Bagian 37

1.1K 65 4
                                        

Hingga pukul Sembilan malam aku, dr.fadly beserta Deny membahas alur dalam pelaksanaan Medical Chek-Up besok. Untuk hari pertama lebih diutamakan para pimpinan terlebih dahulu. Dibantu Deny, aku telah membuat alur para peserta medical chek up mulai dari proses registrasi hingga selesai. Biasanya perusahaan bekerjasama dengan rumah sakit khusus jika melaksanakan kegiatan ini, oleh karena klinik perusahaan telah beroperasi maka semuanya dilaksanakan oleh dokter internal perusahaan. Menjelang pukul sepuluh, Dr. fadly pamit mengatakan akan menginap di apartemen sepupunya. Secara tersirat aku sudah paham maksudnya. Siapa lagi kalau bukan Pak Pria. Karena beberapa kali aku menangkap percakapan mereka yang menjadi alasan kesimpulan itu mengerucut di kepalaku.

Anak-anak sudah lebih dulu tidur, tumbelina hanya akan tinggal jika aku memintanya tinggal, rumah kedua orangtuanya letaknya di belakang Gedung apartemen. Meski harus memutar, menurutnya hal itu lebih baik daripada harus tidur di tempat asing.

“Jadi, udah ketemu ayang-ayangmu Dit?,”cerocos Deny dengan tatapan menyelidik saat aku keluar dari kamar mandi.

“Udah, tadi langsung inspeksi dadakan pula,”kataku acuh.

“Serius? Laki ya, gak mau rugi, emang laki kamu ngomong apa lagi?”

“Ya seperti biasa, minta aku pulang, minta maaf dan sebagainya,”tambahku

“Terus? Kamu iyain?”

“Nggaklah Den, dia harus nepatin janji, sambil aku nenangin diri, karena ternyata hal ini tidak semudah yang aku bayangkan sebelumnya.”

“Apanya yang nggak mudah?”

Aku ikut duduk bersama Deny di sofa. Mata sahabat di hadapanku terlihat sangat ingin tahu. Lagipula selain Miro, Deny adalah salah satu sahabat baikku sejak di kampus hingga saat ini. kami melalui banyak hal hingga bisa sampai di titik ini. Bedanya, Deny, adalah wanita kelewat tangguh, sedangkan aku? Baru aja berusaha Tangguh. Kalau ketangguhan Deny bawaan dari lahir, nah, aku? karena keadaan. Mungkin kalau tidak ada keadaan, aku gak bakalan memaksa diri menerima job dari Dr. Fadly karena udah kenyang dengan fasilitas yang tersedia dari mas Dygta.

Dulu, Deny sempat cuti kuliah tiga semester. Aku hampir mengira dia hilang ditelan bumi, karena kami para teman satu Angkatan hampir saja menggalang donasi demi membantunya agar bisa menyelesaikan kuliah kedokteran. Aku mengetahui kekejaman ibukota, kerasnya kehidupan malam di Jakarta juga berkat Deny, wanita di hadapanku. Kelak aku ingin sekali mengenalkan anak perempuanku bahwa wujud kekuatan wanita tanpa batas, ada pada diri temanku, Radeny Ramdani Rahman.

Hanya, setelah kehilangannya hampir dua tahun, ada yang berbeda, Deny tidak lagi menampilkan wajah layaknya orang susah, sebaliknya, dia berubah menjadi wanita yang berbeda, dan kami sangat menyadari itu. Desas desus kabar ada yang mengatakan Deny menjadi simpanan Om-Om, ada pula yang mengatakan Deny menang lotre, ada pula yang mengatakan Deny dapat warisan. Namun, hingga saat ini semua pertanyaan itu belum terjawab, Deny tertutup tentang itu.

“Suamiku beneran selingkuh Den, aku udah buktiin sendiri,”ucapku akhirnya, dan spontan membuat Deny berdiri dan mengeluarkan sumpah serapah. Yah, satu lagi, mulut Deny hampir sama pedasnya dengan Ibu mertuaku. Cara mereka merespon sesuatu saat panik kadang membuatku geleng geleng kepala.

LUKA HATI DITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang