42. sikap darren

549 10 1
                                        


vano terkekeh melihat Abang nya yang menyembunyikan rasa frustasi nya "udah percaya kalau ka zea itu KA wena?" tanya vano pada Rakha

sontak rakha menoleh ke arah vano "gak tau gue belum liat kalung yang Lo maksud" jawab rakha menatap vano sendu

vano menyeringit heran "lah? masalah kalung doang lu? ck elahhh besok besok Lo belajar di gue aja gimana caranya liat kalung KA zea gue yang baru login aja udah tau mas Lo kaga" imbuh vano dengan sombong dan angkuh nya

bisa bisa nya ia berbicara seperti itu di dekat Rakha apa dia tidak tau kalau rakha sedang di ada semangat hidup dalam diri nya dengan sombong nya vano mengatakan hal itu seolah olah ia meremehkan rakha

Rakha hanya menatap vano dengan malas "goblok! kenapa gk Lo foto aja anj" kesal Rakha pada vano, kenapa dari awal vano tidak menunjukan bukti berupa gambar?

"ya mana bisa kepikiran ampe situ anj Lo si pake tolak KA zea sudah kan sekarang" sahut vano tak mau di salahkan

bukannya memberi semangat pada Rakha ia malah menyalahkan Rakha, iya tau kalau rakha salah tapi kan ia juga butuh di support, masalah nya sekarang bukan lah mudah zea sudh berhenti mendekati Rakha sikap nya benar benar berbeda sudah untuk nya mengetahui siapa wena dan mendekati zea

"fck!" ucap Rakha dengan beranjak berjalan malas meninggalkan vano yang sedang menatap ke arah rakha di ruang tv

sementara itu disisi lain zea tengah rebahan di sofa sambil menonton tv dan memakan cemilan dengan Santi tidak seperti biasanya, dulu waktu libur zea ikut bersih bersih, berkebun, memasak bersama baik izah namun sekarang berbeda ia lebih memilih rebahan ia juga merasakan lelah jadi ia akan beristirahat untuk beberapa hari ini lagi pula bik izah sudah pulng jadi ia tak perlu repot repot bersih bersih sendiri

lagi asik asik nya menonton tv tak lama Pintu luar terbuka seseorang tengah berjalan masuk namun zea menghiraukannya "asik banget" ucap laki laki yang baru saja masuk rumah dan berhenti saat melihat zea

zea bangun dan duduk seolah olah ia memberi ruang untuk orang itu duduk "biasa aja" jawab zea malas tanpa menoleh ke sumber suara ia malah fokus menonton kartun sambil makan cemilan

laki laki itu duduk di samping zea "ra-

"zea" potong zea mencoba untuk mengingatkan darren, ia benci dengan sebutan Ara, cia lah yang pertama.kali menyebutnya dengan sebutan Ara membuat orang rumah menyebutnya Ara dan terbiasa sampai sekarang

darren meneguk ludah nya dan mengangguk, ia bahkan seperti angin tak di nggap setiap zea bicara ia tak menatap darren "gak bosen ze nonton tuyul?" tanya darren penasaran

"HEH!! muka Lo tuh tuyul, enak aja kartun kesayangan gue di bilang tuyul!!" ujar zea tak terima dan kini ia menatap kesel ke arah darren

"lah kan bener kepala nya botak punya rambut aja di tengah doang anjr" ucap darren sambil menunjuk kartun upin Ipin yang membuat zea kesal

"lupa Lo? kalau Lo suka sama kartun Maruko?" tanya zea nyolot tak terima

"masih mending Maruko lah dari pada tuyul" kekeh darren membalas zea yang terlihat semakin kesal

"gak ya!! apaan Maruko anak manja yang memanfaatkan kakek nya doang!" cibir zea

susah untuk mengatakan kalau darren suka bercanda dengan zea jarang Sekali bahkan bisa di bilang tak pernah lagi ia bisa bercanda dengan zea, ia merasakan kehangatan ia rasa rumah nya kembali seperti dulu, ia suka dengan situasi yang sekarang

namun tak terduga darren tertawa melihat wajah kesal zea, zea heran dan semakin bingung dengan darren 'gila' pikir zea apalagi darren mengacak rambut nya semakin membuat zea kesalll

"KAKAAAAA!!! Lo ke - " entah kenapa zea terhenti ia sadar kalau ia sudah terlalu jauh ia harus ingat dengan janji nya dengan levia lagian ia juga harus ny tak perduli dengan darren

ucapan zea yang tiba tiba berhenti membuat darren menyeringit heran apalagi kini sikap nya juga berbeda tiba tiba saja ia diam dan kembali tak memperdulikan darren

"kenapa ze?" tanya darren heran dan penasaran

zea terus terdiam dan tak menghiraukan darren, hal itu semakin membuat darren bingung apa salah nya? namun tak lama zea berdiri berjalan menuju dapur menghampiri bik izah

darren terdiam sebentar kalau berjalan mengikuti zea yang menghampiri bik izah "loh ngapain non?" tanya bik izah melihat zea yang sudah berada di samping nya dan tengah melihat nya

"bik ze mau bantu soal nya bosan" ucap zea sambil menatap bik izah

"loh ze gue tanya tadi Lo gak jawab kenapa tiba tiba bosan?" tanya darren yang tidak paham dengan tingkah zea

"ck pergi aja Lo males banget gue liat cia yang liatin gue dari tadi main aja Lo sana sama cia" kesal zea yang dari tadi di lihat cia seakan akan ia lah yang mengajak darren bermain

"dasar caper" dan muncul cia berbicara seperti itu di depan tv ia duduk di sofa yang baru saja duduk setelah zea pergi

"ABANG LO NIH SOK ASIK!" teriak zea pada via berharap cia mendengar nya, malas sangat malas jika berhadapan dengan darren dan cia

"ze gue suka Lo yang bisa ngelawan gak lemah lagi tapi di sisi lain gue ju-

"ck diem deh muak gue!" muak zea dengan tingkah darren yang tidak bisa di tebak, lebih baik ia pergi meninggalkan mereka

"bik zea ke kamar dulu yawww dadah" pamit zea tersenyum sambil melambaikan tangannya ke bik izah yang mampu membuat bik izah tersenyum apalagi tadi zea sempat memeluk bik izah sebentar

hal itu tak luput dari darren jujur ia iri melihat nya, bik izah juga melihat wajah darren yang murung setelah melihat zea pergi "non zea den?" tanya bik izah hati hati

"zea emang sedeket itu ya bi sama bibi?" tanya darren penasaran

bi izah terkekeh "iya zea itu orang nya suka peluk  tarus manja banget, sekali nya sedih ia susah cerita dan sekali seneng cuma sekali sangat jarang bibi melihat zea tersenyum seperti sekarang" jelas bik izah membayangkan wajah zea yang tersenyum seperti tadi

darren yang mendengar nya lumayan teriris dan juga membayangkan bagaiman dengan hari hari nya pasti penuh dengan luka

*****

typo bertebaran

VIA-AMARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang