Bagian 39

1.3K 97 17
                                        

Dadaku berdebar lumayan cepat bahkan setelah proses medical chek-up berakhir. Senyum wanita di hadapanku ini tak pernah hilang. Entah kenapa aku berpikir jika dia sudah lama menantikan saat-saat untuk menyiksaku. Dan sepertinya, momennya sangat tepat.

“Hasilnya akan keluar satu kali dua puluh empat jam. Pak Dygta, udah boleh kembali, atau ada yang mau ditanyakan lagi?,”ujarnya retoris saat membalas tatapanku.

“Saya pikir cukup. Terima kasih,”dustaku lalu berjalan keluar meninggalkan ruangan.

Sepanjang perjalanan menuju lantai enam, aku kembali di halau perasaan tak tenang memikirkan ucapan wanita jelmaan “kunti” tadi. Senyum boleh manis, tampang oke, tapi niatnya udah kelihatan dari senyumnya. Ngeri. Saat keluar dari lift dan melewati beberapa meja staf, aku bertemu Rizwan yang bercakap-cakap di meja Mentari. Yah, baguslah, setidaknya Rizwan lebih sesuai dengan kamu. Tapi, jujur aku harus memberitahu Mentari apa yang akan dia hadapi. Kupikir tidak adil jika karena sesuatu yang aku juga turut andil di dalamnya, menjadikan Mentari sebagai satu-satunya korban.

Sebenarnya jika mau lepas tangan, aku bisa saja menyalahkan Mentari atas hubungan kami yang sudah berakhir. Sedangkan sebuah hubungan  hanya akan terjalin jika ada kesepakatan kedua belah pihak. Aku harus mencegah bagaiamanapun caranya Dita bertemu Mentari. Entah itu dengan merekomendasikan Mentari kembali di kantor cabang atau berpindah divisi.

Bukannya aku tidak percaya Dita. Bukan. Melibatkan Mentari pada sesuatu yang seharusnya tidak dia campuri adalah alasan aku mengambil kesimpulan demikian. Mentari bukan bagian dari aku maupun Dita, retaknya hubungan kami bukan karena Mentari, tapi, dalam hal ini akulah yang bersalah. Aku yang melakukan kesalahan karena malakukan pengkhiantan, meski tidak sampai kebablasan.

“Sore Pak, gimana hasil medical cek-up? Besok giliran kami nih para staf, ada yang perlu kami siapkan, Pak?,” sambut Rizwan saat melihatku berada tak jauh dari mereka.

“Santai aja sih sebenarnya, gak sampai setengah jam, hanya wajib puasa, baca aja semua syarat yang dikirim via email, beredar juga di pesan whatsapp kalian, gak ada kiat khsus, kecuali kamu punya penyakit lain yang mesti kamu tutupi, mending kabur sekalian, atau cari alasan buat gak ikut pemeriksaan,”kataku santai.

“Amit-amit deh, Pak. Saya masih prima, sehat pula, pola hidup sehat sejak lama. Udah pasti ikut cek up rutin besok,”sambung Rizwan dengan semangat menggebu. Lalu aku melirik ke arah Mentari yang tampaknya mengalihkan pandangannya kea rah computer.

“Jadi, gimana Mentari? Draft kegiatan kemarin udah kamu perbaiki? Format lengkap udah harus masuk ya besok di meja, aku periksa dulu sebelum di send ke Pak tagor buat fiksasi anggaran.”

“Baik, Pak.”

“Kamu, baik-baik saja kan?,”tanyaku saat melihat ada yang aneh pada Mentari. Ada yang salah dengannya.

“Saya baik-baik saja, Pak. Hanya kurang enak badan,”jawabnya

“Istirahat yang cukup, semisal besok gak bisa medical Chek-up, sampaikan ke Rena, biar jadwal kamu di re-schedule.”

LUKA HATI DITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang