suara langkah zea yang bergegas menuruni tangga dengan tas yang mengait disalah satu bahu nya, ia berjalan cepat ia tinggal memakai sepatu dan siap ia akan berangkat namun langkah nya memelan saat zea akan melewati meja makan zea melihat darren cia dan Arnold, yang berada di meja makan tapi tidak ada makanan di situ hanya ada buah
"turun juga Lo!? mana makanan yang Lo masak tadi?" tanya cia menatap zea dengan posisi tetap duduk di kursi
zea menyeringit heran kapan ia bilang akan memasakkan untuk mereka ia masak untuk bekal nya ke sekolah "kapan gue masak buat kalian?" tanya zea mengangkat kepalanya
"lah jadi Lo tadi masak buat Lo doang?" tanya cia tak percaya dengan zea bisa bisa nya ia melupakan keluarga nya
"iya" sahut zea dengan santai
"WHAT!!! BISA BISA NYA LO LIAT KELUARGA LO NUNGGU LU BUAT MAKAN DAN LO MALAH MASAK BUAT DIRI LO SENDIRI!!!" geram via dengan meninggi kan suara nya
zea menutup telinga saat cia meneriaki nya tepat di telinga nya mata zea tertutup mendengar suara keras cia
"gak punya hati tau gak Lo!" tambah darren yang kini berdiri memandangi zea
mendengar ucapan darren sontak zea menatap tajam ke arah darren "apa? siapa yang Lo bilang gak punya hati? SIAPA DARREN? SIAPA HAH? bukanya Lo yang sering tampar gue, nyeret gue ke kamar mandi dengan mencekram rambut gue dan Lo juga CEKEK GUE DARREN sampai gue hampir..." ia tak sanggup mengucapkannya ia masih ingat di mana darren menyeret nya dan pada saat itu kepala nya berdarah sakit
"sudahlah, yang lalu gak usah di bahas lebay bnget!"
"lebay??? lo juga sering tampar gue BAHKAN RUSAKIN SEPATU GUE!!! KALIAN tau kalau sepatu itu HANYA GUE YANG BOLEH PAKE! Lo tau itu!! lo tunggu aja cia" smirk zea menatap ke arah cia dengan tatapan sulit yang di artikan, membuat cia menjadi takut
"dasar kamu ze-
"Dan anda tuan Arnold anda tidak pantas di sebut ayah! seorang binatang saja bisa menjaga anak nya dan anda malah ikut menusuk anak mu sendiri anda bahkan lebih gila dari binatang!" setelah mengatakan itu tanpa pikir panjang ia langsung pergi meninggal kan cia Darren dan Arnold yang masih mematung
~~~~
entah kenapa hari ini mood zea sedang tidak bagus, ia rasa semua orang yang berpapasan dengannya membuat nya kesal mungkin kerna hari ini adalah hari pertama ia mens dan sebelum berangkat sekolah saja ia harus bertengkar dengan keluarga nya
"ssshhh argh" ringis zea kala sakit yang di perut nya mulai terasa menusuk, langkah nya terpaksa terhenti akibat sakit di perutnya, itu normal bukan?
namun zea berusaha untuk berjalan sembari memegangi perut nya yang semakin menusuk, ia benci rasa sakit nya, ia berharap segera sampai kelas kalau tidak uks rasa sakit di perut nya membuat nya hampir menangis
zea berjalan tertatih namun ada tangan yang merangkul pundak nya membantu nya berjalan "Lo gak papa?" zea menoleh ke arah sumber suara yang di dekat nya
dan ternyata Rakha?! sial! hari ny benar benar sial ia muak melihat wajah Rakha suasana sedang buruk tolong jangan memperburuk ke adaan "pergi!" tepis zea dan berjalan tertatih dengan tangan yang masih stay memegangi perut nya
"yakin?" tanya Rakha tanpa ekspresi
"gue bilang pergi ya per- ARGHHHH" sial rasa sakit di perut nya kembali menusuk hingga membuat nya menggerang keras dengan mencekram perut nya
Rakha yang melihat itu panik dan langsung menggendong zea menuju uks "turunin gue Rakha!!!" geram zea sembari menahan sakit di perut nya
"diam!" dan entah kenapa ucapan Rakha kali ini mampu membuat nya terdiam, sepanjang jalan menuju uks tentu saja banyak saksi mata yang melihat mereka, mereka kembali membicarakan yang tidak tidak tentang zea
dan sesampai nya di UKS Rakha langsung membaringkan zea di brankar dengan hati hati, ia bisa melihat wajah pucat zea di penuhi peluh yang membasahi wajah nya, mata nya terus memejam kuat tangannya mencekram perut nya dan saat itu juga Rakha berlari keluar
slah satu pengurus PMR membantu zea, dengan mengoleskan minyak kayu putih serta kompres di perut nya kerna memang sekolah mereka tak di beri izin untuk mempunyai obat pereda nyeri haid, mereka hanya membantu dengan bahan seadanya
"masih sakit?" tanya salah satu pengurus PMR tadi
"mulai mendingan, terima kasih" jawab zea sembari tersenyum
"iya kalau gitu saya permisi" ucap nya dan di angguki oleh zea, ia pun pergi meninggalkan zea
perut nya mulai mendingan tak terasa sesakit tadi, ia kan beristirahat sebentar lalu kembali ke kelas, belum sempat ia memejamkan mata nya laki laki itu kembali
"makan!" perintah Rakha menyodorkan plastik yang berisi beberapa roti dan susu
"gak! apaansi" tolak zea tanpa menoleh ke arah rakha
"kalo gak minum air hangat!" tegas Rakha pada zea mampu membuat zea bingung dengan tingkah Rakha
"ngapain peduli? kalo nya Lo benci sama gue Lo bisa aja tambah sakit yang ada di perut gue Rakha" imbuh zea dengan penuh penekanan
"g-gue, gue gak peduli" bantah nya kuat
"terus?! Lo sengaja bantu gue dan bawa makanan dan minuman ini buat racunin gue kan?" tanya zea menantang dengan tatapan yang tak pernah Rakha temui
"gue gak sejahat itu, gue masih punya hati!" sahut Rakha menatap zea
"gak jahat? punya hati? lupa kalau Lo pernah tampar dan maluin gue depan umum? lupa kalau Lo sering katain gue 'jalang murah' tanpa tau perasaan gue gimana saat itu? lo lupa atau emang itu kepribadian Lo buat nyakitin orang Rakha?" tanya zea yang muak dengan rakha
Rakha yang mendengar ucapan zea panjang dan penuh penekanan Hanya bisa terdiam, ia bingung harus menjawab apa? apa ia salah membantu zea? lagi pula ia juga ingin memastikan kalau zea itu adalah wena
"PERGI!!" muak zea dengan memalingkan wajah nya kesamping seolah tak mau lagi melihat wajah rakha
rakha tak tau harus berbuat apa, zea sudah berbeda sangat berbeda dengan yang dulu, rasa bersalah nya menyelimuti seluruh tubuh nya, "makanan nya gue taruh di meja jangan lupa di makan, gue keluar"
*
*
*
TYPO BERTEBARAN MAAF YAAAWW
JANGAN LUPA VOTE NYA GAIS
KAMU SEDANG MEMBACA
VIA-AMARA
RomanceVIE-AMERE -Kehidupan Yang Pahit bagaimana jika harus mengejar laki laki yang tidak memperdulikan mu, saat itu juga kamu harus bersaing dengan sahabat mu yang dulu nya yang kau anggap saudara mu sendiri itulah yg di rasakan zea, Nazea Arabella Wilson...
