Bagian 42

1K 81 3
                                        

Asal istri dan keluargaku tidak boleh tahu 42

Malam makin gelap saat aku kembali ke rumah. Aku melempar semuanya dengan asal-asalan saking jengkelnya, setelah menyalakan lampu kamar. Kejadian sore tadi masih terbayang di kepalaku dan membuatku memaki diri karena terlalu bodoh jadi lelaki. Harusnya aku bisa menahan diri dan mengusahakan Dita nyaman denganku. Bukan dengan mengedepankan emosi. Poor Dygdaya Aditya, riwayatmu akan benar-benar tamat jika tidak bergerak cepat memperbaiki semuanya.

Saat aku membuka tudung saji, terlihat lauk pauk beserta hidangan di aats meja, dulu Dita mampu meramaikan hidangan meski dengan menu sederhana, Dita memang tidak begitu pintar memasak, namun dia pandai menutupi kekurangannya dengan hidangan tambahan yang dia bisa. Misalnya saat aku ingin makan ayam bakar masak cabe ijo, dia pasti meminta Bik sati memasak tetapi tetapi tetap mengontrol rasa agar sesuai sama seleraku. Diatas meja selalu tersedia dua macam sambel, dan dua lauk, tak jarang aku menghabiskan semuanya sekaligus. Herannya, dulu aku tidak menganggap itu berarti, aku menganggapnya adalah hal yang sangat biasa, namun seiring berjalannya waktu, aku tahu semua yang dilakukan Dita sudah sempurna. Hanya aku yang tidak bisa menilai dengan baik. Aku membiarkan masalah terus berlarut-larut dan memilih mendiamkannya. Awalnya aku pikir menyelesaikan masalah di tempat tidur  akan membuat masalah diantara kami bisa terpecahkan seiring dengan berjalannya waktu.

Ternyata aku keliru, tidak semua masalah bisa terpecahkan di tempat tidur. Mungkin ada pasangan yang berhasil, banyak, tapi tidak efektif untukku dan Dita. Karena saat aku marah-marah dan Dita membalasnya, ketegangan diantara kami memuncak, aku lebih memilih pergi dan sibuk dengan urusanku. Lama kelamaan itu menjadi kebiasaan, bahkan aku berada di taraf merasa gengsi jika harus merendahkan diriku lebih dulu meminta dilayani oleh Dita diatas ranjang. Disinilah semuanya bermula, kami sama-sama lelah, dan akulah yang paling egois.

Jika kembali mengingat bagaimana Dita harus membagi waktu dan mengurus keluargaku, lalu malamnya mendapatkan perlakuan tidak adil dariku, tak jarang aku menyinggungnya, mencari kesalahannya, anehnya meski kami bermasalah Dita selalu dan selalu memanggilku dengan sebutan Papi, dia tidak pernah tidak hormat padaku. Dia masih merapikan bajuku, memastikan semua pakaian kerjaku siap pakai, sepatuku bersih. Hanya satu saja, hanya satu hal dan itu membuatku lupa semua hal yang dikorbankan Dita untukku. Kadang aku tidak percaya, aku menyandingkan rumah berantakan, penampilannya yang tidak enak kulihat, lalu melupakan puluhan kebaikan yang dia lakukan untukku, menjaga keluargaku, mengurus anakku, menyiapkan vitamin untukku, jadi dokter pribadi keluargaku. Ya Tuhan. Aku hanya mohon, jangan putuskan jodohku dengan Dita. Aku mohon.

Aku masuk lift terlebih dahulu beserta beberapa manager yang kebetulan bertemu di parkiran. Mataku melebar saat melihat Dita juga ikut naik ke lift, dan menekan tombol angka delapan. Ya, itu ruangan Direktur sumber daya, syukurlah bukan lantai dua belas. Kali ini Dita memakai kemeja atasan pink dan rok putih, hellsnya juga warna pink. Sejak kapan Dita, begitu maniak terhadap mode? Sejak kapan? Ada beberapa staf dan manager di hadapanku sehingga tidak bisa melihat dengan jelas raut wajah Dita.

Saat tiba di  lantai enam, kulihat Dita mundur seolah mempersilahkan beberapa orang lewat. Instingku bekerja, hanya butuh tujuh detik. Yah paling tujuh detik, saat memastikan semua sudah keluar dari kotak besar ini. Secara cepat aku sengaja menaruh satu tangaku tanganku di belakang lehernya, dan dengan kakiku menahan lift, hingga membuatnya berbalik. Cup. Berhasil. Bibir kami bertemu. Aku butuh waktu dua detik saat kembali mengecupnya cepat, sebelum dia sadar. Setelahnya, aku bergegas keluar dari sana seolah tidak terjadi apa-apa, Masa bodoh. Dita istriku.

Aku berusaha menenangkan diriku sendiri dengan menarik napas secara perlahan-lahan. Insiden di lift menurutku sangat tidak terduga. Mas Dygta bertindak seolah sudah biasa melakukannya. Shok? Panik? Paniklah, masa ngak.  Tujuanku ke lantai delapan karena ingin mengambil Salinan daftar karyawan yang akan melakukan Medical Cek Up besok, tak disangka ternyata ada Mas Dygta berada satu lift denganku. Sebenarnya bisa saja Salinan diberikan melalui email, hanya  saja data mutakhir karyawan yang hadir hari ini berbeda dengan yang diberikan dua hari kemarin, makanya aku perlu secara langsung mengetahuinya dengan cepat. Lagipula tidak butuh waktu sepulu menit sekalian aku ingin menyarahkan proposal kebutuhan klinik dia Kalimantan.

Saat standbye di ruanganku, aku melihat ada yang aneh, karena ternyata hingga masuk jam makan siang, seluruh staf Mas Dygta telah menyelesaikai Medical Cek Up, anehnya karyawan bernama Mentari Purnamasari, absen menghadiri MCU, dan akan dijadwalkan kembali lain waktu. Aku tahu ini pasti ada hubungannya dengan Mas Dygta. Dia pasti sengaja mengaturnya dengan baik, sehingga ada insiden di lift tadi sebagai permohonan maaf. Mungkin, dia berpikir dengan memperlakukanku secara manis, aku akan berubah pikiran dan berhenti mencari tahu.

Mas Dygta salah besar karena sampai kapanpun, aku akan memastikan bertemu wanita itu empat mata lalu berlanjut enam mata bersama Mas Dygta. Aku ingin lihat sejauh mana mereka bisa mengelak. Saat sore hari, aku memang sudah janjian dengan dr. Fadly untuk melihat apartemen yang bisa kutinggali sementara yang letaknya tak jauh dari perusahaan. Sebenarnya hal ini akan membantuku agar lebih mudah sampai di rumah dan bertemu anak-anak. Aku sudah membicarakannya juga dengan Tumbelina, dan tidak masalah jika dia harus mengantar anak-anak dengan jarak yang bertambah tujuh kilo dari biasanya.

“Gimana Dit, apartemennya? Bagus kan? Tiga kamar lo, lantai dua puluh,  ini keren, ada juga lantai sebelas, tapi hanya dua kamar, terserah kamu mau pilih yang mana sih, semua ada plus minusnya, senyaman kamu aja,”terang dr, Fadly saat  kami telah menghabiskan waktu lima belas menit meneliti apartemen tipe luxury ini. Sebutanku luxury, karena semua furniturnya nuansa mediteranian, dindingnya di dominasi warna kalem, seperti grey dan coklat tua, aku tahu ini bukan apartemen biasa, kalau dr. fadly yang harusnya disini, aku yakin dia bukan orang biasa. Bukan hanya sekedar sepupu biasa.

“Ini kebesaran sih Dok,”kataku jujur

“Loh, kamu punya anak dua, ada si tumbelina juga, cukup tiga kamar, besok-besok suami kamu datang kalian baikan, yah minimal gak ada yang bakalan ganggu,”ucap Dr. fadly tenang. Aku sampai tertawa melihat caranya yang kelewat serius dalam menanggapi sesuatu. “Ada yang lucu?” sambungnya lagi.

“Nggak lucu sih, tapi cara Dr. Fadly ngomong itu, sama datarnya, minim expresi, kalau bukan orang yang kenal baik, pasti mengira Dr. fadly lagi marah atau lagi bete, udah, yuks ke lantai sebelas, kali aja yang dilantai sebelas lebih sesuai sama kastaku.”panggilku dan berjalan lebih dulu meninggalkan kamar dan menuju lift.

Saat tiba di lantai sebelas aku mengikuti dr.Fadly dan salah satu pengelola apartemen yang sejak tadi menunggu kami saat dilantai dua puluh. Aku masih berjalan secara santai dan berubah menjadi perlahan saat mengamati dari jarak dekat, sosok seorang pria tengah berdiri menghadap pintu apartemen. Aku mengenal baju, dan juga postur tubuhnya dengan sangat baik.  Dia terlihat mengetuk lalu memencet bel. Saat pintu terbuka, aku melihat  dan mengenali dengan jelas saat Mas Dygta masuk ke dalam dan pintu menutup sesudahnya.

Lalu aku hanya bisa terdiam tanpa suara, kakiku sulit untuk digerakkan. Sepertinya duniaku akan segera runtuh.

Hatiku sakit.

LUKA HATI DITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang