Bagian 48

1.7K 74 1
                                        

Asal istri dan keluargaku tidak boleh tahu 48

Awalnya aku masih mencerna perkataan Deny, saat menyadari ternyata aku sedang tidak baik-baik saja. Bahkan jauh dari baik-baik saja. Pernyataan Deny berarti sesuatu bagiku. Tapi, jika sampai sekarang tidak ada pergerakan dari Mas Dygta, dan Dr. Fadly, otomatis seluruh hasil MCU tempo hari bisa dikatakan bersih alias tidak ada penyakit mengancam lainnya. Jika ada, Dr. Fadly orang pertama yang akan bertindak saat itu terjadi.

Artinya Mas Dygta benar-benar tidak tertular virus itu bukan? Aku menyesali diri tidak melihat hasil MCU mas Dygta. Ya, tenang Dita, calm down. Semua aman terkendali, tidak ada yang terjadi. Ya, tidak ada.

“Kamu kenapa sih dit? Kok pucat gitu?”

“Oh..itu Den, aku masih mikir, anak-anakku selama sebulan harus dimana, aku gak tenang jika gak ada anggota keluarga, apalagi sampe ninggalin mereka tanpa aku atau Mas Dygta,”jawabku mengalihkan pembicaraan.

“Iya juga sih, kamu bakalan serba salah kalau gini, saranku karena ini tentang anak-anak kamu, ya kamu harus bicarain berdua sama suamimu, gak bisa ambil keputusan sendiri, kecuali disini kalian udah pisah, yah sah-sah aja mutusin sendiri.”

“Iya Den, itu juga yang kupikirin, pilihannya memang aku harus ketemu langsung sama Mas Dygta besok buat omongin semuanya.”

Sepanjang malam kami mengobrol tentang banyak hal, tentang klinik, tentang masalahku, tetang Miro yang sekarang sibuk dengan salonnya di Jogja, sayangnya tidak ada tentang pak Pria, didalamnya. Deny sepertinya menutup rapat akses untuk itu.

“Den, kapan kamu mau cerita, detail kamu bisa kenal sama Pak Pria, kalian ada hubungan apa, dan kenapa bisa dia gak tahu siapa kamu,”pancingku, dan seperti yang kuduga aku menerima tatapan mata mengintimidasi dari Deny.

“Kamu yakin kalau aku cerita kamu bakalan tutup mulut, dan gak bakalan bocorin ini ke siapa-siapa?”

“Yakin Den, demi Tuhan, aku gak bakalan cerita,”ucapku yakin. “lagian buat apa?” tambahku.

“Kamu tahu kan, dulu gimana kondisi keluargaku? Adikku meninggal, ibuku juga meninggal, mereka ninggalin hutang  buatku, dulu aku sempat berpikir Tuhan itu kejam karena membuatku terus menerus tersiksa, bahkan aku sampai merasa ingin bernapas juga sulit, untung aku kenal dengan Miro, pulang kuliah aku langsung bekerja di SPA punya dia sampai malam.”

Ya, aku ingat. Dulu diantara teman seangkatan, perilaku Deny sangat berbeda, beda dari pada teman kebanyakan, memang cukup mencolok karena mayoritas anak kedokteran apalagi swasta identik dengan keluarga menengah keatas.  Sebagai penerima beasiswa dan ketahuan dari keluarga tidak berada, anggapan teman-teman terhadapa Deny kadang tidak adil.

“Aku tidak punya pilihan kala itu, ingin mundur, aku tahu itu akan makin membuat ibu yang sudah susah payah menyekolahkanku akan kecewa, jadi pilihannya aku bekerja sembari mengumpulkan uang agar dapat terus kuliah. Lalu semuanya dimulai. Saat Miro tidak ada, aku diminta salah satu manager SPA buat mendatangi rumah klien, HOME SPA SERVICE. Awalnya kupikir klien adalah wanita, ternyata pria. Biasanya aku hanya mau menerima klien pria jika itu dikerjakan di salon, tidak menerima jika home service. Waktu itu, besar keinginanku buat menolak, tapi posisiku sangat tidak baik jika semua hal harus bergantung pada Miro.”

LUKA HATI DITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang