Bapak anak tapi panggilannya Abang Adek
Kalo ada pertanyaan, coba baca chapter yang klasifikasi siapa tau pertanyaan kalian ada di situ, kalo nggak ada? Tanya ke aku, hehe
DENDAM BANGET AING DIKATA BUKU AING MLM, SYALANDDDDD
Agra terbangun dengan keringat bercucuran, melirik kanan kirinya yang kosong. Ia langsung bangkit tidak memperdulikan sakit kepalanya yang menerjang bahkan membuat pandangannya gelap selama beberapa detik.
Ia membuka mata lagi setelah pandangannya kembali terang, melirik sekitarnya yang tak diisi seonggok jiwa pun selain dirinya.
Menatap sekitarnya sekali lagi, ruangan Anggara. Ini kamar Anggara, ia yakin akan hal itu. Agra membuka pintu kamar. Menatap lantai bawah yang terdengar suara televisi dan ada enam kaki menjuntai.
Agra turun ke bawah dengan perlahan, tubuhnya yang tadi diisi adrenalin langsung melemas. Kakinya semakin tidak kuat menopang tubuhnya sendiri.
Sampai ditangga terakhir, kakinya benar benar menyerah. Suara dirinya terjatuh benar benar nyaring hingga mengagetkan ketiga lelaki berbeda umur disana.
"Adek!"
Agra mendongak, menatap Anggara yang mengulurkan tangan. Agra menggeleng, kakinya tidak kuat jika harus berjalan lagi walau dengan bantuan Anggara.
Anggara menaruh kedua tangannya di paha Agra menahan bokongnya ketika tubuh anak itu sudah naik di punggungnya.
Anggara menidurkan Agra ditengah tengah Arson dan Gelang. "Sebentar" ucapnya ketika Agra mencengkram erat bajunya.
Agra melepaskan bajunya dan Anggara bisa dengan tenang membereskan meja di ruang tengah.
Anggara kembali.
Agra langsung menjulurkan tangan meminta untuk dipeluk, Anggara menggeleng. "Sebentar ya?" Agra merengek, namun Anggara tidak mendengarkan.
Ia mendekati Arson lalu melepas kompres penurun panasnya untuk menggantinya dengan yang baru.
Hal itu juga dilakukan pada Agra dan Gelang. Setelah membuang sampahnya, Anggara akhirnya tiduran bersama di sana.
Agra sudah menempel padanya, sama seperti keduanya yang ada di sisi kanan dan kiri Anggara.
"Angga..." Anggara menatap sisi kirinya, Gelang terlihat menarik narik bajunya. "Kenapa, Sayang?" Gelang mengulum bibirnya "minum."
Anggara mengangguk, ia mendudukkan dirinya, untuk ia menaruh beberapa gelas dan teko air. Jadi ia tidak perlu berjalan ke dapur hanya untuk mengambil air.
Ia mendudukkan dirinya lalu menuang air putih di gelas. Menyodorkannya ke arah Gelang yang sudah duduk.
"Pelan pelan." Gelang meminum air itu hingga tandas, tenggorokannya benar benar kering.
"Anggaaa, mau nenen juga"
Anggara terbatuk, ia tersedak. "Angga gak papa?" Anggara semakin terbatuk. Setelah meminum air akhirnya remaja itu berhenti terbatuk.
"Gelang mau nenen juga kayak Adek? Benar?" Gelang mengangguk. "Mau susu juga" Anggara menggeleng "tapi tunggu adeknya selesai dulu ya? Baru giliran Gelang ya?" Gelang mengangguk paham.
Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nao yapping for the ... time jadi kan waktu kemaren tuh aku main gitu ke rumah temen yaw, terus tiba tiba dia nanya "Na, mau bikin foto kayak gini nggak?" Pokoknya tuh Poto yang dia tunjukin art gitu dan posenya sama kayak aku di atas, terus ku iyain aja akhirnya jadi lah Poto begitu, bjir aing dikata cantik anjir Ama temen aing (btw aku yang nggak merem ya) nah kaget kan anjir aing dikata cantik udah lah aing cowok gitu kan kaget dikit nggak ngaruh