LXX

599 25 0
                                        

Agra membuka pintu rumah, menarik tangan seseorang yang bertaut dengannya. "Angga~!" Anggara menoleh.

Tatapan matanya menatap bingung Agra yang membawa seseorang itu. "Kenapa sayang?" Anggara bangkit, menaruh berkasnya di meja kopi lalu mendekati Agra.

"Nama kamu siapa sayang?"

"Marchie!" Anggara mengangguk. "Marchie ada perlu sesuatu kah sama Agra?" Marchie mengangguk.

"Kita ada tugas kelompok kak—bang—om? Hehe"

Anggara tertawa, "panggil Abang saja" Marchie mengangguk. "Minum dulu nih" Anggara membawakan teh hitam dengan es "makasih bang!" Anggara mengangguk.

Keduanya tetap sibuk, "hey, istirahat dulu ngerjain tugasnya" Marchie dan Agra akhirnya bangun untuk minum apa yang disediakan.

"Enak banget~"

Agra tertawa, matanya melengkung mirip seperti bulan sabit. Ia cukup senang memiliki teman, walau tadi yang mendekatinya lebih dulu adalah Marchie.

"Agra kalau di sekolah tidak punya teman kah?" Agra yang ditanya langsung terdiam, tak lama ia mengangguk.

"Marchie juga, temenan ama Marchie?" Agra mengangguk.

Keduanya pun kembali mengerjakan tugas setelah berbincang selama 15 menit. "Okei, udah selesai!" Marchie memekik senang.

Agra ikut bersemangat melihat kelakuan Marchie. "Yeay!" Anggara mengintip dari arah dapur, "Adek, Marchie. Makan dulu ya" Agra menoleh, menatap Anggara dengan tatapan senang.

"Iya sayang?" Agra menggeleng, ia meraih tangan Marchie lalu membawanya ke arah ruang makan. "Marchie duduk di mana aja ya?" Anggara mengangguk.

"Deket Agra boleh?" Anggara kembali mengangguk. "Marchie mau makan apa? Atau Marchie ada alergi kah?" Dirumah hanya ada ketiganya, Gelang dan Arson sedang mengerjakan tugas di luar, sedangkan Alfaro sedang mengurus kantornya.

"Marchie nggak bisa makan keju, bang" Anggara mengangguk. Ia mengambilkan nasi dan lauk yang tidak ada kejunya.

"Kalau Marchie mau sambal ambil sendiri ya" Marchie mengambil piring yang disodorkan padanya. "Okei Abang, terimakasih" Anggara tersenyum.

"Adek, mau pake apa?" Agra menatap makanan yang ada, "mau itu Angga" Anggara menyendokkan nasi lalu mengambilkan lauk yang Agra mau.

"Abang, enak banget makanannya!" Anggara tersenyum saja, "kalau mau nanti boleh kok dibungkus" Marchie menggeleng, "nggak bang, nggak enak Marchie" Anggara menggeleng.

"Bawa saja, dirumah yang makan cuma Abang sama Agra kok" Marchie masih merasa tidak enak sebenarnya tapi melihat Anggara yang dengan riang menawarkan membuatnya tidak enak menolak.

"Oke deh, bang" Anggara tersenyum lebar. Ketiganya sudah selesai makan dan Marchie pun sudah pulang karena tugas keduanya sudah selesai dibuat.

"Anggaaaaa, adek mau nenen" rengek Agra, "iya adek" sebenarnya Anggara sudah menyadari namun mengingat masih ada Marchie membuat Agra sepertinya enggan.

"Bajunya ganti dulu ya" Agra mengangguk. Seragamnya dilepas dan berubah menjadi piyama. Anggara sudah memasangkan popok juga pada anak itu.

"Mau pake gendongan?" Agra mengangguk. Anggara menggendong Agra menggunakan kain, membawanya mengitari kamar tidur mereka.

"Nen~"

Anggara membuka kancing bajunya, membiarkan Agra menyusu padanya. "Hnngh~" Anggara menunduk, menatap Agra yang baru saja merengek itu.

"Abang~" Anggara mengangkat tangannya, menyelipkan rambut Agra di belakang telinganya. "Kita potong rambut besok mau?" Agra menggeleng.

"Nggh~" Anggara menghela nafas, "kamu rambutnya di potong nggak mau, di kuncir juga nggak mau. Maunya gimana hm? Kan nggak enak loh rambutnya panjang begitu" Agra melepas puting Anggara dari mulutnya.

"Adek nggak mau, Anggaaaa" Anggara menghembuskan nafasnya, "oke, kalo nggak mau di potong, tapi di kuncir mau ya?" Agra mengangguk.

Tangannya menggambar abstrak di dada Anggara, "mau nen lagi nggak?" Agra menatap Anggara dengan mata yang penuh dengan air mata, menunggu air mata itu jatuh.

"Oke, kalau nggak jawab" tangan Anggara dengan lihai kembali memasukkan kancing bajunya dan menutup kembali.

"Adek masih mau nenen~" tak lama tangisan Agra terdengar, bahkan sangat kencang. "Adek kalo mau nen nggak usah nangis." Agra memelankan tangisannya.

Anggara kembali membuka pakaiannya, menyodorkan putingnya ke mulut Agra. Agra menghisapnya walau sesekali tersedak karena sesenggukan.

"Udah sayang, cup cup cup" Anggara mengecup pucuk kepala Agra. Kembali menimangnya. Ketika Agra tertidur barulah Anggara menaruhnya di kasur.

Agra sudah tenang di kasur, saatnya menunggu Arson dan Gelang sampai di rumah. Anggara menunggu di ruang tengah, sesekali mengecek ponselnya takut kedua anaknya itu sudah pulang.

Ponselnya berbunyi, menampilkan Arson yang meneleponnya mengatakan keduanya sudah di depan.

"Abang~" Arson dan Gelang langsung menabraknya dengan cara di peluk erat. "Astaga, kalian ini. Sudah malam baru pulang" keduanya terkekeh.

"Hehe, abis tugasnya susah" Anggara menggeleng dengan senyum yang terpatri di wajahnya. "Udah, kalian mandi abis itu tidur ya" keduanya mengangguk.

Arson dan Gelang pun berlari masuk ke kamar masing masing, Anggara kembali mengunci pintu. Ia membawa kakinya kembali ke kamar setelah mendengar rengekan dari Agra.

Perjalanan hari ini selesai dan saatnya beristirahat

AsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang