Bagian 47

2K 102 3
                                        

Asal istri dan keluargaku tidak boleh tahu 47

Mata kami berpandangan lama. aku yang lebih dahulu berpaling dan menutup mataku rapat-rapat. Tidak mudah bagiku meredam emosi, sangat tidak mudah. Mas Dygta tahu bagaimana cara memojokkanku. Dan itu membuatku kesal luar biasa. Kenapa aku merasa semua kelakuan Mas Dygta menjadi kekanak-kanakan?

“Aku akan Kembali ke rumah besok,”sahutku masih berusaha meredam gejolak emosi pasca kejadian tadi. Aku melihatnya seketika tersenyum. Rona bahagia mencuar dari wajahnya.“Hanya aku, anak-anak tetap di apartemen,”sambungku. Kesimpulan makin mengemuka di hatiku. Bahkan aku tidak peduli saat mengamati sorot tegang di wajah Mas Dygta. Urat-urat di sekitar lehernya terlihat jelas. Lampu samping restaurant bahkan tidak mampu menutupi bagaimana jelasnya aku bisa membaca raut wajah Mas Dgyta.

“Maksud kamu?”

“Aku akan mengembalikan semua ATM dan hal-hal lain, aku akan megembalikan semuanya termasuk kunci rumah, aku jamin tidak akan membawa apapun,”tambahku. Kurasa air mataku mulai menggenang. Aku tidak sanggup mengatakannya. Aku tidak sanggup.

“Apa maksud kamu bilang ini, DIt? Kamu pasti paham kalau aku marah maka aku gak bakalan main-main,”ancamannya makin membuat hatiku merasakan sakit. Para pria memang paham bagaimana cara membuat kami terpojok lalu menggunakan kesempatan itu untuk mempersempit pilihan yang ada.

“Mas tahu apa maksudku, dan apa yang mau aku lakukan,”biskku berusaha tanpa emosi

“Tidak. Aku tidak tahu, dan tidak akan pernah mau tahu,”bentaknya mulai hilang kendali. Napasnya naik turun, seolah ia tahu apa maksudku.

“Terserah,”kataku akhirnya. Kami Kembali berpandangan, kilatan peristiwa awal-awal kebersamaan kami dan kebahagiaan kami saat memiliki kembar berputar dan berpendar di sekelilingku. Lalu berganti dengan kilasan peristiwa perang dingin yang tidak berkesudahan, amarah, hinaan, ketidakpedulian Kembali membuatku merasakan jika apa yang akan kuputuskan hampir mendekati final. Lalu suara Mas Dygta mengangguku, sangat menggangguku. Dia maju medekatiku, napasnya seolah tertahan. Ada serbuan emosi yang berhasil kurekam saat melihatnya mengutarakan kata-kata yang pada akhirnya membuatku Kembali lemah selemah-lemahnya.

“Jika ingin mengembalikan sesuatu, yakinkan dirimu kamu bisa mengembalikan semuanya Dita, utuh. Karena sejak delapan tahun yang lalu, ada yang sudah kamu ambil dariku, dan tidak akan pernah bisa kamu kembalikan bagaimanapun cara kerasnya usahamu,”ungkapnya lalu lebih dulu melangkah kembali menuju ruangan meeting tanpa menoleh padaku lagi.

Aku masih masuk lagi menuju kamar mandi dan menenangkan diriku selama beberapa menit. Aku mengumpat dalam hati menyesal tidak membawa lipstick karena tidak menduga sama sekali akan terjadi hal seperti ini sebelumnya. Aku bukan wanita yang terbiasa menggunakan milik orang lain, pilihanku hanyalah meratakan warna yang tersisa, dan secara sembunyi memolesnya saat di dalam ruangan nanti.

Utuh? Apakah dia pikir dia tidak menyakitiku? Apakah dia pikir hanya dia yang perlu dijaga perasaannya? apakah dia pikir aku baik-baik saja dengan semua ini? Apakah hatiku akan utuh Kembali setelah semua ini? Aku berteriak frustrasi dalam hati mengingat apa yang sudah kuterima dari Mas Dygta tadi. Berani-beraninya dia menciumku setelah satu tahun dia tidak pernah sekalipun menghargaiku.

LUKA HATI DITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang