HAIII!! Gimana nih kabar nya??
sehat sehat yaa, aku harap ada yang baca cerita 'VIA-AMARA' kali ini, juga semoga suka dan betah ya
*
*
*
~HAPPY READING ~
***
Di rumah aclio sedang bermain
bersama vano, vano suka sekali menjahili adik nya itu rasanya kurang kalau tidak membuat aclio menangis
"WHAAHAHAH cengeng bet dah" ejek vano saat melihat aclio menangis
"Aaaa bundaa" tangis aclio semakin kenceng
"Buat lagi lah!" Ucap vano dengan enteng setelah menghancur kan mainan aclio
Aclio mulai berhenti menangis ia mulai membangun mainan nya itu setinggi mungkin sedangkan vano ia menonton tv sambil rebahan lagian bunda nya juga sedang pergi jadi aclio tidak bisa mengadu
Cukup lama vano menonton tv mata nya beralih ke arah vano melihat mainan vano yang cukup tinggi ide jahil nya muncul kembali
*Brak
"Aaaaaaaa" teriak aclio saat mainan nya roboh
"WHAAAHAHAH" tawa vano kencang puas sekali ia menjahili aclio
"Assalamualaikum"
"Whahahah muka lu anjr" tawa vano sambil memoto wajah aclio saat merengek
"WOII LO APAIN ADIK GUE!!" Bentak rakha pada vano
"W-wa'alaikum salam" jawab vano yang nge blank
Vano kaget sejak kapan rakha pulang biasanya juga Rakha pulang menjelang malam, tumben banget
"Gak gue apa apain anjr emang dia nya doang yang cengeng ouuuuuu" ejek varo pada aclio yang mampu membuat aclio makin kenceng nangis nya
"Duhh diam ya nanti abang beliin es cream deh" bujuk rakha pada adik kecil nya itu
Sedangkan vano ia tak perduli ia lebih memilih melanjutkan menonton tv nya namun di tengah tengah menonton tv ia baru ingat ada yang ia sampai kan untuk rakha
"Bang!" Tepuk vano di belakang punggung Rakha dan membuat rakha kaget
Rakha sedang menemani aclio makan es cream di meja makan tiba tiba saja vano menepuk nya mulai belakang gimana tidak kaget coba?
"Napa?" Ketus nya
"Gue mau pindah ke sekolah lu" ucap nya dengan percaya diri
*Ukhuk ukhuk
Rakha yang tersedak meminum air putih dan beralih menatap adik nya vano ia melihat wajah vano yang sangat percaya diri dengan menurun naik kan alis nya
"Gak apaan gue gak setuju!" Tolak rakha
"Ck! Papah yang nyuruh gue pindah soal nya papah mau ke luar kota dan gak ad yang nganter gue!" Jelas vano pada rakha sambil berjalan duduk di samping rakha
"Pake motor lu lah!"
"Bunda gak gk bolehin katanya ikut mobil lu" jawab nya enteng sambil memakan makanan di tangan rakha dan semakin membuat Rakha kesal
"Ck kapan lu mulai sekolah?!" Tanya rakha dan meminum air yang baru saja ia tuang
"Besok" jawab nya enteng
*Ukhuk ukhuk
"Anj cepet banget!"
"Serah gue lah"
***
Seorang gadis sedang berada di halaman belakang rumah nya bersama art nya, gadis itu zea yang sedang bersama bi izah mereka berdua sedang menyiram tanaman
Zea suka membatu bi izah lagi pula ia di rumah kesepian kalaupun jalan jalan pasti pulang nya ia bakal kena marah, zea lebih dekat dengan bik izah dari pada ayah nya sendiri dan kakak kandung nya, apalagi cia zea sangat membenci perempuan itu
"Bik" panggil zea pada bik izah yang di samping nya tanpa menoleh mata masih menatap tanaman yang ia siram
"Kenapa non?" Tanya bi izah yang menoleh ke arah zea
Zea menoleh dan menatap bi izah dalam "bik aku yah yang udah buat mamah gaada?" Tanya pelan
Tentu saja bik izah terkejut mendengar nya tangannya melepaskan selang dan memegang pundak zea "gak non zea, itu semua kehendak allah musibah gak ada yang tau den"
"Tapi mereka nyalahin zea bik bahkan fisik zea juga ikut rasain sakit" ucap nya sendu sambil menunduk
Bi izah mendekat dan memeluk zea ia tau sekarang zea butuh pelukan rasa sakit nya cukup dalam, kekejaman gernald pada zea tak tanggung tanggung apalagi darren yang hampir membuat zea mati
"Gak, mereka sayang non zea cuman cara mereka beda" bi izah mencoba menenangkan zea dan meyakinkan bahwa keluarganya tidak jahat
"Cara mereka bikin zea sakit bi" isak nya dalam pelukan bi izah
"Zea benci sama cia bi zea benci!" kesal zea jika mengingat wajah cia
"Iya bibik tau bibi juga tak suka sama dia, dia udah jahatin non" geram bi izah pada cia jujur saja ia juga tak suka cia, bagaimana cara nya berbicara saat ada gernald dan darren itu lembut tapi pas gak ada ia semena mena pada bik izah
Bi izah mengusap belakang zea "udah yah jangan nangis" kekeh bi izah pada zea
Zea berhenti menangis dan melepaskan pelukannya nya sambil membalas senyuman bik izah, bik izah sangat baik padanya, jika ada masalah zea akan cerita ke bik izah ia rasa bik izah adalah pengganti orang tua yang tidak memperdulikannya
"Masuk dulu gih udah mau ujan non"
"Siap bik" seru zea sambil meletakkan tangannya di dahi nya seolah hormat
Zea berjalan ia ingin mandi sekarang badannya sudah lengket, ia melangkahkan kaki nya menuju tangga, namun langkah nya terhenti saat melihat benda yang sangat ia kenali
Zea menghampiri benda yang sudah rusak itu dan betapa terkejutnya ketika ia tau bahwa benda itu adalah sendal kesayangan nya yang di berikan oleh mamah nya wenda
ia meringis melihat sendal nya yang sudah rusak 'miris!' padahal ia sangat menjaga sendal itu ia juga baru beberapa kali memakai nya, terakhir ia melihat cia yang meminjam sendal nya
Ia ingin sekali mencabik wajah cia namun ia urungkan kerna itu sama saja membuat keributan ia takut ayah dan kakak laki laki main fisik lagi terhadap nya
Ia membawa sendal itu ke kamar nya ia akan menyimpannya walaupun sendal itu sudah tidak bisa di gunakan
KAMU SEDANG MEMBACA
VIA-AMARA
RomanceVIE-AMERE -Kehidupan Yang Pahit bagaimana jika harus mengejar laki laki yang tidak memperdulikan mu, saat itu juga kamu harus bersaing dengan sahabat mu yang dulu nya yang kau anggap saudara mu sendiri itulah yg di rasakan zea, Nazea Arabella Wilson...
