Bagian 49

1.5K 75 0
                                        


Sudah dua jam aku menunggu di depan apartemen yang disinggahi Dita. Dengan akses yang kupunya sebagai karyawan perusahaan, mudah bagiku mencari alasan masuk apartemen hanya dengan modal nama Dita dan memperkenalkan diriku. Apalagi setahun pertama saat aku bekerja di perusahaan, aku pernah tinggal di salah satu unit di apartemen ini sebelum membangun rumahku sendiri.

Aku tidak bisa memungkiri jika pikiranku berkecamuk. Berbagai alasan hinggap di kepalaku saat melihat Dita masuk ke apartemen yang aku tahu bukan apartemen miliknya. Ya, aku harus masuk apapun resikonya. Harus.

Dengan Langkah tergesa aku masuk dan menanyai petugas. Serta memperlihatkan kartu identitasku. Mereka menanggapi dan menanyakan keperluanku. Aku mencoba keberuntunganku jika mungkin saja Dita pindah apartemen tiba-tiba mencuat dalam pikiranku. Sedikit banyak aku mengenal Dita luar dalam. Aku menggunakan alasan jika anakku sakit sehingga istriku Dita tidak bisa menjemputku di bawah. Saat melihat petugas melakukan pengecekan dan benar ada penghuni baru dari perusahaan PT GAW yang baru menempati Uunit di lantai dua puluh. Maka tak memakan waktu salah seorang security menemaniku masuk dalam lift. Aku inisiatif membuka pembicaraan dengannya seolah peduli dengan hal-hal remeh tentang apartemen , padahal dalam hati, hatiku beriak, kuatir jika dia tahu aku berbohong lalu menyuruhku menelepon Dita.

“Bapak bisa jalan sendiri ke kamar 2021?,”

“Bisa. Tidak perlu mengantarku, jika terjadi sesuatu akan kukabari,” jawabku santai padahal dalam hati berbagai praduga telah memenuhiku sejak tadi.

Yang aku tahu Apartemen ini hampir separuhnya adalah apartemen yang sering digunakan perusahaan buat para karyawan yang baru bekerja atau mengalami kendala dalam menemukan tempat tinggal. Salah satu tujuanku ingin bertemu Dita tentu buat berdamai. Apalagi kami ke Kalimantan bersama, maka mau nggak mau anak-anak harus dibawa. Aku lebih memilih anak-anak ketinggalan sekolah selama beberapa bulan daripada tidak bersamaku atau bersama Dita. Ini adalah harga mati yang telah kupikirkan beberapa jam tadi.

Saat memastikan security telah turun terlebih dahulu, aku segera mengetuk pintu kamar Dita. Dita membuka pintu, alisnya terangkat. Jelas jika dia terperangah melihatku. Lalu kulihat anakku Gunda keluar dari sebuah ruangan. Saat melihatku ia refleks berlari lalu memelukku. Tanpa segan aku menerobos masuk dengan Gunda dalam gendonganku. Nah, inilah Namanya keberuntungan.

Saat aku melangkahkan kaki dan melihat tatapan menelisik dari wanita siluman yang tempo hari memberiku senyuman maut yang maha mengerikan, kurasa bulu kudukku meremang. Lalu kulihat ia Kembali tersenyum. Sungguh perasaanku tidak enak

“Dita, nurut kamu, aku tinggal nginap disini, atau pulang aja DIt?”

Sialan.

“Kalau nurut penerawanganmu gimana Den? Kamu baiknya nginap atau pulang sekarang?”

Ingatkan aku buat menandai teman Dita yang satu ini. Aku tidak suka senyumnya, matanya, wajahnya. Mengerikan. Aku jamin jika ada pria yang menyukainya, pria itu pasti gila atau sakit jiwa.

“Nurutku sih, ini udah malem banget, aku takut pulang sendiri DIt, jadi sesuai permintaan kamu, aku nginap dan bobo sama kamu ya? Eh suami kamu bobonya dimana Dit? Eh masih suami kamu kan , papinya Gunda, Dit?”

Sabar Dygta. Sabar. Siluman memang bukan lawanmu. Yang waras ngalah.

“Nurut kamu, Den?”sambung Dita acuh tak acuh lalu mengambil tempat duduk di sebelah temannya.

“Ya, nurut aku sih, ehmmm…. Mending aku gak susah ngomong deh, nanti bakalan ada yang dendam lagi sama aku, DIt, musuhnya udah banyak, nambah satu lagi kayaknya udah gak muat,”sahut si wanita licik. Hih. Setahun Dita bergaul sama wanita ini aku jamin Dita pasti akan banyak mengalami masalah. Aku sangat tidak suka dengan siluman kunti ini. Berbisa.

Setengah marah aku memilih masuk ke kamar milik Gunda. Saat membuka pintu dan menyalakan lampu aku melihat Manik, anakku,  juga telah tertidur pulas. Aku menidurkan Gunda di ranjang satunya, dan memilih ikut tidur bersamanya setelah memadamkan Kembali lampu kamar. Kurasa kepalaku juga lumayan berat karena tak lama setelah Gunda tertidur, akupun ikut tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, badanku lumayan letih, semua badanku sakit. Aku melirik ke arah jam dan melihat waktu menunjukkan pukul tiga. Sadar aku belum mencuci wajah, kakiku Kembali menginjak lantai dan keluar dari kamar. Keadaan ruangan tengah sekaligus ruang tamu ini sangat gelap. Aku mencari saklar, dan segera menemukan kamar mandi. Butuh waktu lima belas menit bagiku mengosongkan kantung kemih dan membersihkan wajah.

Saat keluar dari kamar mandi, aku memadamkan Kembali lampu, lalu melirik ke arah pantry, dan mencari sesuatu yang bisa kumakan. Meski tidak terlalu terang, aku bisa melihat jika ada beberapa kudapan yang bisa mengganjal perutku. Saat membuka kulkas, aku melihat air jeruk khas buatan Dita yang telah dicampur dengan beberapa bahan yang aku tidak tahu apa saja.

Oh Tuhan, kenapa sepertinya aku merasa pulang? Derap Langkah membuat aktifitasku terhenti. Dita keluar dari kamar dan masuk ke kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Dita berjalan sempoyongan dan segera membuka kulkas. Ia membuka kulkas seolah tidak tahu jika ada aku yang duduk di meja sudut pantry. Kulihat ia meneguk air jeruk dari kulkas tanpa gelas.

Kusadari badan Dita turun lumayan banyak. Hal ini tergambar dari celana pendek yang dikenakannya dan atasan berenda yang membuat bagian tertentu tercetak sempurna apalagi ditambah cahaya temaram dari lampu pantry. Penderitaanku sungguh lengkap.

“Dita,” panggilku setengah berbisik. Dan Dita masih belum menoleh, ia masih meneguk air jeruknya seteguk demi seteguk.

Aku berinisiatif mendekatinya lalu memeluknya dari belakang. Dan, kali ini tubuhnya menegang. Seolah tersadar dari mimpi, Dita berusaha melepaskan pelukanku. Namun, aku memang memeluknya dengan kuat. Kami saling adu kekuatan. Jelas Dita akan kalah, tenaganya tidak seberapa besar dariku.

Namun ajaibnya Dita berhasil melepaskan diri. tapi aku tentu tidak tingal diam, aku mengejarnya sebelum ia sempat masuk Kembali ke kamar. Kupikir ini akan lebih mirip kartun Tom and Jerry. Karena saat aku berhasil lebih dahulu menghadangnya sebelum masuk ke kamar, dia berlari menghindariku ke belakang sofa. Kami bertatapan dalam diam. Aku tahu Dita paham maksudku dan tujuanku. Anehnya kami sama-sama tidak bersuara. Lalu sebuah suara menginterupsi.

“Papi sama Mami ngapain main kejar-kejaran? Manik juga ikutan dong,”ujarnya ceria.

“Betul..betul…,” sahut Gunda lalu berlari memeluk Dita.

Ah, sial kenapa mereka bangun sepagi ini?

======

Baca murah di KBM app.
Di Google juga ada. Cari namaku, lalu pilih sesuai judul, luka hati dita.

LUKA HATI DITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang