aku mengumpulkan semua keberanianku yang tersisa saat memaksa masuk ke apartemen wanita burket. Sungguh aku akan menggunakan kesempatan ini agar dapat menangkap basah kelakuan mereka. Aku tidak peduli raut penuh tanya di wajah Dr. Fadly, saat melihatku mengetuk pintu tak sabaran, aku yakin saat di dalam, dia pasti akan paham maksud dari perkataanku.
Seorang wanita membuka pintu lalu aku memaksa masuk saat menangkap sorot mata penuh kekhawatiran di wajahnya. Well aku tidak peduli, amarahku makin menjadi-jadi, apalagi saat menemukan Mas Dygta, dan…eh? Kenapa ada tiga orang di kamar ini?
“Kamu? Ngapain kamu, Dit, di apartemen ini?”
“Aku harusnya nanya ke Mas, ngapai disini? Hapal ya tempat ini? Oh jadi ini tempatnya?”semburku sinis dan hilang kendali, lalu mataku terpaku pada sosok yang terbalut selimut di atas kursi sofa. Seorang wanita cantik yang sedang menggigil sembari menggigit jari jemarinya. What? Apa ini?
“Sepertinya dia sedang sakau, Dit, dia harus segera di bawa ke rumah sakit,” sela Dr. fadly sontan memeriksa mata dan denyut nadi wanita di atas sofa.
“Rena, kamu siapain pakaian Mentari, dia harus segera di bawa ke rumah sakit sekarang juga, kita harus menolongnya,”putus Mas Dygta cepat.
“Tapi..tapi saya tidak tahu pak, dimana letak pakaian Bu Mentari,”
“Alah, kamu periksa aja semua kamar, masukin aja yang kamu rasa perlu,” sambung Mas Dygta lagi.
Mas Dygta lalu memandangiku bergantian dengan Dr. Fadly selama beberapa detik. Entah apa yang ada dalam kepalanya namun aku tidak berniat mencari tahu. Sedikit banyaknya tanpa dijelaskan aku paham apa yang sedang terjadi.
“Dit, ini gak seperti yang kamu pikirin, singkirkan semua pikiran kotor dalam kepalamu,
Justru aku yang ingin bertanya kenapa kamu ada disini?”
Aku menghela napas,”Aku mengecek apartemen yang di fasilitasi perusahaan, Dr. fadly yang membantuku.”
“Kamu mau pindah apartemen ?”Bisiknya sembari menarikku agak jauh dari tempatku berdiri.
“Kenapa? Panik karena aku bakalan sering melihat kalain bersama?,”bisikku sama pelannya
“Please, Dit, kamu lihat Mentari lagi sakit, jangan cari gara-gara.”
“Oh jadi wanita pecandu narkoba itu yang sedang kamu pacari?”
“Dita!! Cukup!”
“Kenapa Mas? Masih mau mengelak? Aku tidak bakalan berhenti seberlum kita bertemu enam mata, dia boleh tidak dalam kondisi fit, aku pasti akan menemuinya, dan mendapatkan jawaban darinya secara langsung, meski Mas menghalangi,”tuturku berapi-api
Kusaksikan wajah mas Dygta melunak. Ada kilat nakal kutangkap di sana.
“Dita, kamu se cemburu itu? Kalau cemburu seharusnya kamu balik di rumah dan kita selesaikan masalah kita, kamu gak kasian apa, aku tidur sendiri gak ada yang ngurusin?,”tambahnya lagi tanpa rasa bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUKA HATI DITA
RomantikDita tidak menyangka jika perkawinannya dengan suaminya, Dygta akan berada diujung tanduk setelah semua yang dia korbankan, termasuk karirnya sebagai seorang dokter. Dygta tidak menduga jika wanita yang awalnya dia cintai sedemikian hebatnya bisa be...
