggara tampak berpikir "es krim apa, Sayang?" Agra yang kali ini terdiam, "mau es krim coklat" Anggara mengangguk.
"Oke, tapi nanti ya? Setelah mam, Angga baru bikin nasi liwet" Agra mengangguk. Kali ini Lynx tidak ada, mungkin di rumah menjaga Arson dan Gelang.
Anggara memundurkan kursi pengemudinya agar Agra bisa dipangku olehnya, Anggara mendudukkan Agra di pahanya lalu memasangkan seatbelt.
Cukup lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai dirumah. "Tuan-" Lynx kembali mengatup bibirnya ketika melihat gestur Anggara.
Anggara dengan pelan berjalan masuk setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, ia membuka pintu lalu masuk.
Lynx mengikutinya dari belakang, "Angga!" Anggara menghela nafas, "iya Sayang? Pelan pelan ya suaranya, adeknya lagi tidur" Gelang mengangguk.
Gelang akhirnya berlari kecil ke arah Arson yang juga sedang tertidur.
"Arson?" Ia menekan nekan pipi Arson berkali kali hingga anak itu bangun. "Kenapa, Gelang?" Gelang menarik Arson hingga bangun, lalu membawanya ke arah akuarium kecil milik Gelang.
"Ikan."
Arson bingung "iya ikan, kenapa?" Gelang kembali menunjuk ikan itu "ikan." Arson semakin bingung "iya, ikannya mau diapain?" Tak lama tangan Gelang masuk ke dalam akuarium itu.
"Eh-" ikan yang sedari tadi di sebut sebut itu sekarang ada di tangan Gelang.
"Ikan."
Arson menghela nafas lelah, ia menaruh kembali ikan itu lalu menarik Gelang ke arah dapur untuk mencuci tangannya.
Di sisi Anggara, ketika Anggara baru ingin menaruh Agra dikasur setelah memasangkan sleep sack, tiba tiba saja dia terbangun.
"Tidur lagi, Sayang" Anggara tentu mencoba untuk menidurkan Agra kembali. Sebelum akhirnya menyerah karena justru Agra malah menangis.
"Iya Sayang iya, nggak tidur lagi. Mau mam?" Agra mengangguk, Anggara mengangkat tubuh Agra lalu membawanya turun.
"Abang! Liat Gelang ~! Dia mainin ikan" Anggara menghela nafas, kelakuan asli Gelang muncul disini.
Ia tidak membenci kelakuan Gelang tentu saja, hanya terkadang merasa pusing melihat kelakuan Gelang yang terkadang di luar nalar itu.
"Iya Sayang, dicuci dulu yah tangannya. Pake sabun" Gelang hanya menatap Arson yang masih sibuk mencuci tangannya.
"Astaga, masih bau amis" akhirnya Arson mencuci tangan Gelang menggunakan sabun cuci piring. Dan untungnya bau amis ikan itu sudah hilang digantikan dengan bau lemon.
"Angga~ mam" Anggara mengangguk, ia membuka sleep sack Agra lalu membiarkan anak itu menyendok nasinya sendiri.
Tubuh Gelang yang ingin berlari lagi langsung Anggara angkat secara paksa. Membawanya duduk di kursi Gelang yang dirancang khusus dengan seatbelt berbentuk x untuk menahan agar Gelang tidak hilang.
"Anggaaa, lepas!" Tangannya mencoba menarik narik seatbelt mengingat Gelang jarang melihat itu membuat Anggara dengan mudah mengelabuinya.
"Makan dulu. Baru main lagi." Gelang yang mendengar nada tegas Anggara langsung terdiam. Pipinya ia kembungkan dan kedua tangan ia lipat di dada.
"Hmph!"
Anggara menghela nafas lelah, "adek bisa makan sendiri?" Agra mengangguk "oke, adek mam sendiri dulu ya? Angga mau nyuapin Gelang" Agra kembali mengangguk.
Ia turun dari kursinya lalu mencuci tangan, Anggara menarik nafas lalu membuangnya, ia melipat kemejanya lalu mulai mengepalkan nasi di tangannya.
"Ada terinya kan?" Anggara tersenyum "iya sayang, ada" Gelang akhirnya membuka mulut dan terus terulang hingga makanan di piring Gelang kosong.
"Angga, mau lagi" Anggara mengambilkan nasi lagi akhirnya "pake ayam nggak, Sayang?" Gelang mengangguk.
Dan akhirnya piring kedua juga habis oleh Gelang. Gelang masih mengintili Anggara seperti anak itik, bahkan ketika Anggara ke kamar mandi saja ia mengikuti.
"Kenapa, Gelang?" Gelang menggeleng, tapi ia tetap mengikuti Anggara. "Oke, yuk tidur" putus Anggara.
Dan Gelang kembali mengikutinya ke kamar, "Gelang mau tidur di kamar Angga juga?" Gelang mengangguk.
Anggara menyuruh Gelang untuk duduk di kasur lalu memasangkan sleep sack pada Agra yang sudah menunggunya dari tadi.
"Angga, itu apa?" Anggara menarik keatas resleting sleep sack itu lalu menjawab Gelang "ini sleep sack, kamu mau pake?" Gelang mengangguk. Anggara terkejut, tapi kakinya tetap ia arahkan untuk berjalan ke arah lemari dan mengambilkan sleep sack yang lebih besar.
"Tiduran di kasur, Sayang" Gelang menidurkan tubuhnya disamping Agra, menatap yang lebih muda yang sudah lelap.
"Masukin kakinya kesini, terus tangannya kesini... Dan selesai" Gelang bangkit menarik tubuhnya lalu tiduran bersandar bantal Anggara.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini sleep sack guis, ini punyanya Agra
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.