XXXV

638 34 10
                                        

Anggara dan Agra akan pulang hari ini, dengan Arson dan Gelang yang sekarang menjadi anak Anggara juga.

Agra masih dengan senyuman lebar menatap Arson dan Gelang bergantian, ia senang akhirnya ia punya kakak.

Gelang dan Arson cukup terkejut, mereka tidak menyangka akan diadopsi oleh Anggara. Berkali kali mereka terus menanyakan apakah ini betulan terjadi? Kepada mereka? Kepadanya? Kepada Gelang?

Pertanyaan itu terus mengganggu, takut seperti yang sudah terjadi sebelumnya, diadopsi untuk digunakan lalu dibuang.

Walau mereka yang termuda diantara Ariesta dan Rayn, Arson dan Gelang adalah yang paling tersiksa sebelumnya.

Mengingat Arson digunakan sebagai pewaris keluarga dan akhirnya dibuang ketika ia sudah tak berguna, dan Gelang adalah pembunuh bayaran yang dipaksa membunuh dan berakhir dibuang juga ketika ia gagal melakukan misinya.

Mereka berdua bertemu ketika Arson sedang menggali tempat sampah dan Gelang dikeluarkan dari dalam mobil dengan tubuh penuh luka dan kondisi malnutrisi.

Dan dari sana mereka saling menjaga punggung satu sama lain. Kembali ke masa sekarang, tentu kemampuan melindungi masih dimiliki Gelang, dan ia juga berjanji sebelumnya pada Anggara untuk selalu melindungi Agra walau tidak diperlukan.

Arson tentu akan membantu Agra dalam pendidikan, mengingat sekeras apa pendidikan yang ia alami di masa mudanya.

Sebelum ditemukan Azam, mereka berdua sangat waspada, dan akan menjadi agresif kepada siapapun yang mendekati walau tidak membahayakan.

Dan barulah ketika Azam datang, mereka mulai luluh dan kembali bersikap seperti biasanya.

Anggara menghampiri Arson dan Gelang, mengelus rambut mereka. Mengejutkan keduanya, Arson langsung menempatkan badannya di hadapan Agra, dan Gelang memunggungi Agra.

Mereka celingukan mencari 'ancaman' yang membahayakan itu. Anggara tertawa. "Maaf bikin kalian kaget" tubuh mereka langsung melemas.

Agra memasuki mobil, disusul dengan Arson dan Gelang yang masih terlihat linglung, Agra membuka jendela, ia melambaikan tangan pada Azam dan anak anak yang lainnya.

Ariesta terlihat mengusap air mata buaya nya, dan ketika Anggara tidak melihat, Agra memberikan jari tengah pada pemuda itu.

Ariesta tertawa melihatnya, anak itu masih memiliki dendam padanya.

Mobil pun berjalan meninggalkan rumah itu, dan tiba di jalan besar. Beberapa jam berlalu, ketiga anaknya sudah tertidur lelap saling bersandar pada satu sama lain.

Anggara membangunkan Arson dan Gelang, lalu meminta Arson untuk menggendong Agra. Mereka berdua terpaku melihat rumah baru mereka.

Lynx ada di sana, menunggu mereka berempat. Lynx membungkuk 90° derajat ketika mereka ada dihadapannya.

"Selamat datang Tuan muda Arson dan Tuan muda Gelang."

"Lynx!" Tubuh Lynx mundur beberapa langkah ketika Agra menubruknya, "dan selamat datang juga Tuan muda Agra dan Tuan Anggara" ucap Lynx sembari membenarkan posisi Agra di gendongannya.

Anggara tersenyum, ia menarik tangan Arson dan Gelang lalu membawa mereka masuk. "Selamat datang, ini rumah baru kalian" Gelang dan Arson melihat sekeliling sebelum menyadari ini nyata.

"Bang, Abang nggak akan buang kita kan?" Anggara terdiam sebelum mendekati kedua anaknya "aku berjanji, dan sekarang misi kalian adalah melindungi Adik kalian, bisa dimengerti?" Arson dan Gelang mengangguk.

"Makasih Bang."

Anggara membuka tangannya, dan tentu Gelang dan Arson langsung balas memeluk Anggara. "Aku juga ikut!" Agra berlari, memeluk ketiganya.

"Jangan berlari, Agra."

Agra mendengus "iya." Anggara menunjukkan kamar Arson dan Gelang yang bersebelahan dengan kamarnya dan Agra.

"Ini kamar kalian, terserah kalian ingin menghias kamar ini seperti apa, ruangan ini sudah milik kalian" Arson dan Gelang kembali terkejut "Bang, kita satu kamar aja nggak papa, Bang" Anggara menggeleng.

"Nggak, ini ruangan kalian. Kalian jika masih tidak nyaman di kamar kalian bisa ke kamar Abang, dan kita akan tidur bersama, yang penting ini kamar kalian."

Arson dan Gelang memeluk Anggara lagi, "makasih Bang" Anggara mengangguk. "Yuk makan" Anggara membiarkan Arson dan Gelang membereskan kamar mereka dan menghiasnya sesuai yang mereka mau.

Agra duduk di atas meja dapur, menunggu Anggara selesai memasak. "Angga, mau susu" Anggara menghela nafas "nanti ya, Sayang. Angga masak dulu" Agra mengangguk.

"Perlu dibantu, Bang?"

Anggara menggeleng "tidak perlu, kalian duduklah di sana, dan juga bawa Agra bersama kalian" Arson dan Gelang bertatap-tatapan sebelum memutar tubuh mereka untuk berjalan ke arah Agra.

"Arson!" Arson memeluk Agra erat lalu menggendongnya, "kita mau kemana?" Arson menunjuk ke arah sofa di ruang tengah.

"Disini ya, Lang?" Gelang menggeleng tidak tau. Arson akhirnya menaruh Agra di sofa dan mereka berdua duduk di lantai.

"Arson nggak mau di atas bareng Adek?"

Arson menggeleng "Adek disitu aja, Arson dibawah" Agra menggeleng, ia menarik narik baju Arson dan Gelang, meminta kedua pemuda itu untuk duduk bersamanya di sofa.

Arson terus menolak dan Gelang juga sama hingga Anggara datang, "duduk di sofa aja, nggak papa Arson, Gelang" mereka berdua menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Nggak papa, Bang?" Anggara mengangguk sembari membalik pancake di teflon. Mereka berdua duduk di sofa yang sangat ujun, bahkan terasa jika bokong mereka melayang di udara.

Tak lama Anggara kembali memanggil nama ketiganya untuk makan, "ini buat kalian! Hias semau kalian" Arson dan Gelang bertatapan sebelum kembali tersenyum canggung.

"Kalian nggak suka?" Arson dan Gelang langsung menggeleng panik, "n-nggak! Kita suka! Tapi... ini buat kita semua?" Anggara mengangguk.

Arson dan Gelang saling berkomunikasi melalui tatapan sebelum akhirnya pundak mereka melemas.

Tak lama pancake hiasan mereka sudah jadi, milik Arson dihias dengan cream dan sprinkle dengan sedikit madu diatasnya, sedangkan milik Gelang dihiasi dengan coklat dan es krim vanila.

Pancake mereka ditumpuk hingga tiga tumpuk, "kalo kurang bilang ya?" Mereka berdua mengangguk.

"Selamat datang di rumah ini, kalian resmi menjadi anakku dan semoga nyaman berada di lingkungan baru."

Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat

Akhirnya bebas njir, gila tubuhku di pakein restraint anjir kagak bisa gerak, emang parah si Leon gw dipakein gituan anjir.

AsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang