45. makan malam rumah rakha

502 11 0
                                        

hari sudah mulai malam, yang awal nya sore kini mulai menggelap menjadi malam, sendiri tadi zea yang awal nya niatnya membantu wanita itu dan sekarang ia malah berada di rumah wanita itu sampai nanti nya makan malam

zea ikut membantu Dinda di dapur, i ikut memasak untuk makan malam nanti, mata zea tak sengaja melihat anak kecil yang sedang bermain dengan mainan kecil nya "aku gak tau loh bund kalau vano punya adik" ucap zea yang tangannya sibuk memotong sayuran

untung nya ia pernah belajar masak dengan bik izah sampai ia memberikan bekal pada rakha namun di tolak, tapi sudah lah itu bukan masalah besar namun bisa buat sakit hati

"iyalah orang kamu gak pernah lagi ke rumah bunda, udah lama banget udah hampir 6 tahun loh dulu waktu SD sering banget kamu ke rumah, umur aclio aja udah 5 tahun" balas Dinda dengan terkekeh

namun zea bisa mendengar suara mobil yang berhenti di rumah nya Dinda, zea menyeringit heran siapa yng datang? "bund itu ayah ya?"

"bukan lah ayah kan pulang pas makan malam nanti jadi pas ayah pulang makanan sudah siap"

"terus itu siapa bund?"

"mungkin van-

"assalamualaikum bundaa" seseorang mengucap salam dari luar, zea mengenal suara itu yaitu vano dan Rakha

"wa'alaikumsalam BUNDA DI DAPUR SAYANG!" teriak Dinda dengan menoleh ke belakang

"hehe maaf ya"

"gak apa bund"

"bunda kit- LOH!! kak zeaaa?!!" vano kaget kerna keberadaan zea di rumah nya begitupun dengan Rakha ia juga kaget kenapa zea bisa sampai ke rumah nya

"nah rakha! nih zea kamu kangen kan pasti?!" goda Dinda sembari tersenyum menatap ke arah rakha

"oh hai Rakha" sapa zea seolah olah zea tak mengenal Rakha, vano bahkan kaget apa maksud zea begitupun Rakha

"h-hai" sahut Rakha

"loh baru sapaan sekarang, emang pas di sekolah gak tau?" tanya Dinda penasaran

"zea gak tau bund kan zea beda kelas sama Rakha, lagian wajah Rakha beda zea susah kenalinnya" ucapan zea sedikit menyindir Rakha, bukan kah Rakha yang tak mengenali zea? Rakha tersenyum miris mendengar nya

"ouh pantes" tertawa tipis

"udah ah vano mau nyusul aclio ya bund, eh bund, Abang mending suruh bantuin bunda aja, sekalin pdkt lagi sama ka zea" pinta vano sembari menggoda Rakha

"ah boleh, nih Abang lanjutin punya bunda, bunda mau ambil piring dulu" ujar Dinda yang menyetujui saran vano

vano hanya bisa tertawa geli melihat Abang nya yang malu, tak tau mau buat apa "byeee" tawa vano dengan melangkah kan kaki nya keluar dapur

"eh bund aka gak bisa" elak vano

"tuh minta ajarin zea aja bang, zea tau kan bunda tinggal dulu ya" dan sekarang Dinda juga meninggalkan dapur hanya tersisa Rakha dan zea

"i-ini di apain?" tanya Rakha hati hati namun ragu

"aduk aja dulu" balas zea tanpa menoleh dan dengan wajah datar nya

Rakha mengikuti perintah zea untuk mengaduk kuah yang sedang berada di atas kompor namun lama kelamaan tangannya mulai pegel "sampai kapan naz?" keluh Rakha yang mulai pegel, namun malah mendengar kata yang beda yaitu 'naz' itu kan nama panggilan nya waktu dulu bisa bisa nya Rakha masih ingat, dulu rakha menyebut nya dengan wena namun ia tambah z jadi nya Naz

"gue zea" barulah di situ Rakha sadar kalau ia salah sebut nama

"matiin aja kompornya udah mendidih itu" Rakha mengangguk dan segera mematikan kompor namun ia agak kesulitan dan di bantu oleh zea

"gue bantu bikin adonan nya ya ze" tawar Rakha yang tengah fokus memperhatikan zea membuat adonan kue

"boleh, nih" zea menyerahkan mangkok yang berisi tepung pada Rakha, Rakha menyambut nya

Rakha mengaduk adonan sesuai perintah zea, banyak sekali adonan kue yang muncrat ke wajah Rakha akibat ia mengaduk ny tak hati hati

"ck belepotan banget si wajah Lo" kesel zea membersihkan wajah Rakha dengan kain putih, hingga zea tak sengaja menatap wajah rakha, mereka terdiam berdua, sampai akhir nya zea sadar dan melepaskan kain itu ke wajah rakha

"s-sory" astgaaaa apa pipi zea memerah sungguh memalukan

rakha hanya bisa tertawa melihat wajah zea padahal mereka belum baikan

****

akhir nya yang di tunggu tunggu tiba 'makan malam' dan makan malam kali ini spesial kerna ada zea, apalagi posisi nya zea duduk di samping Rakha membuat suasana semakin canggung

"ayo di makan zea"

"iya ayah" sahut zea mengangguk sopan

"Bun tolong ambilin ayam kecap itu Dong!" pinta Rakha, kerna ayam itu tidak berada di dekat nya

"kenapa gak minta ambilin kak zea aja bang?" sial vano suka banget jahil, gak ada malu nya

dengan terpaksa zea mengambil kan ayam kecap itu yang tak jauh dari nya "nih, lagi?" tanya zea berusa sopan, dan lembut

"ih so sweet deh cocok banget jadi mantu bunda kamu ze" Dinda tersenyum bahagia melihat anak sulung nya yang kini akhir nya bertemu dengan teman lama nya

Rakha tersenyum mendengar nya kemudian ia mendekatkan wajah nya ke telinga zea diam diam "mantu gak tuh" bisik Rakha dengan Terkekeh

'ck bnhsd' zea mulai kesel, ia menginjak kaki Rakha lumayan keras "aargh" ringis Rakha merasakan ngilu di kaki nya

"bang kenapa?" tanya bunda khawatir

"astga kenapa ka?" ikut zea dengan tersenyum penuh kemenangan Rakha bis melihat itu

"ah gak apa apa Bund" jawab rakha nyengir

"bikin khawatir aja kamu bang"

"hehe maaf ya"

acara makan terus berjalan, dan dengan berani Rakha kembali mendekatkan wajah nya ke telinga zea diam diam "jadi Lo beneran wena?" astaga naga apa yang Rakha lakukan mereka bisa ketahuan jika be gini

"gue bukan wena yang lu maksud" balas zea berusaha untuk tidak berisik

"kal-

"diem!!" tekan zea menatap tajam ke arah Rakha mampu membuat Rakha diam seribu bahasa

***

"makasih ya bunda, ayah udah ajakin zea makan bareng zea seneng banget" ucap nya dengan tersenyum ramah dan memeluk Dinda

"iya ze, kaya sama siapa aja" tulus Dinda dengan mengelus pundak zea

"kapan kapan kamu ke sini lagi ya ze kalo bisa sering sering ke sini bunda kangen tau"

"iya, kapan kapan zea ke sini"

"klo bisa ajak wenda jua ke sini biar bunda punya teman" zea kaget dengan ucapan Dinda, apa Dinda tau kalau sebenar nya wenda masih hidup

"bunda tau?" tanya zea hati hati

Dinda hanya terkekeh dan tersenyum sembari mengangguk kecil, "kok bisa?" tanya zea penasaran

"Tante kan pernah kontakan sama oma kamu"

zea mengangguk paham berarti Dinda lebih dulu tau tentang wenda dari nya

"kalau gitu zea pamit ya bund ayah" pamit zea menyakini Dinda dan leam

"tunggu"

VIA-AMARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang