14. pembunuh?

534 13 0
                                        

JANGAN LUPA VOTE, COMENT & FOLLOW!!!!!!

~HAPPY READING~

"Lo gak boleh pulang, gue mau ngajak lo jalan-jalan," tahan Levia saat Zea hendak pulang ke rumah.

"Vi, gue gak bisa, gue mau pu-"

"Etss, no no no, sekarang gue mau ngajak lo ke pasar dekat sini," potong Levia sambil meletakkan jarinya di bibir Zea.

Levia menarik tangan Zea dan membawanya pergi berjalan menuju pasar. Levia sudah izin kepada ayahnya bahwa nanti ia sendiri yang akan menghubungi untuk dijemput, dan juga telah mendapat izin untuk ke pasar yang tak jauh dari sekolah mereka.

Mereka berjalan sambil bercanda, terkadang pembicaraan mereka berubah menjadi gibah kecil-khas obrolan remaja perempuan yang suka berlanjut tanpa henti.

"Ze, lo punya adik cewek?" tanya Levia penasaran.

Zea menatapnya sejenak. "Kenapa?"

"Gak papa, gue gak pernah lihat. Yang gue tahu cuma abang lo. Itu pun tiga tahun lalu pas nganter lo ke sekolah," jelas Levia.

"Adik angkat," jawab Zea singkat. Ia malas membahas soal Cia.

"HAH?" Levia terkejut. Baru kali ini ia tahu keluarga Wilson punya anak angkat, apalagi perempuan. Bukankah Ara juga perempuan? Untuk apa lagi?

"Terus lo sam-"

"Vi, udah sampai!" potong Zea cepat. Ia tak ingin pembicaraan soal Cia berlanjut. Zea segera menarik tangan Levia, membuat Levia kaget.

Pasar yang ramai mulai menyambut mereka. Banyak penjual yang menjajakan berbagai macam barang dan makanan. Mereka menelusuri lorong-lorong pasar yang penuh sesak dengan orang-orang yang berlalu lalang.

"Kita mau ngapain?" tanya Zea di tengah keramaian.

"Beli permen kapas. Gue yang bayar," jawab Levia sambil tersenyum dan menaikkan alisnya.

"Eummm... oke deh," balas Zea.

Mereka mencari penjual permen kapas. Tak butuh waktu lama karena banyak yang menjualnya di pasar tersebut.

"Pak, dua ya," pesan Levia.

"Siap, Neng," ujar si penjual sambil mulai membuatkan permen kapas untuk mereka.

Mereka duduk di kursi yang disediakan, menunggu permen kapas selesai dibuat. Lebih baik duduk daripada pegal berdiri sambil menikmati pemandangan orang-orang yang berlalu lalang.

"Ini, Neng. Tiga puluh ribu aja," ujar bapak penjual itu sambil menyerahkan dua permen kapas.

"Makasih, Pak. Ini uangnya," Levia menyerahkan uang pas.

"Nih, buat lo. Gue pilih bentuk kelinci, lo panda," kata Levia sambil memberikan permen kapas itu ke Zea.

"Makasih ya, Via. Makin sayang deh," balas Zea tersenyum.

"Bisa aja lu," ucap Levia sambil tertawa ringan.

Mereka mencari tempat duduk untuk menikmati permen kapas yang baru saja dibeli. Zea terlihat sangat menikmati permen kapasnya.

"Hahaha, yang bener Vi?" tawa Zea di tengah-tengah percakapan mereka.

"Bener. Sumpah, gue dimarahin emak gue. Ya udah, gue merajuk aja di kamar," ucap Levia santai sambil mengangkat bahunya.

"Ih, jahat banget. Padahal lo yang salah," ledek Zea sambil menjauhkan wajahnya dari Levia.

"Ya, terserah gue lah. Wleee," cibir Levia sambil menjulurkan lidahnya.

VIA-AMARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang