"ZEAAAAAA" mendengar nama nya zea memejamkan matanya nya saat levia dengan keras berteriak masuk
"Vi.. jangan teriak" ucap zea sembari menatap tajam ke arah via
"gak gak Lo gak papa kan ze? mana yang sakit? kenapa gak telpon gue si? siapa yang bawa Lo sampai sini Ampe rami sekolah ngomongin Lo?!" tanya via beruntun dengan tangan yang memegang wajah zea panik
astga zea, lagi lagi Lo jadi pusat perhatian untuk kesekian kali nya "r-rakha yang gendong gue ke UKS" ucap ze hati hati dengan memelankan suaranya
"APA?? WAHT THEEEEE FUCK!" kaget levia reflek menodongkan wajah nya pada zea
"viii!! gak gue doang Loh di sini!!!" tegur zea kesal
"eh" ucap nya tak sengaja menutup mulutnya dengan kedua tangannya. kannn sekarang siapa yang malu coba? kedua ny lah
"maaf maaf maaf reflek gue sumpil beb" sambung via dengan menyatukan kedua tangannya memohon maaf
"kebiasaan Lo!"
*****
sejak kejadian tadi entah kenapa Rakha di penuhi rasa khawatir, bersalah, kesal, marah campur aduk ia khawatir dengan zea ia juga ada rasa bersalah dengan perilaku nya yang dulu dan ia juga kesal pada diri nya sendiri kenapa bisa membantu zea ia marah dengan sikap zea yang sok sokan menolak nya
"Rakha kamu gak papakan?" tanya seorang perempuan yang tiba tiba duduk di samping Rakha, entah dari mana perempuan itu
Rakha menoleh "pergi!" geram Rakha pada Reva kenapa Reva selalu mengganggunya? ia muak dengan orang yang sok akrab dengannya ia tak suka
"Rakha aku ada di sini kamu bisa cerita sama aku, aku ada buat kamu Rakha, masalah semalam aku minta maaf dan itu Zea lah yang awal nya Rakha bukan salah aku percaya sama aku" ucap reva dengan penuh khawatir dan keyakinan
"bukti cctv ada! Lo bisa apa?!" tanya Rakha
"a-aku aku benar-benar gak sengaja Rakha zea yang dulua-
"DIAM!! PERGI REVA!!" muak Rakha dengan tingkah laku reva
dengan terpaksa dan kesal Reva pergi ia tak mau membuat diri nya terluka hanya dengan mendekati Rakha, lain kali ia bisa membuat Rakha jatuh di tangannya tapi tidak untuk sekarang
setelah Reva pergi Rakha mulai terdiam mengingat kejadian tadi ia penasaran dengan ucapan vano ia ingin membuktikan ucapan vano apa itu benar kalau zea menggunakan kalung pemberiannya? dan ia ingin membuktikan kalau zea itu adalah wena, semua tentang zea menghantui kepala nya
di sisi lain zea sudah berada di dalam kelas kerna perut nya sudah tidak keram lagi, via juga siap membantu zea walaupun hari ini zea agak nyebelin suka marah marah tidak seperti biasanya, baru kali ini zea berani memarahi levia dulu saat zea mens tak.pernah seperti ini
"zeee gak bosan di kelas mulu?" tanya via dengan tanya yang mencoret coret buku nya malas ia bosan
"terus?" tanya zea tanpa menoleh ke arah via
"kantin yu lagian udah jamkos abis jam ini juga istirahat" jawab nya sembari membujuk zea
"ck malas gerak gue" ucap nya malas
"ayolah Zee Lo gak mau Nyemil apa?" tanya nya pada zea, tangan cia tarus menggoyangkan tangan zea
"ck ayo" ucap nya malas
dengan senang hati via beranjak dri kursi ia bersama zea berjalan menuju kantin, di jalan via bergumam tak jelas zea malas menghiraukannya ia fokus ke jalan
"ze!" sentak via yang mampu membuat zea kaget dan terhenti
zea menatap via dan mengangkat kepalanya sebentar seolah olah bertanya kenapa?
"ada inti evorster" ucap via, via sangat malas jika bertemu dengan mereka apalagi mereka tak tahu tahu mengatai zea
"terus?" tanya zea santai dan kembali berjalan
mendengar jawaban zea yang tak ada takut takut nya membuat via tak jadi menghentikan zea "gak jadi"
mereka berjalan ke lantai melewati meja inti evorster, sudah biasa kalau mereka berada di meja kantin sebelum waktu istirahat mereka sering bolos bahkan guru BK saja sudah enek melihat wajah mereka
tidak ada yang berani melapor mereka ke BK kerna akan berhadapan dengan bevan dan Aldo, kerna dulu pernah satu siswa yang pernah melapor inti evorster ke BK ujung ujung nya pria itu pulang dengan ke adaan babak belur bahkan besok nya siswa itu tak hadir padahal niat nya baik untuk mereka juga tapi apalah daya merek lebih kuat
"hei" sentak bevan dan menarik tangan zea hingga membuat zea terhenti tepat di meja makan mereka
zea memejamkan matanya menahan emosi nya "gak caper lagi? atau ini cara Lo untuk caper ke Rakha?" tanya bevan dengan kekehannya
dengan keras ze menepis tangan bevan "bicara sama gue?" tanya zea santai dengan jari yang menunjuk nya
bevan yang merasa ucapannya tak di pedulikn zea kini mulai tersulut emosi
"liat deh cewe murahan yang dulu nya selalu dekatin Lo ka sekarang jadi belaga hebat" ucap bevan dengan menekan setiap kata nya
zea hanya tersenyum miring mendengar ucapan bevan yang banyak omong kosong nya "liat deh bev kayanya dia nya aja pakai topeng makanya mulus gitu atau gak oplas upsss hahahahah" tambah bara dan di akhiri tawa oleh mereka
"iri? gue tau muka Lo semua kaya aspal kan kasar, bergerigil, item, banyak debu nya! makanya muji gue sampe gitunya" kekeh zea menatap malas ke arah mereka
mendengar ucapan zea membuat semua terkejut sekaligus marah "Lo!!" geram Bastian yang mulai tersulut emosi
"awas aja Lo ngemis ngemis ke Rakha" tambah Aldo sembari terkekeh pada zea dan menatap ke arah rakha
Rakha hanya bisa terdiam mencerna apa yang baru saja terjadi pada zea, apa mungkin zea mengalami transmigrasi? seperti di novel novel orang yang berubah drastis itu bisa saja transmigrasi bukan? atau zea mempubyai penyakit yang mengenai otak nya? ia tak suka pada zea yang sekarang yang berhenti mengejarnya
"apa? lu tuli? bukannya gue udah bilang GUE BERHENTI DEKETIN RAKHA!! dan bukannya baru aja pagi tadi Rakha yang paksa gendong gue? bukannya dia yang ngejar gue?" sahut zea dengan pertanyaan yang membuat semuanya kaget begitupun via
mereka semua menatap ke arah rakha tak percaya "pergi vi, males lama lama sama orang budek bego lagi" ucap zea dengan menarik tangan via menjauh dari mereka, bisa bisa nya zea mengatai inti evorster berhadapan langsung tanpa ada rasa takut takut nya
*
*
*
typo bertebaran, penulisan masih banyak yang salah, maaaf yaaaw
KAMU SEDANG MEMBACA
VIA-AMARA
RomanceVIE-AMERE -Kehidupan Yang Pahit bagaimana jika harus mengejar laki laki yang tidak memperdulikan mu, saat itu juga kamu harus bersaing dengan sahabat mu yang dulu nya yang kau anggap saudara mu sendiri itulah yg di rasakan zea, Nazea Arabella Wilson...
