Asal istri dan keluargaku tidak boleh tahu 50
lepas insiden kejar-kejaran pagi buta antara aku, Manik dan Juga Gunda, kami bertiga akhirnya memilih tidur lagi. Karena Dita lebih milih masuk kamar dengan sejuta alasan kisah klasik untuk masa depan di wajah anak-anakku. kali ini aku tidur bersama Manik, anakku Manik mengemukakan protes karena aku hanya mau tidur bersama kakaknya.
Setengah jam kemudian setelah pembicaraan ngalor ngidul seputar dunia fantasy yang singgah di rumah atuk dalang kemudian yang nyasar di antah berantah lalu melipir ke vindafan, anak-anakku akhirnya tidur Kembali. Ah… mengingat momen tadi saat aku memeluk Dita, dan sempat melakukan inspeksi di beberapa tempat, makin membuatku sakit kepala karena hal yang aku tunggu-tunggu belum bisa kudapatkan.
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Rasanya kepalaku lebih sakit. Tubuhku terlalu berat untuk kuajak kompromi agar dapat bangkit. Napasku sangat panas. Aku berusaha membuka mataku, dan melihat Dita sedang membuka bajuku dan berusaha menggantinya dengan baju kaos kebesaran miliknya. Ah…aku suka wangi ini.
Mungkin aku sedang mimpi, tapi rasanya waktu berjalan sangat lamban. Beberapa kali Dita memanggilku namun sangat sulit bagiku buat menjawab pertanyaannya.
“Mas makan, makan dikit baru minum obat, oke? Kalau gak bisa kamu harus paksain. Aku cek beberapa menit lagi.”
Suara Dita terdengar jelas, sayangnya mataku masih sulit untuk membuka. Entah berapa lama waktu yang terlewat sejak suara Dita terdengar. Aku memaksa sekali lagi mataku terbuka, dan berhasil. Aku menenangkan diriku sejenak lalu bangun perlahan dan bersandar pada tiang ranjang milik Manik. Ah, semoga anak-anakku tidak perlu ketularan sakit yang kuderita.
Bubur kumakan tanpa sisi, beserta beberapa obat dan juga segelas air. Aku melihat baju dan juga celanaku sudah berganti. Ah…ya Tuhan, betapa mudahnya jika ada Dita yang mendampingi. Biasanya saat aku sakit, Ditalah yang mengurusiku seperti bayi. Bahkan aku ingat jika pernah terpaksa membuat Dita mengendarai mobil pagi buta demi membantuku meredakan sakit kepalaku.
Mungkin pada satu masa aku merasa jika Tuhan sedang menghukumku. Menghukumku karena pernah terlintas dalam pikiranku ingin mendukan Dita atau mencari penggantinya hanya karena perihal sepele. Aku mengungkit lima keburukan Dita, dan melupakan ratusan kebaikannya. Sungguh sangat tidak adil.
Lalu kurasakan Kembali sebuat tangan menyentuh keningku. Kali ini ada kain basah yang ditempelkan wajah dan juga leherku secara bergantian. Kuduga suhu tubuhku diatas tiga puluh Sembilan. Aku sadar kemarin kurang tidur, serta terlalu memforsir energi berlebih dalam menyelesaikan pekerjaan.
Aku membuka mata dan meilihat cara Dita melayaniku. Kurasa aku harus mengatakannya, “Dit, aku minta maaf,”kataku setengah berbisik. Namun tidak sekalipun Dita menjawab pernyataanku.
“Dita, aku dan Mentari sungguh tidak ada lagi yang harus dibicarakan, jadi, gak ada guna kamu ketemu Mentari sayang, apa kamu tahu Dia lagi sakit? Dan kamu pasti tahu karena hari itu kamu juga ikut melihatnya, bukan?”pancingku dengan suara pelan. Lagipula sepertinya pita suaraku juga sedang mogok, karena suaraku tidak dapat keluar secara optimal.
“Mending Mas pikir, sembuh dulu, tadi pagi Mas demam, Manik bilang badan papinya mirip setrika, panas, jadi aku langsung masuk dan memeriksa, ternyata benar.”
“Aku sakit karena mikirin kamu, sayang.”
“Paling malam atau nggak besok pagi udah sembuh, asal makan dan minum obat, aku punya suplemen yang bisa Mas minum, saat di rumah.”
“Aku maunya kamu pulang ke rumah kita.”selaku lagim, berusaha tidak mendengarkan penuturan Dita
“Aku sudah menelepon Bik Sati kalau Mas baru akan pulang besok jadi tidak perlu memasak,”lanjut Dita masih tidak peduli
“Aku pinginnya kamu yang rawat.”gumamku bebal
“Setelah ini baju bakalan ku laundry, biar Mas bisa pake saat pulang nanti.”
“Aku pengen nginap disni lagi, Dit, mungkin lusa baru bisa balik, sekalian langsung ke bandara, kita ke Kalimantan bawa anak-anak, ya?” kali ini pancinganku berhasil, Dita spontan melirikku.
“Anak-anak gak boleh ke Kalimantan, aku belum tahu situasi disana, dan bagaimana lahannya, aku gak bisa berjudi.”
“Dita, aku udah kesana, anak-anak tinggal di tempat yang aman, bawa tumbelina juga, jadi kita bisa fokus kerja tanpa ninggalin anak-anak.”
“Pokoknya aku gak mau bawa anak-anak, titik,” bantah Dita masih dengan sifat keras kepalanya
“Memangnya, siapa yang kamu harapin jagain anak-anak? Hanya bik Sati? Gak mungkin. Tumbelina? Pulang malam. Siapa yang nemenin mereka tidur kalau gak ada salah satu dari kita? Gak masalah mereka ketinggalan pelajaran, itu bisa dikejar, tapi masa kecilnya? Gak terulang,”jelasku kata demi kata, kurasa napasku mulai normal. Obat yang diberi Dita lumayan berefek, namun aku merasa begitu mengantuk.
“Ada adikku, ada Ibu juga, kan? Aku baru meminta Bapak datang,”bela Dita.
“Dit, kamu tahu ibu gak bisa ninggalin rumah lama, karena ada eyang, Bapakmu juga gak bisa duduk lama, apa kamu gak mikir sih? Kenapa keras kepala banget?”
“Aku gak bisa asal membawa anak-anak ke daerah rawan, Mas. Ini bukan buat uji coba, aku gak mau ah, gak papa aku balik rumah dua mingu sekali buat menemui anak-anak,”utas Dita lagi. Lalu hanya sepersekian detik saat aku terngat jika berada di kamar anak-anakku. dan mana mereka?
“Sudahlah, kita bahas malam lagi, kepalaku masih pusing, mana GUnda dan manik?”
“Lagi bermain sama tumbelina di bawah, terus lanjut renang.”
Lalu pikiranku seolah memberi sinyal SOS. Sinyal ini kutandai sebagai peringatan yang menunjukan peluang agar aku bisa menghabiskan waktu bersama Dita.
“Jadi, malam nanti aku bobo dimana Dit? Masa aku bobo sama anak-anak? Bukannya nanti mereka bakalan kena virus?
Hati kecilku berkata, waktunya akan segera tiba saudara-saudara. Mari bantu aminkan usahaku kali ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUKA HATI DITA
RomanceDita tidak menyangka jika perkawinannya dengan suaminya, Dygta akan berada diujung tanduk setelah semua yang dia korbankan, termasuk karirnya sebagai seorang dokter. Dygta tidak menduga jika wanita yang awalnya dia cintai sedemikian hebatnya bisa be...
