Bagian 41

2.2K 97 3
                                        

Asal istri dan keluargaku tidak boleh tahu 41

Keadaan begitu canggung. Atmosfer jauh dari bersahabat. Aku merasakan banyak bom yang akan segera meledak saat menyaksikan adegan di depan mataku. Semua berlangsung cepat saat Deny memaksa pergi, pak Pria menahannya, lalu memintaku menjaga Rama.

Aku panik saat melihat bagaimana Deny menampar Pak Pria tanpa rasa takut. Membayangkan jika Deny akan mendapatkan tuntutan ganti rugi sungguh membuatku panas dingin, well apa yang terjadi sebenarnya? Aku tidak tahu. Karena hingga jam menunjukkan pukul tujuh malam, tidak ada tanda-tanda pak Pria menjemput Rama.

Saat jam menujukkan pukul delapan lewat barulah ketukan di pintu terdengar. Pak Pria kembali dengan tampang wajah yang sangat kaku. Aku jujur menjadi serba salah.

“Kamu kenal Samantha, Dit?”

Wajahku melongo, Samanta? Emang ini jaman telenovela, Samantha?

“Duh tungguh dulu pak, Samantha? Samanta siapa pak?”

“Yang tadi, Dita, Samantha, kamu pakai jasanya ya? Kamu biasa pake jasa dia mijit atau gimana?”

Aku makin tercengang. Jasa? Mijit? Emang benar kami jualan jasa, tapi mijit? Andai kami fisioterapi anggapan itu boleh jadi. Astaga Deny, kamu bikin masalah apa? Tapi aku gak mungkin mengkhianti Deny.

“Ehh saya jujur gak bisa beritahu banyak, Pak. Sungguh. Gini aja, bapak bawa Rama dulu, tadi saya sempat hubungi pengasuhnya juga, tapi gak diangkat, ada baiknya bapak bawa Rama dulu, setelah itu baru Bapak bisa tanya apapun,”bujukku berusaha mengulur waktu. Sorot mata Pak Pria seolah tahu aku tidak nyaman dengan pertanyaan ini. tetapi, aku pada akhirnya mendesah lega saat melihat  Pak Pria pamit lalu menggendong Rama keluar. Hanya butuh waktu beberapa detik saat Secapat kilat aku mencari ponsel dan menelpon si Samantha jadi-jadian. Dan benar saja, teleponku diangkat pada dering pertama.

{Den, gila, kamu kenapa sebenarnya? Jantungku rasa-rasanya di bawa pak Pria, kalian kenapa sih? Aku gak ngerti, ada apa ini} kataku tanpa jeda, lalu terdengar helaan napas dari sebrang sana

{ceritanya Panjang, Dit, aku janji bakalan cerita, hanya aku minta banget sama kamu tutup mulut, dan jangan cerita apapun dulu, terutama soal profesiku, kamu juju raja udah kusumpahin dan gak bisa bilang apapun}

{Duh, nyai, dr. fadly sepupu pak Pria, kamu udah tahu belum?}

{Oh no, nggak Dit, aku gak tahu, astaga…gimana ya,}

{Kamu cerita deh ada apa sebenarnya, secara singkat aja, aku mati penasaran kalo gini namanya}

{duh, oke, secara singkat aja, jadi, kamu ingat waktu kita kuliah, aku sempat cuti tiga semester? Nah itu ada hubungannya dengan Pak pria} aku kehabisan kata-kata. Masih sulit buat mencerna semua informasi yang kudengar

{Hah? Seriusan Den? Gila jaman kapan itu? Sepuluh tahun yang lalu, gila)

{gak juga, Sembilan tahun yang lalu} jawabnya santai

{Terus?}

{Intinya Kerjasama batal, si Pria mu berkhianat, aku pergi. Udah selesai.}

{Tunggu, aku masih gak ngerti, Deny, tolong bantu aku buat paham}

{Duh, intinya setau Pak bos mu, aku itu Samanta tukang pijitnya, kami punya kesepakatan, secara gak langsung bikin dia mikir profesiku yang emang tukang pijit, kamu masih ingat Romiro yang punya SPA, itu kan? Nah, aku kerja di SPA punya dia, part time gitu, bayangin aja jaman kita kuliah sejam aja aku bisa dapat lima puluh ribu belum dihitung tips,}

{Ya iyalah, Miro, kita sempat jalan bareng, juga. Cuman aku gak nyangka kamu bisa punya keterkaitan dengan dia, duhh jadi aku mesti jawab apa nih kalau nanti atau besok dia datang lagi?}

{Jawab aja, kamu gak diperbolehin ngomongin apapun, oke? Ingat namaku Samantha. Nanti aku yang ngomong sama Dr. Fadly, lagian gak mungkin juga dokter kontrak ceban macam aku yang dibayar cuma buat ikut bantu medical chek Up laporannya harus ke direktur utama, iya kan? Intinya kamu jangan ngomong, aku yang bicara ke Dr. fadly, oke?}

{Astaga Den, kamu bikin masalah baru, terus Miro udah tahu?}

{Tahu apa? Ya jelas dia tahu,  Selama ini dia yang bantu nyembunyiin identitasku, makanya aku aman-aman aja, udah, itu masalah udah lewat, expired kadaluarsa, jangan lupa kamu wajib meriksa si taripang burket itu besok, aku tutup dulu ya}

Aku terdiam tanpa kata mendengar Samantha jadi-jadian menutup telpon. Ya Tuhan. Aku dalam masalah besar. Benar-benar besar.

Keesokan paginya saat aku melihat daftar nama karyawan yang kena giliran mendapatkan Medical-Cek Up, Ada staf dari bagian pemasaran monitoring dan evaluasi dengan jumlah dua belas orang. Salah satunya ada yang bernama Mentari.  Aku menutup daftar itu lalu membagi daftar karyawan. Dan tentu saja, Mentari masuk dalam daftar pasienku.

Lets see, secantik apa wanita ini.

=======

Di sini maksimal hanya sampai bab 50 ya.
Promonya masih ada sampai tanggal 20. Kalian gak nyesel kok baca

LUKA HATI DITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang