"Pas banget gue udah beresin tu sampah dari rumah ini bentar gue ambilin" cia pergi mengambil plastik yang berisi baju zea
Dan tak lama ia kembali membawa 2 plastik dan 1 koper "tuh bawa aja tu sampah" cia melempar barang itu ke arah vano dan revan
"Heh ja-
"Nih, gue sebenarnya mau ngambil tapi kek gak ada harga nya jadi gue kembalikan" potong cia sembari melempar kalung ke arah vano
"Gitu"
"Berani banget kalian hahaha" tawa zea mendengar cerita revan
"Kak? Ini kalung kaka?" Tanya vano pada zea
"Ck ya iya lah kan cia dapet di kamar zea gimana sih lo" geram via kala mendengar pertanyaan itu
"I-iya"
Mendengar itu vano benar benar tersenyum senang "Kaka beneran kak wena??" Tanya nya memastikan
"Kamu ingat?"
"Pasti nya kak, kaka pernah cubit aku waktu kecil" kekeh nya mengingat masa kecil dulu
Zea tersenyum mendengar nya "jad ini alasan kaka ngejar ka rakha?" Tanya nya menunggu jawaban zea
"Iya no, namun sayang aka gak kenal aku, dan yang kenal aku malah adik nya" imbuh nya dengan tertawa miris di akhir nya
"Hah?" Via yang tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan
Vano sadar kalau revan dan via tidak tau soal ini "jadi kak zea ini adalah kak wena di mana bang rakha suka sama ka wena sampai sekarang bahkan" ungkap nya
"Tapi kalian jangan kasih tau rakha ya!" Pinta nya dengan nada memohon
"Lah? Kan bagus dia sadar kalian bisa bahagia" bibgung via dengan permintaan zea
"Aku mau dia nerima aku yang sekarang dengan zea bukan wena" ujar nya walau sulit
"O-uh oke jadi lo masih mau ngejar rakha?" Tanya via memastikan
"Kayanya-
"APA? LU MASIH MAU?" Belum selesai zea bicara sudah di potong oleh via dengan wajah geramnya
"G-gak makanya kayanya gue coba untuk lupain rakha" ucap zea ragu ragu
"Gue mau balik sama vano" ujar revan tiba tiba
Vano sebenarnya tak mau pulang namun ditarik oleh revan "eh cepet amat" ucapan via membuat revan berhenti
"Gue mau tidur ya kan no"
"Hah? I-ya" vano yang tak tau apa apa ia hanya bisa mengikuti apa kata revan padahal ia masih ingin bercerita dengan zea
"Okelah bye bye" sahut via saat mereka berjalan menuju mobil revan dan melambai kan tangannya di ikuti oleh zea yang juga melambaikan tangannya
"Tak
Via menutup pintu nya "loh teman kamu yang tadi mana vi?" Tanya ibu bingung yang tengah beberapa membawa cemilan dan minuman
"Baru aja pulang bu" sahut nya menghampiri ibu nya dan di iringi zea
"Yah padahal ibu udah buat loh jadi gak enak"
"Apanya yang gak enak? Kalau gak enak nanti kasih kucing aja, kalo gitu sini cemilan nya biar kami cicipin dulu" sahut via mengambil wadah yang berisi cemilan itu dari ibu nya
"Yuk ze ke atas" ajak via dan menyuruh zea membawakan 2 minuman botol yang memang ibu nya bawa tadi
Zea mengangguk dan menurut "zea ambil ya bu" izin zea dan angguki ibu, ia mengikuti langkah via
Sang ibu hanya geleng melihat tingkah anak nya, lalau pergi ke dapur untuk meletakkan sisa minuman tadi
Sedangkan zea dan via yang sudah berada di kamar zea "non ini barang nya" ucap art via yang membawakan barang zea ke kamar nya
"Taru di dekat lemari aja bi" sahut via
"Eh ze lu mau berubah gak?" Tanya via hati hati membuka topik
"Maksudnya berubah kaya gimana?" Tanya zea yang bingung dengan pertanyaan via
"Emm maksud gue lu berhenti pakai baju gede dan make up gak rata ke sekolah lu di katain gue gak suka" imbuh nya dengan wajah kesal
"Yaudah terserah kamu aja aku ngikut" balasan zea membuat via kaget san seneng bukan main
"Oke lu harus belajar make up mulai besok!"
"Dan biasain dong ze jangan pakai aku-kamu, lo-gue aja biar membuktikan kalau lu bener benar move on dari rakha" tambah nya
"Iya gue udh pake dari dulu!"
"ya tapi sama gue doang yang lain enggak!!" kesal via
"Iya gue coba"
"Tuh bisa kek nya ku udah sering pake lu-gue"
"G-gak!" Panik zea
"Hahah gue bercanda kenapa panik gitu atau bener lagi hahahaah" tawa zea mengisi satu ruangan
"Tidur yuk" ajak zea sekaligus mengalihkan topik
"Balum ngantuk, kita nonton aja yu" tolak via dan mengajak nonton di laptop nya
"Boleh"
KAMU SEDANG MEMBACA
VIA-AMARA
RomanceVIE-AMERE -Kehidupan Yang Pahit bagaimana jika harus mengejar laki laki yang tidak memperdulikan mu, saat itu juga kamu harus bersaing dengan sahabat mu yang dulu nya yang kau anggap saudara mu sendiri itulah yg di rasakan zea, Nazea Arabella Wilson...
