50. ayah reva teman Arnold

636 13 1
                                        

semua orang sudah pergi meninggalkan rumah zea, kini hanya tertinggal, rakha, via, reva, darren, arnold ,wenda, dan cia

"cape juga bjir" ucap reva terlihat energi nya habis setelah membagi hadiah untuk tamu tamu cia

"ck gitu doang ngeluh lo" sahut via menatap malas ke arah reva

reva berjalan ke arah cia dan menampar wajah cia "gue sudah anggap lo adik gue sendiri ci! lo hianati gue? i hate you!!" ucap nya penuh kebencian

reva berjalan mendekati zea dan memeluk nya
"makasih ze kalau gak ada lo mungkin gue gak lama lagi akan mati di tangan mereka, seperti vera" ucap reva tulus dengan tangisan lega nya

hal itu tak luput dari pandangan cia

"terus lo mau apain mereka?" tanya zea pada reva

"gue udah gak mau berurusan sama mereka, biar pihak berwajib aja yang hukum mereka" jawab reva dengan berusaha tersenyum

"GAK!! gue gak mau" tolak cia mendengar ucapan Reva, ia tak mau menetap dan membusuk di penjara

"diam!" titah rakha dengan memelototi mata cia, cia hanya bisa diam dengan tangisan nya

"bawa dia ke luar" perintah zea pada rakha, rakha mengangguk dan berjalan di belakang zea dengan cia

"mom?" kaget cia melihat ibu nya di borgol dengan polisi di samping ibu nya

"serlen?!" kaget arnold, tak percaya di hadapannya adalah serlen, istri sambung almh temannya

serlen dan cia di masukkan ke mobil polisi, dan di bawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan

"kenapa?" tanya Reva herannn, apa yang di maksud arnold

"cia anak kandung damar?" tanya arnold

"bukan, saya anak kandung damar" jawab reva dengan tatapan sama heran

"akhirnya ketemu"

"kenapa?" tanya zea, darren dan reva bersamaan

"damar menitipkan perusahaanya padaku untuk mu anak muda" jawab Arnold, sungguh sempit dunia

"perusahaan sempat mengalami penurunan akibat ada yang meretas keuangan, 4 tahun yang lalu" ungkap arnold yang mengejutkan semua orang

"jadi ke new York itu untuk perusaan om damar?" tanya zea

"ya" sahut arnold

reva hanya terdiam, mencerna apa yang baru saja terjadi, rasanya ia ingin menangis jika mengingat nasih nya

zea mendekat ke arah reva dan tersenyum "sudah, gak usah bersedih va, gue tau lo kuat" ucap zea sambil menepuk pelan bahu reva

"iya, mungkin setelah gue lulus gue akan kuliah di sana dan meneruskan perusahaan papah gue" balas reva tersenyum dan memeluk zea

"aduhhh pusing guee" ujar levia tak paham dengan semua nya, kenapa bisa reva dan zea begitu dekat? dan apa hubungannya cia dengan Reva

mereka tertawa melihat wajah levia yang kebingungan

"makasih ze, akhir nya gue bisa lepas untuk deketin rakha" lega reva yang mampu membuat mereka kembali kebingungan

"maksud lo?" tanya rakha

"gue gak pernah suka sama lo, gue lakuin itu buat zea makin hancur aja" jawab nya jujur

"jadi selama ini lo cuman sandiwara aja deketin rakha?" tanya via yang masih belum paham

"iya" jawab nya enteng tanpa dosa

"anjr lahhhh, gue butuh penjelasan lo zeaaa, gue pusing" zea mulai muak

"no anter gue pulang, ayo va" levia menarik tangan vano dan reva untuk masuk ke mobil vano

"DADAH ZEAAAA" pamit via saat sudah masuk mobil vano bersama reva

zea hanya bisa tertawa ringan melihat tingkah levia dalam mobil, yang kini mulai menjauh

"loh terus gue?" tanya rakha, zea baru saja masuk ke rumah nya bersama wenda terhenti mendengar suara rakha

"lo kalo mau masuk, masuk klo pulang ya udah" jawab zea

rakha melihat darren yang menatap tajam ke arah rakha, "gue pulang" rakha memutuskan pulang ketimbang berhadapan dengan darren

"oke bye bye" zea melambaikan tangannya dengan tawa nya kala melihat wajah takut rakha

setelah itu zea menatap ke arah darren tajam, ia tau ini ulah darren ia tak suka dengan cara darren mengusir rakha

"ayo sayang" ajak wenda masuk ke dalam rumah , dan diangguki oleh zea dengan senyuman yang mengambang

sedangkan darren dan arnold terdiam dan saling pandang, melihat zea dan wenda berjalan tak menghiraukan mereka itu sungguh sakit

*****

malam hari berikutnya tak seperti biasanya, zea terus tersenyum bahagia bersama wenda, mereka batu saja datang dari kamar zea mereka menghabiskan waktu bersama

makanan sudah siap di meja makan, hari ini bik izah banyak memasakkan makanan untuk mereka, bik izah semangat memasakkan makanan untuk mereka malam ini

zea dan wenda duduk di kursi berdampingan, zea terus bercerita tanpa henti, dan juga tertawa riang kala mendengar jawaban ibu nya

"mah kaka sama papah gak di Panggil?" tanya zea menatap ibu nya heran, biasanya wenda selalu memanggil darren dan arnold, kerna mereka selalu tak perduli atau tak menyempatkan makan

"biarin bunda kesel sama mereka" ujar nya dengan memperlihatkan wajah kesel nya

"tapi nanti kalo gak makan bisa sakit mah, apalagi papah kan banyak kerjaan" zea mencoba membujuk wenda

"em.... nanti biar bik izah aja yang panggil mereka" putus nya dengan memanggil bik izah dan menyuruh untuk makan malam

"udah cepet makan" suruh wenda sambil menambahkan lauk kesukaan zea

zea melahap makanan nya dengan senang hati, begitupun wenda selalu suka dengan masakan bik izah apalagi beberapa tahun ini wenda tidak pernah lagi mencicipi masakkan bi izah

tak lama datang arnold dengan darren mereka hanya diam, zea bisa melihat nya, mereka menunggu wenda menuangkan lauk nya ke poring mereka biasanya seperti itu tapi seperti nya malam ini tidak

"kenapa?" tanya wenda menatap darren dan arnold hanya diam menatap nasi nya

"mah, lauk nya?" tanya darren menatap wenda

"tuh banyak ambil sendiri kaya gak punya tangan aja" zea meringis mendengar ucapan wenda baru kali ini ia melihat wenda sekesal itu dengan kakak dan ayah nya

zea merasa bersalah dengan ayah dan kaka nya, tapi ia juga masih merasakan sakit kala mengingat kejadian itu

*brak

zea, darren, dan arnold tersentak kaget, mendengar suara hentakan dari wenda

"kalau makan cepat ambil, jangan diam seperti orang patung, kalian pikir mudah memasak ini? kalau tidak mau, tidak usah!!" bentak wenda pada darren dan argan yang dari tadi hanya diam menatap nasi tanpa ada niatan memakanya

VIA-AMARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang