mendengar pertanyaan yang di lontarkan via pada darren, darren juga ikut heran kapan via mengabari nya pesannya saja tidak ada "kapan? gak ada dan gak pernah ada" jawab darren
mendengar jawaban darren via mengambil ponsel nya dan menampilkan room chat nya yang di mana ia mengirim pesan pada darren namun tak di balas hanya di read nya
"nomor lu kan bang? bahkan lu read loh berarti lu sempat baca pesan yang gue kirim" imbuh via dengan menunjuk hp nya
sesaat darren melihat tanggal yang dikirim via dan ia baru ingat satu hal di mana cia pernah berada di samping ponsel nya pada hari itu apa mungkin ia cia? darren menatap ke arah cia membuat cia keringat dingin ia menggeleng kan kepala nya cepat
"gue ga-
"udah lah vi males gue ladenin orang gila" potong zea dan langsung menarik tangan via untuk naik ke atas tangga dan menuju kamarnya
mereka semua kaget dengan tingkah zea yang berbeda, bahkan sekarang zea menggunakan kata 'gue' bahkan darren juga merasa kalau zea jauh dari nya seakan akan hilang sikap sopan zea pada nya
****
sudah lama zea berada di kamar nya sedangkan via? via sudah pulang sejak tadi, dari tadi zea hanya uring uringan di kasur ia bosan terlalu lama di kasur dan perutnya juga sudah mulai berbunyi cacing cacing yang ada di perut nya juga mulai kelaparan membutuhkan asupan
dengan malas dan berat hati zea melangkah kan kaki nya keluar untuk mencari makanan yang ada di kulkas ia menuruni tangga menuju kulkas
sesampai nya di sana ia hanya melihat hanya ada beberapa bahan makanan tidak banyak, mungkin BI izah juga belum datang jadi balum ada yang beli bahan makanan dan mungkin saja mereka pesan makanan atau makan di luar
zea mengambil telur dan bahan lainnya untuk ia buat nasi goreng yang di ajarkan BI izah dulu, ia menyalakan kompor dan mulai memasak untuk ia makan
"ngapain?" tanya seorang laki laki yang ia tau jelas siapa pemilik suara laki laki itu, yaitu kakak nya sendiri darren
zea tak menjawab ia fokus ke nasi goreng nya, mungkin darren mata nya mines atau karatan jadi ia tidak melihat kalau jelas jelas zea sedang masak
"dari mana aja Lo selama ini pergi selama itu dari rumah? ngejalang?" tanya darren sembari tersenyum smirk
zea terdiam sebentar
"budeg? via udah jelasin semua, dan siapa yang jalang? cia?" tanya zea balik
jawaban zea membuat darren kesal namun zea tak memperdulikannya toh ia ke bawah untuk makan bukan untuk berdebat
masakan zea sudah jadi ia menyajikannya di atas meja namun belum sempat ia mencicipi nya cia yang datang entah dari mana langsung mengambil alih nasi goreng zea yang sudah ia masak
zea merampas kembali nasi goreng nya dengan memukul tangan cia
"gak bisa masak? jadi beban aja ya bisa nya? kasian banget si muka nya Kaya orang jalanan yang kelaparan" sindir zea tepat di hadapan cia dan darren
"bang!!" adu cia membuat zea tersenyum smirk dan terkekeh
"jaga ucapan Lo ARA!!" bentak darren dengan melayangkan tangannya
dengan cepat zea menepis tangan darren kasar
"GUE ZEA!!! NAZ.E.A ARABELLA" sahut zea lantang bukannya kenyang zea malah di buat tidak nafsu dengan melihat wajah mereka
"dan yang jaga ucapan gue atau Lo darren?" tanya zea menatap tajam ke arah darren dengan menyebut nama darren
ucapan zea membuat darren terdiam tanpa sepatah kata
"diam kan Lo" zea membawa piring nya berjalan pergi menuju kamar
namun belum sempat ia melangkahkan kaki nya, langkah nya terhenti saat tangan seorang pria paruh baya menariknya hingga berbalik untung saja piring yang ia pegang tidak terhempas dan pecah hanya saja nasi nya agak tumpah, kali ini mereka benar benar memancing amarah zea
zea meletakkan. piring nya di meja "apa lagi tuan ARNOLD SAYA MAU MAKAN DAN JANGAN GANGGU SAYA!!" teriak zea tepat di muka Arnold
"jangan jadi anak durhaka Ara!!, berani sekali kamu teriak di hadapan saya!!" geram Arnold dengan tingkah zea yang keterlaluan menurut nya
"anak durhaka? ANAK DURHAKA?? HEIII!!! TUAN ARNOLD BUKAN KAH ANDA SENDIRI YANG BILANG KALAU SAYA B.U.K.A.N A.N.A.K ANDA???!!!" tanya zea penuh dengan amarah kali ini benar kan? jujur zea tak sanggup mengatakan nya ia menahan tangisanya, mata nya sudah berkaca kaca sebisa mungkin ia menahan air mata itu
Arnold hanya diam, mengingat ucapan zea benar ada nya dulu ia pernah berucap kalau zea bukan anak nya dan tidak Sudi memiliki anak seperti zea jadi ucapan zea itu benar
zea terkekeh dengan ekspresi wajah Arnold "zea hanya anak mama, dan di rumah ini tidak ada yang nama nya 'A R A' hanya ada wena nya mama wenda" setelah mengatakan itu zea naik ke atas membawa makanannya dengan cepat dan menutup pintu kamar nya dengan kencang
di hati nya Arnold jujur ia sakit mendengar pernyataan zea kalau zea tidak menganggap nya sekarang, bahkan ia juga kaget dengan sikap zea yang berubah drastis tak ada sopannya dengannya dan seperti nya ia sudah kehilangan sosok putri kecil nya dulu
begitu juga dengan darren ia juga merasa bersalah, kerna nya lah adik kecil nya berubah seperti ini dan saat zea mengucapkan nama wenda jujur ia merindukan sosok seorang ibu yang selalu menemani nya seperti dulu, dan kenyataan nya zea memang lebih dekat dengan wenda, zea bahkan membuat nama nya wena 'wenda dan Nazea'
***
seorang perempuan dengan wajah pucat keringat dingin ia berbicara lewat telpon dengan seseorang
"lu gimana si? jangan sampai ibu tau soal ini bisa bisa kita yang kena imbas nya!!" peringat gadis itu yang di sebrang sana dengan amarah nya
"gua harus gimana semua di luar rencana!!!" sahut nya dengan gemetar namun tercampur dengan perasaan kesal marah gelisah
"gue gak mau tau! jangan sampai identitas kita ketauan!! Lo mau bangkrut kedua kalinya?" tanya gadis itu dengan tegas
ia semakin takut dan gelisah semua nya di luar rencana mereka "gue harus gimana??!!!! HAHHH!!"
"GUA GAK MAU TAU!!!!" teriak gadis itu dan langsung mematikan ponsel nya secara sepihak
ia yang takut campur gelisah kini pikiran nya ke sana ke mari tak karuan, semua nya membuat nya gila alur hidup yang harus nya ia jalani malah hancur akibat rencana licik nya sendiri, kenapa harus menyimpang?
KAMU SEDANG MEMBACA
VIA-AMARA
RomanceVIE-AMERE -Kehidupan Yang Pahit bagaimana jika harus mengejar laki laki yang tidak memperdulikan mu, saat itu juga kamu harus bersaing dengan sahabat mu yang dulu nya yang kau anggap saudara mu sendiri itulah yg di rasakan zea, Nazea Arabella Wilson...
