Bab 38

1.2K 94 12
                                        

Aku mengambil tissue dalam jumlah banyak di meja yang terletak di hadapanku, lalu segera ke toilet. Ternyata aku benar-benar mimisan. Syukurlah tidak banyak. aku mendesah setengah frustasi, kepalaku pusing. Tetapi, Aku sadar harus segera kembali bersama mereka agar dapat mendengar secara langsung pendapat pak Pria. Ya Tuhan, Dita, sayangku please, akhiri semua kegilaan ini.

“Nurut Pak Tagor, berapa persen kemungkinan lamaran saya akan  diterima?”

“Sembilan puluh persen, Pak. Siapa yang bisa menolak Pak Pria. Bahkan artis juga ngejar ngejar Bapak,”jawab pak Anggara menyela ucapan pak Tagor.

Aku menelan ludah dengan sulit. Air, mana air?

“Nah, Pak Anggara saja bilang Sembilan puluh persen, Pak. Harus gencar Pak, kalau perlu kenalan sama orangtuanya juga, Pak.”tutur Pak Tagor dengan kebahagiaan yang tidak ditutupi.

“Hanya saya belum ketemu orangtuanya sih, jujur aja, dr. Andita itu pintar, paling enak diajak diskusi, pengetahuannya luas, dan yang utama berisi Pak. Saya kurang suka wanita kurus, kalau di peluk gak ada rasanya,”ujar Pak pria dan disambut tawa oleh yang lainnya.

Kurasa ada yang sedang berperang dalam dadaku.

“Nurut Bapak, apa yang bikin Bapak tertarik sama dr. Andita, selain pintar dan juga menarik?”kejar Pak Anggara.

“Hmmmm…senyumnya, sama  kopi buatan dr. Andita enak, saya juga pernah makan masakan dia bareng sama dr. Fadli, dia jago masak, terus apa lagi ya? Oh iya, dia bisa ngambil hati anak saya, Rama.”

Rasa-rasanya ada yang menusuk jantungku dari sisi depan dan juga sisi belakang. Pak Pria udah punya anak? Duda?

“Nah, apalagi yang Bapak tunggu, Pak. Keburu dilambung orang, Pak.” Tambah pak Nandar salah satu pimpinan direksi.

“ Saya nunggu kode keras dari dr. Andita, Pak. Kan gak enak kalau belum dikasih kode, ya minimal saya nangkap dia ngasih saya kesempatan,”sambung Pak Pria lagi.

“Terus gimana kalau misalnya dr. Andita udah punya calon, Pak?”

“Nah, itu, tapi sejauh ini, kalau saya ketemu dia di apartemen, gak ada calon atau hal yang mencurigakan yang mengarahkan dr.Andita udah punya pasangan.”

Ya Tuhan Dita, pak Pria bahkan udah sampai datangin kamu? Sedangkan aku? Mau minta jatah aja sulit. Ini tidak bisa dibiarkan.

Aku memandang satu persatu wajah para belasan manager dan pimpinan direksi serta beberapa kepala bidang yang tengah berkumpul di ruangan meeting lantai dua, bersebelahan dengan klinik perusahaan. Salahku selama lima tahun terakhir tak sekalipun mengajak Dita ke acara perusahaan. Bahkan acara gatering sekalipun. Awal-awal pernikahan kami, aku disibukkan dengan urusan pekerjaan, sedangkan acara nikah dan resepsi dilangsungakan di Jogjakarta, aku hanya mengumumkan pengumuman secara kekeluargaan dan tidak mengundang banyak pihak. Semuanya salahku.

Lalu tak lama kurasakan seseorang membuka pintu ruangan meeting, terlihat pria yang kukenali sebagai dr. Fadly serta Dita memasuki ruangan secara bergantian dan terlihat membicarakan beberapa hal dan menjelaskan prosedur.

“Bu, dokter, pak Pria minta di periksa duluan tuh, kalau bisa sama ibu dokter aja, gak usah yang lain katanya,” cetus Pak Anggara dan disambut teriakan oleh yang lain. Aku…perasaanku sungguh sangat nelangsa dan tidak enak tentang ini.

“Iya, Pak. Memang jadwalny Pak Pria yang lebih dahulu, mari, Pak Pria ikut dengan saya.” Ucap Dita sopan.

“Cie Pak Pria, kekep Pak. Jangan sampai lolos.”

“Kalau ikut saya ke penghulu aja gimana Bu dokter?”

Jantungku berdetak kencang. Sekencang sorak dan teriakan orang orang yang berada dalam ruangan. Untung Pak Tagor menengahi dan mempersilahkan Pak Pria keluar dari dalam ruangan lebih dulu lalu di susul Dita kemudian. Perasaan aku tidak memiliki riwayat penyakit asam urat tapi mendadak semua persendianku keram, kakiku ngilu.

Dua jam kuhabiskan dengan menghayal selama menunggu giliran. Saat salah satu staf klinik memanggil namaku, aku bergegas masuk ke dalam ruangan dan menutup tirai. Namun, aku sangat terkejut saat melihat bukan Dita yang berada di belakang meja, melainkan orang lain. Tapi, sepertinya aku pernah menemuinya. Tapi, dimana?

Anehnya saat memeriksaku dan melihat seorang perawat memeriksa tekanan darahku, ia terlihat tersenyum seolah tahu isi kepalaku. Tunggu, apakah dia menertawaiku? Siapa dia?

“Maaf Bu Dokter, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” ucapku jujur lalu sedikit terkejut saat menyaksikan tawanya makin lebar.

“Kenalin pak, Saya Deny, temen Dita, waktu itu awal-awal nikah masih sering ngantar pulang Dita, dulu sempat datang juga di Jogja waktu nikahan bapak.”

Bagai angin segar serta air yang masuk ke leherku setelah berhari hari puasa. Kata-kata wanita bernama Deny, seakan OASE bagiku. Ya Tuhan apakah ini salah satu tanda kebesaranmu?

“Syukurlah, tolong kamu bantu aku, yakinkan temanmu agar mau pulang ke rumah,” sahutku jujur tanpa basa-basi.

“Bapak yakin masih sayang sama Dita?”

“Yakin. Kalau tidak, buat apa saya bilang begini? Hanya Tuhan yang tahu bagaimana saya menyesal telah mengijinkan dia pergi meninggalkan rumah,”jelasku pada Deny.

“Tapi bagaimana cara saya bantu bapak?’

Akhirnya ya Tuhan, ada peluang.

“Pasti kamu tahu caranya, sampaikan saja kamu dukung dia pulang ke rumah baikan dengan saya, pokoknya apapun bisa kamu lakukan aasal Dita pulang bersamaku secepatnya,”ucapku tak sabar. Aku yakin, Deny adalah malaikat penolongku. Aku yakin.

“Masalahnya, Dita justru minta aku memastikan jika saat medical chek besok, Dita yang bagian meriksa selingkuhan Bapak.”

“Ha? Apa maksud kamu?”

“Dita, minta, karyawan atas nama Mentari, harus dia yang melakukan Medical cek-Up besok,”sahutnya disertai dengan senyum yang sangat manis tapi bagiku begitu sangat menakutkan.

Ya Tuhan kutarik kembali doaku. Wanita ini bukan malaikat. Kurasa dia siluman. Aku butuh ventilator eh? Kaburator? Simulator?

Aarrgghhhjjj!!!

========

LUKA HATI DITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang