baru kali ini zea melihat ayah dan kakanya takut, darren dan arnold bergegas mengambil lauk sampai tertumpah tumpah, dan itu membuat wenda semakin marah
"PELAN PELAN!!" kali ini suara nya lebih tinggi dari sebelumnya zea meringis mendengar nya
"zea ayo ke kamar, mamah gak nafsu makan di sini" imbuh nya menarik lengan zea dan menyuruh bik izah membawakan makanan ke kamar zea
sedangkan darren dan arnold hanya bisa memandang orang tersayang mereka pergi meninggalkan mereka tanpa peduli sedikit pun
"pah gimana? mama gak akan maafin kita setelah apa yang kita lakukan selama ini" lirih darren memandang ke arah arnold meminta jawaban
"jangankan kamu Darren papa juga bingung, sudah lama papa merindukan ibu mu" jawab nya tak kalah sendu
di kamar zea menatap ibu yang tengah kesal
"mah zea kaget tau tadi" kekeh zea melihat bagaiman akting wenda, sebenarnya itu tadi adalah rencana mereka berdua
"hahahaha mamah gak kuat lihat wajah papah zea" tawa wenda terbahak bahak melihat wajah suami nya
"zea nahan tawa tau tadi mah, tapi rada takut juga" cengir nya
"mamah juga takut sebenarnya sayang, tapi mama kesel" ujar wenda dengan wajah kesal nya, ia takut juga dengan arnold belum pernah seperti ini, tapi ia kesel jua dengan mereka kerna sudah semena mena dengan zea
mereka melanjutkan cerita sambil tertawa tawa, hingga tak sadar mereka tertidur di lantai dengan berpelukan
arnold yang dengan sengaja membuka pintu kamar zea dengan hati hati tak menyangka melihat pemandangan yang begitu indah dunia nya kini tertidur pulas, di bawah kasur
Arnold memasuki kamar zea, untuk mengambil selimut zea dan menyelimuti mereka tak lupa arnold memberikan bantal di kepala wena da zea, tak mungkin ia mengangkat mereka ke kasur dalam posisi berpelukan seperti itu yang ada mereka bangun dan marah pada arnold
****
seperti biasa subuh subuh wenda sudah bangun, ia baru sadar kalau mereka tertidur di lantai, tangan wenda agak pegel kerna tertindih kepala zea
wenda keluar untuk mandi, dan menyiapkan bekal anak dan suami nya, tapi mungkin bekal hanya untuk zea tidak untuk darren dan Arnold
wenda ke dapur, membantu bi izah masak itu memang kebiasaan wenda dari dulu iku masak kalau pagi, bi izah masak sarapan sedangkan wenda sibuk menyiapkan bekal
"bik nanti nori nya potong panjang aja ya" suruh wenda menyerahkan sebungkus nori pada bi izah
"baik bu!" semangat bi izah, akhir nya ia bisa masak bareng wenda walaupun awal ia tak percaya kalau wenda akan balik lagi, ia tau semua tuduhan itu salah
"hahaha semangat banget bi" kekeh wenda melihat bi izah yang antusias
setelah selesai menyiapkan bekal zea, wenda ke kamar zea intuk membangunkan zea, apalagi ini hari senin akan ada upacara ia tak boleh telat
"zea.... bangun" panggil wenda sembari membuka jendela kamar, yang cahaya nya langsung mengenai mata zea
"eugh mamah 5 menit lagi ya" tawar zea membalik badan nya membelakangi cahaya
"udah gak ada 5 menit, sekarang zeee" wenda duduk dekat zea mencoba membangunkan zea
"iya" zea duduk mengucek mata nya
"ayo mandi setelah itu sarapan" ajak wenda menyodorkan handuk pada zea
zea menyambut nya lalu pergi ke kamar mandi, sedang-kan wena ia turun ke bawah menata makanan
"bik tolong suruh darren sama papah turun sarapan" pinta wenda pada bi izah, bi izah menanggapi nya dengan mengangguk
tak lama suara kaki datang menuju meja makan, ia arnold ia lebih dulu sampai dari pada darren dan zea
"mah zea sama darren mana" tanya Arnold menatap sekeliling
"gak tau" sarkas wenda kembali fokus pada makanannya
"masih marah?" tanya arnold lirih
"pikir aja sendiri, ibu mana yang gak marah liat anak nya di pukul?" tanya wenda menatap dengan tatapan benci pada arnold
"a-aku gak tau sebenar nya mah, anak sialan itu yang menghasut aku sama darren"
"udah deh gak usah bawa bawa orang, situ ngikutin aja" sindir wenda tanpa menatap ke arah arnold
"mah maafin aku, aku bahkan gak rau harus lakuin apa biar kamu maafin aku"
"ngapain minta maaf sama aku, emang selama ini aku ngerasa di tampar? di caci? gak di anggap sama kamu? gak kan" pernyataan itu mampu membuat arnold terdiam
"aku su-
"MAMAH!!!" seru zea berlari memeluk wenda yang sudah siap dengan seragam sekolah nya
wenda dan arnold tentu kaget mendengar suara zea yang lantang, apalagi langsung memeluk wenda, sebegitu tak maunya ia kehilangan wenda untuk kedua kali nya, begitupun dengan arnold
"loh darren mana?" tanya zea heran
"nakal ya sekarang gak pake kak lagi" sahut darren yang baru saja turun dari tangga menatap jengkel kearah zea lalu mengacak rambut zea
"iiihh mamah liat" pekik zea kesal mencoba merapikan rambut nyaaa
wenda yang mulai pusing, jahilnya darren tak berubah, begitupun dengan pengaduan zea
"udah ah ayo makan" perintah wenda tak mau memperbesar
zea menatap tajam ke arah darren "ingat! gue belum maafin lo jangan bersikap sokap" peringat penuh penekanan yang zea mampu membuat darren terdiam, dan kata kata itu juga di dengar oleh Arnold dan wenda
zea akan memaafkan mereka berdua tapi tidak sekarang rasa sakit nya masih membekas bahkan luka nya masih ada, wenda memaklumi tindakan zea
mereka makan dengan diam tak ada kata sedikit pun yang keluar dari mulut mereka zea juga sudah terlanjur malas untuk memulai topik
"mah zea selesai" ucap nya yang sidah menghabiskan makan nya ia beranjak mengambil tas nya di sofa
"bekal zea mana?" pinta nya sebelum menyalimi tangan wenda
astaga wenda lupa, ia menepuk jidat nya dan bergegas ke dapur mengambil bekal zea, zea harus bawa bekal kalau ke sekolah ia bisa tidak makan kerna malas menunggu
"nih" wenda menyodorkan bekal untuk zea dan tangannya untuk zea salim
"eh tunggu"
"kenapa mah?"
"sendiri?"
"iya"
"sama mamah aja ayo" ajak wenda mengambil salah satu kunci mobil Arnold tanpa izin lagi pula arnold tak berani menghentikan wenda
zea dan arnold kaget bukan main saat wenda mengambil kunci itu di saku arnold, bahkan darren ingin tertawa kala melihat wajah papa nya yang ingin marah tapi tak bisa, itu mobil yang sering di bawa arnold untuk bekerja, sekarang ia akan bawa mobil yang lain
"mah darren ikut, darren takut kehilangan untuk kedua kali nya mah" lirih darren menatap punggung wenda
langkah wenda terhenti mendengar ucapan darren, wenda berbalik menatap darren dan arnold, tatapan yang susah untuk di artikan
"lebih baik hilang bersama zea dari pada melihatnya tersiksa bersama keluarga"
TBC
end yaa guys, kalau mau extra part nya komen aja nanti aku up kelanjutan zea sama rakha, dan zea sama keluarga nya
kalau kalian penasaran aja sii!! wkwkwkwk
aku males bikin S2 nya jadi aku jadiin extra part aj yaaaw hehehhehe
KAMU SEDANG MEMBACA
VIA-AMARA
RomanceVIE-AMERE -Kehidupan Yang Pahit bagaimana jika harus mengejar laki laki yang tidak memperdulikan mu, saat itu juga kamu harus bersaing dengan sahabat mu yang dulu nya yang kau anggap saudara mu sendiri itulah yg di rasakan zea, Nazea Arabella Wilson...
